Mengeluh, Bukan Tidak Mau, Hanya Tidak Sempat

image

Pulang kampung, rasanya berbeda antara yang rutin mingguan dan yang ketika lebaran alias mudik. Pulang kampung seminggu sekali serasa sebuah rutinitas yang menyenangkan sekaligus membosankan. Menyenangkan karena bisa sejenak beristirahat dari pekerjaan. Membosankan karena ya gitu-gitu saja. Jumat sore meninggalkan tempat kerja, dini hari sampai rumah, besok tidur, makan, tidur, futsal, makan, tidur, kemudian kembali ke tempat kerja. Sementara ketika lebaran ada sedikit selingan dengan menemui orang-orang yang biasanya sama-sama di rantau. Orang-orang yang biasanya hanya bisa disapa melalui media sosial. Kini dapat bertatap muka dan melihat ekspresi saat berbicara. Menyenangkan sekali bukan?

Lebih menyenangkan lagi jika bisa menemui orang yang biasanya hanya bisa kita kagumi lewat dunia maya. Seperti saat ini. Saya berada di rumah yang bagi saya begitu hidup. Rumah yang selalu memberi semangat menjalani hidup yang katanya perjuangan itu. Perjuangan tanpa keluhan. Bukan tidak mau hanya tidak sempat. Karena setiap detiknya berisi perjuangan.

Deretan motor tua, onggokan spare part motor di ruang tamu, dan tembok yang penuh coretan anak bercampur bekas-bekas tangan berlumur oli. Menjadi saksi dari pekerjaan tangan tentang kesempurnaan. Belum berhenti jika belum mencapai batas kemampuan. Sekali lagi tanpa keluhan, bukan tidak mau, hanya tidak sempat.

image

0 Responses to “Mengeluh, Bukan Tidak Mau, Hanya Tidak Sempat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: