Archive for July, 2019

Paradoks dalam Pendidikan Vokasi

Paradoks #1 dalam Pendidikan Vokasi: Biayanya tinggi, peminatnya rendah.

Paradoks #2 dalam Pendidikan Vokasi: Penyokongnya sendiri tak mengirim anaknya ke Pendidikan Vokasi. Seperti lelucon sarkas yang diteruskan Andreas (PISA): “Pendidikan Vokasi bagus untuk anaknya orang lain.”

Paradoks #3 dalam Pendidikan Vokasi: Pelibatan Teknologi dalam industri semakin hari semakin cepat, mengusik tatanan lapangan kerja super pesat. Pekerjaan hari ini, hilang esok. Lalu Kejuruan harus sepraktis/sespesifik apa? Semakin spesifik, semakin cepat tak relevan. 

Untuk masa depan yang kabur dan tak menentu, membekali lulusan dengan kecakapan spesifik/khusus/sempit akan menjadi malapetaka. Besar kemungkinan kecakapan yang disiapkan ternyata kedaluwarsa saat lulus. Untuk masa depan yg tak jelas dan berubah super cepat, bekal kecakapan terpraktis ialah kecakapan paling teoritis. Demikian pesan Robert M. Hutchins. Bisa jadi, pendidikan kemanusiaan yg abstrak dan teoritis seperti Filsafat, Sejarah, Sastra, dsb justru lebih praktis di era ini. 

Paradoks #4 dalam Pendidikan Vokasi: Robot, Algoritma, dan AI mengubah industri (dan kehidupan) secara masif dan cepat, menyerobot pekerjaan yang tadinya dikuasai manusia. Maka, perlu menciptakan pekerjaan baru yang tidak berdasar kognitif prosedural, rutin, maupun berulang. Menciptakan pekerjaan baru memerlukan kreatifitas, keluasan wawasan, kegigihan, berpikir kritis, dsb. Lha, ini semua justru yang ditekankan di pendidikan umum. Bahkan liberal education justru menekankan kecakapan ini. 

Paradoks dalam kecakapan masa depan: Semakin khusus, semakin cepat kedaluwarsa. Semakin umum/abstrak, semakin bertahan relevansinya di masa depan. 

Kalau keterampilannya kita dulu hanya spesifik pakai Lotus, WordStar, Word Perfect, Chi Writer, FORTRAN, BASIC, dsb. maka hari ini keterampilan itu semua sudah bablas. Tetapi kalau yang dipelajari adalah HOW TO LEARN new things, maka teknologi boleh berubah, kita tetap siap. 

Pendidikan Vokasi baik, tetapi bukan obat mujarab untuk membenahi kesejahteraan bangsa. Pendidikan Umum juga sama baiknya. Juga bukan obat mujarab. Mungkin yang perlu digarisbawahi “Pilih jenis keterampilan/kecakapan yang memang untouchable.” Pendidikan kejuruan seperti Tata Boga, kemungkinan besar akan bertahan. Kejuruan seperti Tata Boga memerlukan kognitif tak rutin. Ini membuatnya untouchable. Ini akan aman. Tetapi kejuruan yang menekankan kognitif rutin justru cepat basi, diganti app.

P.S. Disalin dari twit @iwanpranoto 

 

 

Advertisements

July 2019
M T W T F S S
« Oct    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Advertisements