Cara Assessment Bencana yang Oke

Sembilan hari Saya berada di Palu melakukan assessment terdampak kejadian gempa, tsunami, dan likuifaksi. Hal yang dilakukan ketika melaksanakan assessment adalah mendata sebagai berikut:
1. Jumlah rumah yang rusak ringan/sedang/berat di satu daerah beserta dokumentasinya
2. Jumlah dan nama fasilitas umum yang rusak
3. Jumlah dan nama fasilitas kesehatan yang rusak
4. Jumlah masjid/tempat ibadah dan nama yang rusak
5. Jumlah warga yang mengungsi
6. Jumlah korban luka dan meninggal
7. Masukan dan usulan bentuk bantuan untuk warga setelah melihat lapangan

Untuk poin nomor 7 dapat diperdalam lagi menjadi jenis-jenis bantuan sesuai program yang telah ada. Seperti misalnya bantuan logistik, air bersih/sumur bor/pemipaan, rumah hunian permanen/sementara, pembangunan/perbaikan rumah ibadah, atau gabungan dari beberapa jenis bantuan.

Jenis bantuan apa yang cocok untuk tempat dan waktu tertentu itu ditentukan oleh keakuratan data yang dikumpulkan. Sesegera mungkin menolong korban itu memang penting. Namun juga tak kalah penting adalah tentang siapa, berapa, dan bagaimana kondisi korban tersebut. Keakuratan data akan memudahkan tindakan pertolongan selanjutnya.

Data korban mafaatnya banyak sekali. Baik data yang hidup maupun yang meninggal. Data korban yang hidup berguna untuk mengetahui jumlah logistik yang diperlukan dan sebaran lokasi pengungsian. Dua data tersebut bisa dijadikan banyak tindakan pertolongan. Mulai pendistribusian logistik, pelayanan kesehatan, bahkan sampai nanti proses tindakan psiko-sosial atau trauma healing.

Namun kondisi lapangan memang tidak bisa selalu ideal. Banyak sebabnya. Salah satunya dan mungkin yang utama adalah masyarakat kita belum menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Hal tersebut menjadikan mereka kagok/bingung apa yang harus dilakukan jika sudah terjadi bencana.

Tidak dapat dipungkiri, masyarakat yang terdampak bencana pasti mengalami trauma, sekecil apapun. Hal itu mempengaruhi reaksi yang akan muncul kemudian. Jika sudah terlatih dan terus berlatih menjadi masyarakat yang tanggap bencana tentu hal-hal dasar tindakan ketika terjadi bencana akan mudah dilakukan (tidak terlalu terpengaruhi trauma). Seperti menyelamatkan diri, menolong orang lain, dan melakukan assesment/pendataan.

Poin terakhir tersebut begitu penting dilakukan oleh masyarakat lokal sendiri karena relawan yang biasanya dari orang luar daerah akan kesulitan mengenali orang dan daerah yang akan di-assessment. Lalu bagaimana caranya agar proses assessment tersebut mudah dilakukan? Setelah selamat segera kumpulkan tim untuk melakukan assessment, mencatat semua korban yang ada. Baik yang hidup atau meninggal. Caranya sebagai berikut:
1. Tempatkan orang di pusat-pusat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, ambulan, dll.
2. Jika sudah mencultempat penampungan/pengungsian, tempatkan orang di situ juga.
3. Catat semua hal, nama, asal daerah/kampung/RT-nya, dan kondisi korban. Karena yang mencatat adalah warga lokal sendiri tentu lebih mudah dan presisi dalam mengidentifikasi korban.

Lakukan hal di atas selama seminggu berturut-turut 24 jam. Karena biasanya fase emergency itu 1 minggu, kecuali ada penambahan. Lakukan rekapitulasi data setiap malam/dini hari agar pagi hari bisa release jumlah korban yang terdata lengkap beserta asal daerah, kondisi, dan ditampung di mana. Buat posko pusat informasi untuk hal tersebut.

Seringkali kita abai tentang data ini karena sibuk menolong korban luka. Itulah sebabnya kita harus bekerja dalam tim yang sudah terbagi sebelum terjadi bencana. Jadi tim tersebut sudah tahu harus bagaimana ketika bencana terjadi. Tidak kemudian terlibat terlalu dalam untuk menolong korban luka karena ada tugas yang tak kalah penting yang diemban.

Tapi bukankah sudah ada lembaga/instansi negara yang bertugas seperti itu? Iya tapi lembaga/instansi tersebut tidak selalua ada di setingkat desa/kelurahan. Sekali lagi, assessment/pendataan akan cepat dan mudah jika yang melakukan adalah masyarakat lokal sendiri.

Advertisements

Gembiranya Bangsal Menggawe

Pertama kali berkenalan dengan komunitas Pasirputih 2013 lalu. Waktu itu saya mampir setelah turun dari Rinjani. Dikenalkan oleh salah seorang teman nun jauh di sana, mumpung di Pulau Lombok diminta mampir.

Pertama saya merasa kasihan karena waktu mau ngopi imereka pada kebingungan tidak punya kopi dan gulanya. Pun ketika mau beli pada bingung merogoh saku karena kelihatannya sedang tidak punya uang. Maafkan kami merepotkan πŸ™πŸΏπŸ˜¬.

Sekian tahun tidak bertemu lagi. Dapat kembali bertemu ketika gempa Lombok ini. Lima tahun berselang ternyata mengubah banyak hal. Terutama persepsi saya tentang Pasirputih. Dari yang dulu terlihat memprihatinkan menjadi komunitas yang keren banget. Sekali lagi itu hanya persepsi saya πŸ™πŸΏ.

Mengapa saya bilang keren bahkan banget?

Dengan aktivitas mereka di media sosial kemudian bertemu dan berbagi cerita, kekaguman saya pada komunitas ini semakin menjadi. Komunitas Pasirputih, komunitas yang terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dengan metode yang luar biasa. Salah satunya ketika mereka ingin menulis tentang Rumah Adat Segenter. Demi kedalaman tulisan mereka sampai tinggal di desa tersebut selama 1 bulan penuh. Terlibat dengan segala aktivitasnya, mengobrol dengan masyarakatnya, juga merasakan atmosfer bersosial dengan para tetangga. Tentu akan dapat mengungkap hal-hal yang tidak akan ditemui jika kita sekadar berkunjung, wawancara, mengambil video/foto, kemudian pulang. Itu hanya salah satu contoh mengapa saya bilang komunitas ini keren sekali.

Kegiatan lain yang juga tak kalah keren adalah Bangsal Menggawe. Bangsal adalah nama daerah di mana komunitas ini bermarkas. Kemudian menggawe artinya pesta. Jadi Bangsal Menggawe adalah pestanya warga Bangsal.

Penyebab munculnya kegiatan itu diawali oleh kegelisahan Komunitas Pasirputih terhadap pola kehidupan warga Bangsal yang sudah melupakan akar budayanya. Baik budaya keseharian tentang norma sosial seperti tepo seliro, rendah hati, tidak meremehkan orang lain, tidak memandang orang berdasar kekayaan materinya, maupun budaya yang berupa ritual-ritual yang sifatnya sebagai pengingat kearifan lokal. Hal itu dipicu salah satunya karena majunya pariwisata.

“Kemajuan pariwisata yang tidak dibarengi dengan kesiapan masyarakat akan menggerus budaya asli masyarakat setempat. Warga semakin materialistis dan budaya individualis semakin menguat. Gotong royong semakin sulit dilakukan karena masyarakat sibuk mencari uang sendiri-sendiri.” (Ghazali, 2018)

Hal yang disayangkan, kemajuan pariwisata ini tidak membuat budaya warga semakin kaya. Namun mereka hanya menjadi penonton dan figuran. Seperti menjadi kusir cidomo, pedagang cindera mata, dan staf pegawai hotel/resort. Harapan teman-teman Pasirputih masyarakat dapat menjadi salah satu pelaku utama pariwisata. Seperti misalnya dengan adanya festival rutin tahunan yang dilakukan oleh warga sendiri. Tentu akan menjadi tontonan yang menarik. Untuk itulah Bangsal Menggawe diadakan.

Festival yang benar-benar dari warga, oleh warga, dan untuk warga dapat sedikit mengalihkan masyarakat dari dunia materilaistik industri pariwisata. Warga yg biasanya sebagai sopir perahu penyeberangan sejenak istirahat, mengikuti Bangsal Menggawe sebagai peserta. Pun kusir cidomo, pedagang cindera mata, dan para staf hotel dan resort. Menggembirakan sekali bukan?

Revisi Jalur Menuju Puncak Mahameru

Gunung Semeru sudah selayaknya menjadi primadona pendaki gunung. Selain karena dia adalah gunung tertinggi di Jawa juga karena pemandangan alamnya yang super keren. Bukan hal yang aneh ketika menuju semeru harus antre di pendaftaran. Seperti yang saya alami awal Mei lalu.

Kebetulan ada beberapa teman yang minta tolong ditemani mendaki Semeru. Dari Jakarta sebagian. Saya bilang siapkan saja surat keterangan sehat dari dokter dan fotokopi KTP. Perlengkapan lainnya biar saya yang siapkan. Alhamdulillah selain pekerjaan saya adalah adventure guide, saya juga punya persewaan alat camping di Surabaya. Jadi semua sudah lengkap. Tinggal bawa saja.

Kami sepakat untuk bertemu di Perhutani Tumpang 11 Mei 2017 pagi. Di situ memang tempat jeep ngetem (pool) trayek Tumpang – Ranupani. Pukul 6:30 sudah berkumpul dan siap berangkat. Tinggal nunggu jeepnya penuh saja. Tak berapa lama kamipun berangkat. Perjalanan 2 jam tidak terlalu terasa ketika rombongan lain banyak mbak – mbak yang asik. Tahu lah mbak asik itu yang gimana hehe.

Pose Wagu di Tumpang

Proses pendaftaran di Pos Ranupani cukup oke. Cepat dan tidak ribet. Meskipun antrean di briefing cukup menyita waktu tapi tidak apa – apa. Cak Yo, cukup menghibur kok dengan stand up comedynya hehe. Juga kan penting banget untuk keselamatan pendakian.

Singkat cerita hari pertama sampai di Ranu Kumbolo (Gumbolo). Pemandangan yang indah. Sedikit berawan tapi masih cukup indah untuk melihat matahari terbit. Menginap semalam kemudian paginya lanjut ke Kalimati. Tidak terlalu jauh, 3 jam berjalan santai sudah sampai. Malamnya, pukul 23 kami bersiap melanjutkan perjalanan ke Puncak Mahameru. Semua barang ditinggal di Kalimati. Cukup membawa minum, makanan untuk sarapan di jalan, juga survival kit (korek, pisau, tali, ponco).

Ranu Kumbolo yang Tertutup Kabut dan Tanjakan Cinta yang Melegenda itu

Jalur dari Kalimati ini cukup berat. Menanjak curam hingga kemiringan 45 derajat. Jalur tanah berkerikil sekitar sejam setengah kemudian berganti dengan jalur pasir berbatu setelah Kelik (nama milestone di jalur Semeru). Semenjak memasuki jalur berpasir ini jalurnya lurus ke atas. Jalur yang urus seperti itu selain berat juga berbahaya.

Berat karena tidak memakai prinsip bidang miring. Memang ada himbauan dari volunteer bahwa ketika melintasi jalur pasir diminta untuk zig-zag. Agar menjadi lebih landai. Namun karena ramainya orang dan sempitnya jalur membuat himbauan itu sulit sekali dilakukan. Kemudian berbahaya, jalurnya banyak batu besar. Semakin hari pasir yang menjadi komponen utama di jalur tersebut semakin berkurang. Bukan berkurang sih, hanya saja turun semua karena terbawa ketika pendaki turun (longsor). Hal ini menyebabkan posisi batu yang berada di jalu semakin rapuh alias mudah sekali untuk menggelinding ke bawah. Nah, karena jalurnya lurus maka besar kemungkinan menggelindingnya batu itu akan mengenai pendaki. Semakin hari semakin sering saja pendaki Semeru yang tertimpa batu di jalur pendakian. Berbeda cerita seandainya jalur menuju puncak Mahameru itu direvisi. Dibuat zig-zag agak panjang. Otomatis jalur lebih panjang. Namun lebih landai dan berkurang sisi bahaya tertimpa batu.

Ada ide lain?

Jalur Menuju Puncak Mahameru Pasir dan Berbatu

Pas Dapat Letupan yang Keren di Puncak Mahameru

Teman – teman yang Minta Diantar

Langkah Kecil Mencintai Bumi dengan Membuat Biopori

Bersyukur sekali peduli kepada kelestarian lingkungan sekarang sudah menjadi tren. Dengan berbagai “genre” nya saling mengisi dan menginspirasi setiap orang. Genre tua yang sejak jaman behuela sudah didengungkan adalah penanaman pohon. Dahulu biasa disebut reboisasi. Sekarang dengan berbagai istilahnya intinya menanam pohon. Semakin ke sini semakim banyak pemilahan genre itu. Menanam pohon pun ada yg fokus menanam mangrove, bambu bahkan padi. Eh bukan, kalau padi jadinya petani yak, bukan reboisasi. Intinya sekarang banyak hal yang bisa kita lakukan untuk peduli kelestarian lingkungan dan fasilitasnya pun sudah banyak sekali.

Fasilitas yang paling terjangkau tentu internet. Tempat mencari referensi juga mencari komunitas yang berkecimpung di dalamnya. Bukan hal yang sulit mencari artikel bertema DIY (Do It Yourself) tentang peduli lingkungan. Pemanfaatan barang bekas, pemilahan sampah, penggunaan kantong belanja, penggunaan thumbler, pembuatan biopori, sumur resapan, dan seterusnya banyak sekali. 

Nah kemudahan ini harapannya juga membawa dampak semakin banyak juga yang berbuat. Bukan sekadar prototype untuk keperluan sensasi. Tapi memang benar dilakukan oleh masyarakat. 

Misalnya membuat meja dari botol air mineral. Nah cukup memungkinkan atau tidak itu. Dari sisi kekuatan struktur, kenyamanan, sampai estetika harus menjadi pertimbangan. Jika ada yang kurang tentu akan membuat orang akan enggan membuatnya. Sudah sulit membuatnya e ternyata tidak nyaman, tidak kuat, atau bahkan hanya karena alasan tidak indah/pantas. Akhirnya meja/kursi dari botol air mineral hanya ada dalam dunia prototype.

Alhamdulillah saya menemukan hal – hal yang memang benar mudah juga diaplikasikan di dunia nyata. Pertama, pembuatan biopori. Biopori adalah lubang – lubang di sekitar rumah dengan kedalaman tertentu untuk menyerap air hujan. Dibuat agar tidak langsung menuju saluran pembuangan tapi tersimpan dalam tanah. Bermodalkan pipa bekas diameter 3″ (inch), solder, alat pelubang tanah (alat biopori/linggis), besi pegangan. Cukup mudah membuatnya. Lubangi sisi – sisi pipa dengan solder. Buat lubang sebanyak mungkin namun tidak membuat pipa patah. Lubangi tanah sesuai ukuran pipa juga kedalamannya. Masukkan pipa, selesai.

Pada foto di atas, lubang pipa saya tutup pakai kawat ram. Dengan tujuan agar sampah tidak masuk dan akhirnya menyumbat lubang. Ternyata itu salah. Justru sebisa mungkin sampah (organik) ikut aliran air masuk ke dalam lubang sehingga mempercepat proses komposting. Nanti jika sudah penuh dan sampah sudah menjadi kompos tarik pipa dari dalam tanah. Sediakan besi pegangan di sisi atas pipa seperti pada gambar. Kemudian komoosnya bisa dipakai untuk memupuk tanaman pekarangan.

Mudah bukan? 

Tulisan saya selanjutnya akan menceritakan pembuatan sapu dari botol bekas. Tunggu saja uploadnya hehehe.

Terima kasih sudah membaca. Selamat mencoba dan mewujudkan cinta kepada bumi.

Seperti Kaleidoskop Kehidupan Saya Ini

Akhir tahun ikut-ikutan budaya membuat kaleidoskop kah kamu? Saya coba membuat ah. Biar kayak orang-orang. Meski berdasar ingatan jangka pendek saya yang payah namun untuk beberapa kejadian yang saya anggap penting biasanya ingat dengan sangat detail. πŸ™‚

Selayaknya kaleidoskop dimulai dari awal tahun. Hanya sebagai penanda dan pengingat kekerenan saya sahaja kok ini :mrgreen:

Januari
Setelah selesai berkegiatan SOS 3 (Save Our Semeru 3) saya berangkat ke Jakarta. Dengan tujuan melaporkan kepada pengurus dan sponshor yang mendukung kegiatan itu. Naik kereta Jayabaya dari Malang dengan tiket seharga 380rb. Cukup mahal, tapi memang sudah tidak ada pilihan kereta lain. Sudah ludes jauh-jauh hari kata petugas tiket. Di kereta bareng teman, anak Lumajang yang dulu sekampus. Meski beda jurusan tapi kenal karena saya sering ngeceng ke jurusannya dia yg banyak cewek cakep dia sering lewat depan Sanggar Pramuka. Lumayan ada teman ngobrol. Cantik πŸ™‚

Sesampai jakarta langsung sibuk dengan persiapan laporan keuangan. Baru bisa dikerjakan karena beberapa personil panitia memang dari jakarta dan banyak nota yg dibawa. Laporan selesai kemudian presentasu. Semua selesai dalam 3 hari. Berencana pulang? Tidak, main dulu ke teman-teman di jakarta dan sekitarnya. Seminggu, niat pulang eh jakarta banjir. Ditawarin sama teman buat bantu ACT ngurus korban banjir di Jakarta dan sekitarnya. Ayo aja lah. Jadilah saya tertahan di sana. Jadi anak Jakarte lah ceritanya πŸ™‚

Februari
Masih di ACT. Biasanya banjir Jakarta selesai seminggu. Ternyata memang benar tapi air bergeser ke Tangerang. Jadilah wira-wiri dari Kantor ACT di Ciputat ke Tangerang. Hafal tolnya minimal.

Maret
Masih juga di ACT. Setelah banjir selesai disambung dengan banyak kebakaran. Mulai dari daerah Sawah Besar sampai yang terakhir di Tanah Abang. Alhamdulillah nambah banyak wawasan bagaimana penanganan pengungsi korban bencana. Oiya selama di ACT saya diberi mess di salah satu ruang kantornya. Ruang B5. Sampai sekarang beberapa barang saya masih di situ. Juga teman – teman.

Akhir maret kena todong di angkot D-01. Angkot trayek Ciputat – Kebayoran Lama. Dompet dan hp dibawa. Ludes. Untung masih ada uang seamplop dari gaji gak ikut dibawa. Pulang kampunglah saya.

April
Lupa bulan ini ada kejadian penting apa. Kayaknya ada kegiatan apa gitu. Entahlah, KEPO mungkin, Kenduri Pohon di Gunung Lemongan, Lumajang. Tapi saya gak ikut hehehe. Trus akhir bulan kerja di Adhi Karya.

Mei
Lupa juga. Persiapan lamaran kayaknya. Ngobrol – ngobrol dengan pacar tentang kelanjutan hubungan. Jadinya deal lamaran bulan depan. Alhamdulillah

Juni
Ulang tahun, horeeee, tapi ya di kantor aja. Kerja seperti biasa. Sekadar menelepon pacar ngucapin selamat ultah juga. Lamaran 14 Juni, menyiapkannya seperti tidak percaya. Banyak keajaiban dan kemudahan terutama tentang finansial, Allohu akbar. Kemudian puasaan πŸ™‚

Juli
Lebaran. Keluarga pacar silaturahmi ke rumah membahas tanggal akad nikah. Tidak ketemu -__- . Saya pasrah aja. Tanggal berapapun oke. Ibu saya pun begitu. Ahamdulillah.

Agustus
Resign dari Adhi Karya. Belum nemu tanggal jadi belum bisa menyiapkan undangan. Pokoknya nunggu pacar wisuda saja. Sambil mencari gedung yang bisa disewa kisaran akhir september sampai awal oktober. Bulan dzuhijah banyak yang menikah. Semua gedung yang masuk spesifikasi tiap jumat – minggu sudah full booked. Akhirnya di salah satu gedung diberi saran oleh petugasnya tanggal 15 Oktober saja. Hari kamis. Kosong itu. Oke tanpa pikir panjang, deal. Jadi tanggal pernikahan saya itu yang menentukan petugas gedung πŸ˜€

September
Membuat undangan. Segala konsep impian dituangkan. Jadi!
Tapi bapak calon mertua kurang berkenan. 😦 Terlalu berkonsep anak muda 😦 Souvenir bikin gelang prusik. Selain konsepnya masuk juga murah hehehe karena bisa bikin sendiri.

Oktober
Alhamdulillah saya bulan ini menikah. Meski dengan persiapan seadanya syukur bisa mendapat modal untuk bayar sana – sini. Atas bantuan semua saudara, teman, juga doa – doa. Tak lupa terimakasih untuk Mas Rusdi, suami dari Ngesti Wihayuningtyas yang memberi order pengadaan sepatu. Tambahan modal nikah :-*

November
Sibuk jualan barang – barang outdoor. Dari pameran ke pameran, JNE, kulakan, sampai keliling Surabaya untuk COD-an.

Desember
Pulang ke kamoung halaman di Ngawi. Menata diri dan bersama istri di kota kecil. Merintis usaha kecil – kecilan. Doakan semuanya berkah πŸ™‚

2016?
Bismillah saja. Chayoooo!!!!

Serius dengan Aktivitas Ruang Terbuka

Sekarang memang sedang trend beraktivitas di alam terbuka. Dimulai dengan munculnya film bersetting oendakian gunung sampai menjamurnya acara petualangan dan perjalanan keliling Indonesia di televisi.

Sebagai seorang yang menyukai berkegiatan di alam terbuka tentu saya senang dengan hal ini. Artinya semakin banyak orang lain yang menyukai apa yang saya sukai. Semakin mudah mencari teman untuk melakukan perjalanan. Sekarang sudah hampir mustahil mendaki gunung sendirian dan sepi. Karena gunung yang dulunya tidak terkenal sekalipun ramai pengunjung bahkan dari luar kota.

Seperti semua trend yang lain, selalu membawa hal positif sekaligus negatifnya. Sudah banyak yang membahas ini. Terutama tentang potensi kemunculan sampah yang hampir tidak mungkin untuk dihindari. Memang, keberadaan manusia meniscayakan keberadaan sampah. Oke, kita lewatkan tentang sampah itu. Selebihnya, yang belakangan ini sering terjadi adalah pengunjung yang hilang/tersesat. Terlepas dari faktor non teknis ada beberapa hal teknis yang seharusnya dipersiapkan untuk mengurangi risiko tersebut.

Pertama dan utama, kesiapan fisik tidak bisa ditawar lagi. Hampir tidak mungkin berakrivitas di alam terbuka tidak menguras tenaga. Fisik yang prima akan menjamin kenyamanan kita beraktivitas. Mari kita bayangkan ketika melakukan perjalanan kita malah lebih sibuk menata nafas, bukan menikmati pemandangan yang ada. Padahal tujuan perjalanan kita menikmati pemandangan kan? Belum lagi jika ternyata kita memiliki fisik yang paling lemah dalam satu rombongan. Teman yang lain belum lelah kita sudah minta istirahat. Lebih enak sebaliknya bukan?

Kedua, pengetahuan tentang medan yang akan dilewati. Jika rute yang akan kita lewati sudah banyak orang yang pernah melewatinya maka tanyakan itu. Baca – baca semua hal yang diperlukan. Perkiraan waktu perjalanan, jarak, jenis jalan, curam/terjal/landai kah, keberadaan sumber air, jarak ke permukiman penduduk, dan ketika keadaan darurat harus melakukan apa. Banyak ya?

Ketiga, bawalah logistik yang cukup dan lebihkan 1 hari. Rencanakan setiap makan. Sarapan hari pertama makan apa, makan siang, makan malam dan seterusnya sampai hari terakhir. Jangan lupa beri kelebihan 1 hari jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Misal kita terpisah dari rombongan. Ingat, selalu sediakan makanan yang siap makan tanpa peelu dimasak.

Keempat, bawalah peralatan yang menunjang. Beraktivitas di alam terbuka memerlukan peralatan yang spesifik. Mulai dari peelengkapan diri seperti sepatu dan pakaian, sampai alat bawa dan alat masak. Sepatu untuk mendaki gunung tentu berbeda dengan sepatu untuk berolah raga di lapangan. Mengapa dibedakan? Sekali lagi, untuk menjamin keamanan dan kenyamanan kita berakrivitas. Jika dirinci pasti banyak sekali. Teman – teman bisa membaca lebih detai di banyak artikel lain.

Kelima, manajemen perjalanan. Sudah mengenal hal itu? Sebenarnya ini sebagian sudah dijelasakan di atas. Mulai merencanakan waktu perjalanan, berapa lama, naik kendaraan apa saja, memerlukan biaya berapa, alat yang dibawa apa saja, pakaian yang dibawa berapa, logistik seberepa dan apa saja, sampai mengatur ritme perjalanan. Nah, untuk yang terakhir itu sering kali terlewat dari perencanaan. Ritme perjalanan itu, menurut saya, hanya bisa dilatih dengan perjalanan itu sendiri. Artinya hanya bisa dengan dibiasakan. Tidak ada latihannya. Berbeda dengan yang lain bisa dilatih dan disimulasikan. Ritme perjalanan hanya akan ditemukan ketika perjalanan itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita baru pertama kali melakukan perjalanan? Gimana belajarnya? Ajaklah orang/teman yang sudah terbiasa melakukan perjalanan. Dengan begitu kita akan tahu kapan harus isrirahat, kapan harus mempercepat langkah, kapan harus diperlambat, kapan bisa santai dan kapan harus bersegera. Kita juga akan belajar bagaimana cara menghemat air, menjaga stamina, menjaga semangat, dan memastikan tim lengkap juga aman. Banyak bukan?

Begitulah, beraktivitas di alam terbuka itu membutuhkan banyak persiapan. Sekiranya belum mampu, berlatihlah. Mintalah bimbingan kepada yang lebih berpengalaman. Bagaimanapun alam selalu mempunyai hal yang belum kita ketahui sebelumnya.

Poin satu sampai lima tadi bukan urutan priorotas. Satu sama lain saling terkait dan tak bisa dipisahkan. Kurang pada satu poin akan membuat kurang pada poin lain. Jadi jangan pernah remehkan salah satunya.

Selamat beraktivitas dan tetap utamakan keselamatan. πŸ™‚

::ddadventure::

Mengeluh, Bukan Tidak Mau, Hanya Tidak Sempat

image

Pulang kampung, rasanya berbeda antara yang rutin mingguan dan yang ketika lebaran alias mudik. Pulang kampung seminggu sekali serasa sebuah rutinitas yang menyenangkan sekaligus membosankan. Menyenangkan karena bisa sejenak beristirahat dari pekerjaan. Membosankan karena ya gitu-gitu saja. Jumat sore meninggalkan tempat kerja, dini hari sampai rumah, besok tidur, makan, tidur, futsal, makan, tidur, kemudian kembali ke tempat kerja. Sementara ketika lebaran ada sedikit selingan dengan menemui orang-orang yang biasanya sama-sama di rantau. Orang-orang yang biasanya hanya bisa disapa melalui media sosial. Kini dapat bertatap muka dan melihat ekspresi saat berbicara. Menyenangkan sekali bukan?

Lebih menyenangkan lagi jika bisa menemui orang yang biasanya hanya bisa kita kagumi lewat dunia maya. Seperti saat ini. Saya berada di rumah yang bagi saya begitu hidup. Rumah yang selalu memberi semangat menjalani hidup yang katanya perjuangan itu. Perjuangan tanpa keluhan. Bukan tidak mau hanya tidak sempat. Karena setiap detiknya berisi perjuangan.

Deretan motor tua, onggokan spare part motor di ruang tamu, dan tembok yang penuh coretan anak bercampur bekas-bekas tangan berlumur oli. Menjadi saksi dari pekerjaan tangan tentang kesempurnaan. Belum berhenti jika belum mencapai batas kemampuan. Sekali lagi tanpa keluhan, bukan tidak mau, hanya tidak sempat.

image


November 2018
M T W T F S S
« Oct    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Advertisements