Langkah Kecil Mencintai Bumi dengan Membuat Biopori

Bersyukur sekali peduli kepada kelestarian lingkungan sekarang sudah menjadi tren. Dengan berbagai “genre” nya saling mengisi dan menginspirasi setiap orang. Genre tua yang sejak jaman behuela sudah didengungkan adalah penanaman pohon. Dahulu biasa disebut reboisasi. Sekarang dengan berbagai istilahnya intinya menanam pohon. Semakin ke sini semakim banyak pemilahan genre itu. Menanam pohon pun ada yg fokus menanam mangrove, bambu bahkan padi. Eh bukan, kalau padi jadinya petani yak, bukan reboisasi. Intinya sekarang banyak hal yang bisa kita lakukan untuk peduli kelestarian lingkungan dan fasilitasnya pun sudah banyak sekali.

Fasilitas yang paling terjangkau tentu internet. Tempat mencari referensi juga mencari komunitas yang berkecimpung di dalamnya. Bukan hal yang sulit mencari artikel bertema DIY (Do It Yourself) tentang peduli lingkungan. Pemanfaatan barang bekas, pemilahan sampah, penggunaan kantong belanja, penggunaan thumbler, pembuatan biopori, sumur resapan, dan seterusnya banyak sekali. 

Nah kemudahan ini harapannya juga membawa dampak semakin banyak juga yang berbuat. Bukan sekadar prototype untuk keperluan sensasi. Tapi memang benar dilakukan oleh masyarakat. 

Misalnya membuat meja dari botol air mineral. Nah cukup memungkinkan atau tidak itu. Dari sisi kekuatan struktur, kenyamanan, sampai estetika harus menjadi pertimbangan. Jika ada yang kurang tentu akan membuat orang akan enggan membuatnya. Sudah sulit membuatnya e ternyata tidak nyaman, tidak kuat, atau bahkan hanya karena alasan tidak indah/pantas. Akhirnya meja/kursi dari botol air mineral hanya ada dalam dunia prototype.

Alhamdulillah saya menemukan hal – hal yang memang benar mudah juga diaplikasikan di dunia nyata. Pertama, pembuatan biopori. Biopori adalah lubang – lubang di sekitar rumah dengan kedalaman tertentu untuk menyerap air hujan. Dibuat agar tidak langsung menuju saluran pembuangan tapi tersimpan dalam tanah. Bermodalkan pipa bekas diameter 3″ (inch), solder, alat pelubang tanah (alat biopori/linggis), besi pegangan. Cukup mudah membuatnya. Lubangi sisi – sisi pipa dengan solder. Buat lubang sebanyak mungkin namun tidak membuat pipa patah. Lubangi tanah sesuai ukuran pipa juga kedalamannya. Masukkan pipa, selesai.

Pada foto di atas, lubang pipa saya tutup pakai kawat ram. Dengan tujuan agar sampah tidak masuk dan akhirnya menyumbat lubang. Ternyata itu salah. Justru sebisa mungkin sampah (organik) ikut aliran air masuk ke dalam lubang sehingga mempercepat proses komposting. Nanti jika sudah penuh dan sampah sudah menjadi kompos tarik pipa dari dalam tanah. Sediakan besi pegangan di sisi atas pipa seperti pada gambar. Kemudian komoosnya bisa dipakai untuk memupuk tanaman pekarangan.

Mudah bukan? 

Tulisan saya selanjutnya akan menceritakan pembuatan sapu dari botol bekas. Tunggu saja uploadnya hehehe.

Terima kasih sudah membaca. Selamat mencoba dan mewujudkan cinta kepada bumi.

Seperti Kaleidoskop Kehidupan Saya Ini

Akhir tahun ikut-ikutan budaya membuat kaleidoskop kah kamu? Saya coba membuat ah. Biar kayak orang-orang. Meski berdasar ingatan jangka pendek saya yang payah namun untuk beberapa kejadian yang saya anggap penting biasanya ingat dengan sangat detail.🙂

Selayaknya kaleidoskop dimulai dari awal tahun. Hanya sebagai penanda dan pengingat kekerenan saya sahaja kok ini:mrgreen:

Januari
Setelah selesai berkegiatan SOS 3 (Save Our Semeru 3) saya berangkat ke Jakarta. Dengan tujuan melaporkan kepada pengurus dan sponshor yang mendukung kegiatan itu. Naik kereta Jayabaya dari Malang dengan tiket seharga 380rb. Cukup mahal, tapi memang sudah tidak ada pilihan kereta lain. Sudah ludes jauh-jauh hari kata petugas tiket. Di kereta bareng teman, anak Lumajang yang dulu sekampus. Meski beda jurusan tapi kenal karena saya sering ngeceng ke jurusannya dia yg banyak cewek cakep dia sering lewat depan Sanggar Pramuka. Lumayan ada teman ngobrol. Cantik🙂

Sesampai jakarta langsung sibuk dengan persiapan laporan keuangan. Baru bisa dikerjakan karena beberapa personil panitia memang dari jakarta dan banyak nota yg dibawa. Laporan selesai kemudian presentasu. Semua selesai dalam 3 hari. Berencana pulang? Tidak, main dulu ke teman-teman di jakarta dan sekitarnya. Seminggu, niat pulang eh jakarta banjir. Ditawarin sama teman buat bantu ACT ngurus korban banjir di Jakarta dan sekitarnya. Ayo aja lah. Jadilah saya tertahan di sana. Jadi anak Jakarte lah ceritanya🙂

Februari
Masih di ACT. Biasanya banjir Jakarta selesai seminggu. Ternyata memang benar tapi air bergeser ke Tangerang. Jadilah wira-wiri dari Kantor ACT di Ciputat ke Tangerang. Hafal tolnya minimal.

Maret
Masih juga di ACT. Setelah banjir selesai disambung dengan banyak kebakaran. Mulai dari daerah Sawah Besar sampai yang terakhir di Tanah Abang. Alhamdulillah nambah banyak wawasan bagaimana penanganan pengungsi korban bencana. Oiya selama di ACT saya diberi mess di salah satu ruang kantornya. Ruang B5. Sampai sekarang beberapa barang saya masih di situ. Juga teman – teman.

Akhir maret kena todong di angkot D-01. Angkot trayek Ciputat – Kebayoran Lama. Dompet dan hp dibawa. Ludes. Untung masih ada uang seamplop dari gaji gak ikut dibawa. Pulang kampunglah saya.

April
Lupa bulan ini ada kejadian penting apa. Kayaknya ada kegiatan apa gitu. Entahlah, KEPO mungkin, Kenduri Pohon di Gunung Lemongan, Lumajang. Tapi saya gak ikut hehehe. Trus akhir bulan kerja di Adhi Karya.

Mei
Lupa juga. Persiapan lamaran kayaknya. Ngobrol – ngobrol dengan pacar tentang kelanjutan hubungan. Jadinya deal lamaran bulan depan. Alhamdulillah

Juni
Ulang tahun, horeeee, tapi ya di kantor aja. Kerja seperti biasa. Sekadar menelepon pacar ngucapin selamat ultah juga. Lamaran 14 Juni, menyiapkannya seperti tidak percaya. Banyak keajaiban dan kemudahan terutama tentang finansial, Allohu akbar. Kemudian puasaan🙂

Juli
Lebaran. Keluarga pacar silaturahmi ke rumah membahas tanggal akad nikah. Tidak ketemu -__- . Saya pasrah aja. Tanggal berapapun oke. Ibu saya pun begitu. Ahamdulillah.

Agustus
Resign dari Adhi Karya. Belum nemu tanggal jadi belum bisa menyiapkan undangan. Pokoknya nunggu pacar wisuda saja. Sambil mencari gedung yang bisa disewa kisaran akhir september sampai awal oktober. Bulan dzuhijah banyak yang menikah. Semua gedung yang masuk spesifikasi tiap jumat – minggu sudah full booked. Akhirnya di salah satu gedung diberi saran oleh petugasnya tanggal 15 Oktober saja. Hari kamis. Kosong itu. Oke tanpa pikir panjang, deal. Jadi tanggal pernikahan saya itu yang menentukan petugas gedung😀

September
Membuat undangan. Segala konsep impian dituangkan. Jadi!
Tapi bapak calon mertua kurang berkenan.😦 Terlalu berkonsep anak muda😦 Souvenir bikin gelang prusik. Selain konsepnya masuk juga murah hehehe karena bisa bikin sendiri.

Oktober
Alhamdulillah saya bulan ini menikah. Meski dengan persiapan seadanya syukur bisa mendapat modal untuk bayar sana – sini. Atas bantuan semua saudara, teman, juga doa – doa. Tak lupa terimakasih untuk Mas Rusdi, suami dari Ngesti Wihayuningtyas yang memberi order pengadaan sepatu. Tambahan modal nikah :-*

November
Sibuk jualan barang – barang outdoor. Dari pameran ke pameran, JNE, kulakan, sampai keliling Surabaya untuk COD-an.

Desember
Pulang ke kamoung halaman di Ngawi. Menata diri dan bersama istri di kota kecil. Merintis usaha kecil – kecilan. Doakan semuanya berkah🙂

2016?
Bismillah saja. Chayoooo!!!!

Serius dengan Aktivitas Ruang Terbuka

Sekarang memang sedang trend beraktivitas di alam terbuka. Dimulai dengan munculnya film bersetting oendakian gunung sampai menjamurnya acara petualangan dan perjalanan keliling Indonesia di televisi.

Sebagai seorang yang menyukai berkegiatan di alam terbuka tentu saya senang dengan hal ini. Artinya semakin banyak orang lain yang menyukai apa yang saya sukai. Semakin mudah mencari teman untuk melakukan perjalanan. Sekarang sudah hampir mustahil mendaki gunung sendirian dan sepi. Karena gunung yang dulunya tidak terkenal sekalipun ramai pengunjung bahkan dari luar kota.

Seperti semua trend yang lain, selalu membawa hal positif sekaligus negatifnya. Sudah banyak yang membahas ini. Terutama tentang potensi kemunculan sampah yang hampir tidak mungkin untuk dihindari. Memang, keberadaan manusia meniscayakan keberadaan sampah. Oke, kita lewatkan tentang sampah itu. Selebihnya, yang belakangan ini sering terjadi adalah pengunjung yang hilang/tersesat. Terlepas dari faktor non teknis ada beberapa hal teknis yang seharusnya dipersiapkan untuk mengurangi risiko tersebut.

Pertama dan utama, kesiapan fisik tidak bisa ditawar lagi. Hampir tidak mungkin berakrivitas di alam terbuka tidak menguras tenaga. Fisik yang prima akan menjamin kenyamanan kita beraktivitas. Mari kita bayangkan ketika melakukan perjalanan kita malah lebih sibuk menata nafas, bukan menikmati pemandangan yang ada. Padahal tujuan perjalanan kita menikmati pemandangan kan? Belum lagi jika ternyata kita memiliki fisik yang paling lemah dalam satu rombongan. Teman yang lain belum lelah kita sudah minta istirahat. Lebih enak sebaliknya bukan?

Kedua, pengetahuan tentang medan yang akan dilewati. Jika rute yang akan kita lewati sudah banyak orang yang pernah melewatinya maka tanyakan itu. Baca – baca semua hal yang diperlukan. Perkiraan waktu perjalanan, jarak, jenis jalan, curam/terjal/landai kah, keberadaan sumber air, jarak ke permukiman penduduk, dan ketika keadaan darurat harus melakukan apa. Banyak ya?

Ketiga, bawalah logistik yang cukup dan lebihkan 1 hari. Rencanakan setiap makan. Sarapan hari pertama makan apa, makan siang, makan malam dan seterusnya sampai hari terakhir. Jangan lupa beri kelebihan 1 hari jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Misal kita terpisah dari rombongan. Ingat, selalu sediakan makanan yang siap makan tanpa peelu dimasak.

Keempat, bawalah peralatan yang menunjang. Beraktivitas di alam terbuka memerlukan peralatan yang spesifik. Mulai dari peelengkapan diri seperti sepatu dan pakaian, sampai alat bawa dan alat masak. Sepatu untuk mendaki gunung tentu berbeda dengan sepatu untuk berolah raga di lapangan. Mengapa dibedakan? Sekali lagi, untuk menjamin keamanan dan kenyamanan kita berakrivitas. Jika dirinci pasti banyak sekali. Teman – teman bisa membaca lebih detai di banyak artikel lain.

Kelima, manajemen perjalanan. Sudah mengenal hal itu? Sebenarnya ini sebagian sudah dijelasakan di atas. Mulai merencanakan waktu perjalanan, berapa lama, naik kendaraan apa saja, memerlukan biaya berapa, alat yang dibawa apa saja, pakaian yang dibawa berapa, logistik seberepa dan apa saja, sampai mengatur ritme perjalanan. Nah, untuk yang terakhir itu sering kali terlewat dari perencanaan. Ritme perjalanan itu, menurut saya, hanya bisa dilatih dengan perjalanan itu sendiri. Artinya hanya bisa dengan dibiasakan. Tidak ada latihannya. Berbeda dengan yang lain bisa dilatih dan disimulasikan. Ritme perjalanan hanya akan ditemukan ketika perjalanan itu sendiri. Lalu bagaimana jika kita baru pertama kali melakukan perjalanan? Gimana belajarnya? Ajaklah orang/teman yang sudah terbiasa melakukan perjalanan. Dengan begitu kita akan tahu kapan harus isrirahat, kapan harus mempercepat langkah, kapan harus diperlambat, kapan bisa santai dan kapan harus bersegera. Kita juga akan belajar bagaimana cara menghemat air, menjaga stamina, menjaga semangat, dan memastikan tim lengkap juga aman. Banyak bukan?

Begitulah, beraktivitas di alam terbuka itu membutuhkan banyak persiapan. Sekiranya belum mampu, berlatihlah. Mintalah bimbingan kepada yang lebih berpengalaman. Bagaimanapun alam selalu mempunyai hal yang belum kita ketahui sebelumnya.

Poin satu sampai lima tadi bukan urutan priorotas. Satu sama lain saling terkait dan tak bisa dipisahkan. Kurang pada satu poin akan membuat kurang pada poin lain. Jadi jangan pernah remehkan salah satunya.

Selamat beraktivitas dan tetap utamakan keselamatan.🙂

::ddadventure::

Mengeluh, Bukan Tidak Mau, Hanya Tidak Sempat

image

Pulang kampung, rasanya berbeda antara yang rutin mingguan dan yang ketika lebaran alias mudik. Pulang kampung seminggu sekali serasa sebuah rutinitas yang menyenangkan sekaligus membosankan. Menyenangkan karena bisa sejenak beristirahat dari pekerjaan. Membosankan karena ya gitu-gitu saja. Jumat sore meninggalkan tempat kerja, dini hari sampai rumah, besok tidur, makan, tidur, futsal, makan, tidur, kemudian kembali ke tempat kerja. Sementara ketika lebaran ada sedikit selingan dengan menemui orang-orang yang biasanya sama-sama di rantau. Orang-orang yang biasanya hanya bisa disapa melalui media sosial. Kini dapat bertatap muka dan melihat ekspresi saat berbicara. Menyenangkan sekali bukan?

Lebih menyenangkan lagi jika bisa menemui orang yang biasanya hanya bisa kita kagumi lewat dunia maya. Seperti saat ini. Saya berada di rumah yang bagi saya begitu hidup. Rumah yang selalu memberi semangat menjalani hidup yang katanya perjuangan itu. Perjuangan tanpa keluhan. Bukan tidak mau hanya tidak sempat. Karena setiap detiknya berisi perjuangan.

Deretan motor tua, onggokan spare part motor di ruang tamu, dan tembok yang penuh coretan anak bercampur bekas-bekas tangan berlumur oli. Menjadi saksi dari pekerjaan tangan tentang kesempurnaan. Belum berhenti jika belum mencapai batas kemampuan. Sekali lagi tanpa keluhan, bukan tidak mau, hanya tidak sempat.

image

Kesedihan

Kalian ada yang pernah ditodong? Dicopet? Atau bahkan dirampok? Saya pernah, ditodong. Tragisnya itu terjadi saat saya berada di perantauan. Hampir semua yang saya punyai diminta. Bahkan untuk pulang ke kost pun kebingungan. Naik angkot takut ogkos kurang. Naik taksi di tempat tujuan pun belum tentu ada yg mau bayarin. Ojek pun begitu. Alhamdulillah banyak teman yang peduli. Sampai terharu saya disamperin ditengok bagaimana kondisiku. Bahkan pada saweran demi membantuku. Sampai saya tidak tahu harus berterima kasih dengan cara bagaimana. Ikatan pertemanan yang begitu kuat, sudah saya anggap saudara. Bersedia berkorban untuk saya. Bagaimana saya membalasnya? Hutang budi dibawa mati kata pepatah. Iya, saya pasti tidak bisa membalas kepedulian mereka. Tapi saya berusaha.

Berusaha tetap menjadi teman terbaik bagi mereka. Berkorban pun akan saya lakukan, seperti saat itu yang mereka lakukan kepada saya. Bagaimana lagi saya bisa membalas kebaikanmu teman-teman?

Mungkin nanti, suatu saat, atau mungkin sudah pernah, bahkan sering, saya membuat sesuatu hal yang kurang nyaman buat teman-teman saya mohon maaf. Ada hal-hal yang harus saya benahi. Terus belajar menjalani hidup dengan seimbang. Mungkin nanti, suatu saat, saya akan pergi meninggalkan teman-teman, saya mohon diikhlaskan. Meski tidak mungkin melupakan kebaikan dan pengorbanan teman-teman untuk saya.

Mungkin nanti, suatu saat, di antara teman-teman ada yang bilang saya lupa kacang akan kulit. Iya, tidak apa-apa mungkin saya memang pantas dianggap seperti itu. Tapi saya selalu berusaha. Saya tetap punya hutang kepada teman-teman. Ingatkan saya jika mulai lupa.

::catatan4ramadhan::

Menentang Kebebasan, Menantang Masa Depan

Sampah model baru yang cukup ngetrend belakangan ini.

Sampah model baru yang cukup ngetrend belakangan ini.

Biasanya saya membuat judul itu setelah tulisan selesai. Berbeda dengan ini tadi entah mengapa saya ingin membuat judul dulu. Padahal belum terbayang akan menulis tentang apa, yang penting bikin judul dulu saja, pikir saya. Biar nanti tulisan akan mengalir kemana biar jari yang mengarahkan. Kata orang kan judul itu ibarat wajah bagi manusia, cantik/ganteng baru kemudian diajak ngobrol (baca: stalking). Jadi judul adalah kesan pertama. baru kemudian membaca keseluruhan tulisan.

Lalu kesan apa yang hendak saya munculkan dengan judul itu? Tidak tahu, asal saja tadi bikinnya. Sekali lagi, asal. jadi tidak usah dipikirkan terlalu dalam tentang arti judul di atas:mrgreen: yang penting enak didengar dan nyaman di lidah aja.

Tadi sih kepikiran saya harus membuat tulisan sebagai penanda bahwa telah satu bulan (kurang beberapa hari sih) saya menjadi buruh. Di tulisan sebelumnya saya bilang babu😀 yang terenggut kemerdekaan dan kebebasannya. Makanya judul pun sejalan tentang kebebasan. Kemudian setelah melalui perenungan yang tidak lama ternyata ini juga tentang masa depan. Jadilah judul itu. Ole!

Kemarin-kemarin saya merasakan stres yang cukup berat. Menjadi buruh itu ternyata berat banget. Tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya, yang tinggal menunggu perintah bos kemudian jalankan, terakhir laporkan. Tidak perlu berpikir banyak-banyak, tidak perlu berimprovisasi, tidak terlalu butuh inisiasi. Tidak, tidak seperti itu. Bukan, bukan hal-hal yang seperti itu yang membuat saya merasa berat. Bekerja dari pagi sampai dini hari pun tidak terlalu berat. Memasukkan data rekapitulasi dengan ratusan baris angkapun tidak berat. Siang-siang tengah hari bekerja di bawah terik matahari pun sudah biasa.

Lalu apa yang berat?

Saat masih pengen tidur harus sudah mandi dan pakai baju rapi. Saat gak pengen tidur malah disuruh budayakan tidur. Saat belum lapar sudah disodorin nasi di depan muka. Menunda makan sebentar agar makan saat lapar e ternyata nasi sudah habis. Makan tiga kali sehari tanpa buah sedikitpun.

Yeach, emang saya banyak komplain. Ada yang bilang “jangan ludahi sumur yang kamu minum airnya”. Tulisan ini bukan dalam rangka meludah. Hanya sarana mendeskripsikan apa sebenarnya yang membuat saya stres tidak nyaman hingga seminggu hanya bisa buang air besar dua kali ini.

Itulah tadi, sebulan ini saya berusaha mati-matian menyesuaikan diri. Sampai akhirnya tidak tahan dan mencari selingan. Sudah tahu kan selingannya apa? Iya, naik gunung. Menyelinap selama 4 hari buat ke Dieng dan naik ke Gunung Prau di Wonosobo. Memanfaatkan hari selasa yang tanggal merah serta sedikit muslihat biar bisa keluar dari kantor barang sejenak hehehe.

Singkat cerita saya bisa menyelinap buat packing di rumah Malang. Kemudian melipir negbus ke Surabaya buat nyari barengan jalan. Udah dapat barengan ternyata ditelepon Kanjeng Mami disuruh nganter-nganter. Oke, ke ngawi dulu berarti. Ternyata ngantarnya ke Surabaya. Alamaaak balik lagi ke Surabaya, nyopir. Skalian lah barengan yang dari Surabaya kubawa pulang ke Ngawi naik mobil. Kemudian oper naik bus ke arah Wonosobo. What a trip.. -____-

Jadi menuju Basecamp G. Prau Wonosobo akhirnya naik Bus Eka dari Rumah Makan Duta (yang barat) langsung tujuan Magelang. Subuh di terminal Magelang ternyata sepi sekali. Hanya terlihat satu bus yang dalam keadaan menyala stasioner. Kuhampiri, tepat, buas arah Wonosobo. Agak beberapa menit menunggu penumpang yang menyelesaikan salat subuh, kemudian berangkat. Bus ukuran 3/4 berjalan lambat. Sambil sesekali menyalakan lampu reting ke kiri dan memencet bel ketika terlihat calon penumpang di depan. Bus longgar, tas besar-besar yang kami bawa bisa ditaruh di cabin tanpa harus menambah ongkos bagasi. Jalan berliku, udara segar pagi, dan sedikit keriuhan ibu-ibu yang berangkat ke pasar menambah pelan laju bus ketika masuk wilayah Temanggung. Temanggung ini terkenal dengan tembakaunya. Dulu, ketika saya masih kecil pernah sekali lewat Temanggung, juga akan ke Wonosobo. Di kiri-kanan jalan dipenuhi kebun tembakau yang hijau segar. Kemana semua sekarang ini ya? Apa saya lewat jalan yang berbeda kah? Semoga begitu.

Penumpang naik-turun silih berganti.

“Monggo, Pak Budi” sapa penumpang saat turun. Sang sopir pun membalas, “Ngiih, ngatos-ngatos, Bu”. Tidak hanya itu. Penumpang yang naik pun tidak sedikit yang berbasa-basi sekadar sapaan pagi hari pada Sopir. Rupanya Pak Budi ini dikenal sebagai sopir yang ramah. hampir semua penumpang harian kenal dengan beliau. Armada kecil dengan trayek panjang agak aneh menurut saya. Karena terbiasa dengan bus-bus besar di daerah saya, mungkin. Sampai di Terminal Wonosobo pun tidak sempat penuh bus dengan tulisan “Simphony” di kaca depannya ini. Ongkos dua puluh lima ribu untuk perjalanan sekitar 2 jam memang terlalu mahal jika dibandingkan bus besar dengan trayek panjang seperti Selamat Group maupun Mira. Tapi cerita pagi itu membuatnya sepadan dan impas.

Dari Terminal Wonosobo disambung bus kecil ke arah Dieng. Dua puluh ribu, satu jam.

Rupanya teman-teman sudah ramai di base camp. saya langsung tidur. Capek setelah berkejaran dengan waktu dan hanya bisa tidur saat di bus. Sore harinya baru mendaki ke puncak. Jalur awal berupa anak tangga. Ada 115 anak tangga (koreksi jika saya salah) dan dilanjut dengan jalan makadam setelah sedikit jalan setapak di antara kebun kentang milik penduduk. Cukup curam, beberapa kali terlihat ada yang terpeleset karena memang jalur licin sehabis hujan. Jalur tanah basah semakin terjal dan sulit dilalui. Beberapa tanjakan dipasang tali untuk pegangan. Cukup membantu. Juga dibuatkan pijakan berbentuk anak tangga di tanah. 3 jam sampai puncak dan masih sempat mapir di warung-warung untuk menikmati gorengan dan minuman carica hangat.

Oiya, selain untuk keluar dari kesetresan saya sebenarnya di Gunung Prau itu pas ada cara bersih gunung. Pisau namanya, Peduli Sampah Prau. Jadi sekalian bersih-bersih di gunung. Seru, banyak teman baru. Sedih, area perkemahan terlihat bersih tapi di “belakangnya” daerah ring dua perkemahan sampah bertebaran. Paling banyak sampah tisu yang dipakai untuk cebok. Hmmm PR banget itu.

Beberapa sampah yang terkumpul.

Beberapa sampah yang terkumpul.

Memilah sampah antara sampah plastik, tisu/kertas, dan botol.

Memilah sampah antara sampah plastik, tisu/kertas, dan botol.

Pemilahan melibatkan pendaki di sekitar lokasi

Pemilahan melibatkan pendaki di sekitar lokasi

Sampah-sampah itu akhirnya bisa diturunkan semua

Sampah-sampah itu akhirnya bisa diturunkan semua

Suasana sarapan yang asik.

Suasana sarapan yang asik.

Salah satu peserta yang sampai menyisir seluruh puncak untuk membersihkan area perkemahan.

Salah satu peserta yang sampai menyisir seluruh puncak untuk membersihkan area perkemahan.

Beginilah cara kami membawa turun sampah dari gunung.

Beginilah cara kami membawa turun sampah dari gunung.

Dengan melibatkan seluruh pendaki yang turun, sampah kami titipkan ke semua yang bersedia.

Dengan melibatkan seluruh pendaki yang turun, sampah kami titipkan ke semua yang bersedia.

Sampah yang terkumpul dibagi dalam kantong yang lebih kecil agar lebih mudah dibawa turun.

Sampah yang terkumpul dibagi dalam kantong yang lebih kecil agar lebih mudah dibawa turun.

Seminggu Jadi Babu

Terhitung selasa kemarin saya sudah dua minggu berada di sini. Kok judulnya seminggu? Iya, kalau dua minggu jadi kurang asik irama kata-katanya hehe. Menjadi babu sebelumnya tidak pernah terlintas sedikitpun dalam otak. Ternyata keadaan berkata lain. Dari sejak lulus selesai kuliah tak seharipun ada kewajiban mengisi presensi ke “kantor”. Sampai akhirnya sekarang ada seorang teman yang bilang saya dikatain sudah menjual kemerdakaan diri haha. Iya kayaknya ya?

Terserah lah mau dibilang apa. Tidak merdeka atau terbelenggu ya nggak apa-apa. Toh kenyataannya saya memang harus bangun pagi-pagi, mandi, kemudian buru-buru ke kantor untuk kemudian duduk di depan layar komputer. Banyak ya orang yang seperti itu? Iya, saya memang jadi kayak kebanyakan orang sekarang. Tidak outstanding lagi.:mrgreen:

Hari-hari awal saya banyak belajar tentang bagaimana itu melakukan pengecoran. Mulai dari rigid pavement memakai mesin paver canggih sampai rigid manual untuk bahu jalan.

Mesin paver itu canggih banget ya ternyata. Meratakan concrete, kemudian diberi getaran agar kerapatannya seragam, lalu menghaluskan permukaannya bisa dilakukan oleh satu mesin dengan ukuran lebar dan ketebalan yang presisi. Masih ditambah denga pemasangan T-bar yang juga otomatis. Tapi tetap saja untuk sentuhan akhir hanya bisa dilakukan oleh tangan manusia. Tangan-tangan terampil itu menghaluskan permukaan rigid dengan alat bernama “ondrong”.😀

Biasanya dimulai sore hari setelah solat maghrib dan selesai tengah malam menjelang dini hari. Sengaja memang pengecoran selalu dilakukan saat matahari sudah terbenam atau paling tidak sudah tidak terlalu panas. Karena proses pengeringan yang terlalu cepat, akibat terpapar matahari siang, tidak baik untuk beton. Beton akan patah dan terjadi retakan di sana-sini.

Begitu itu setiap hari sampai akhirnya nanti suatu saat saya sudah tidak bisa menangkap detail dari pekerjaan itu. Jadi ini mumpung masih segar di otak saya tulis saja. Tidak apa-apa tidak dibaca orang tapi kata orang bijak ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Perkara saya tidak merdeka lagi karena sudah jadi babu, dua minggu, biarkan itu saya selesaikan dengan batin saya. Pusing😐


September 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930