Archive for November, 2014

Escudo Jalan Rejeki

Membicarakan pagi memang selalu menyenangkan buatku. Seperti pagi kemarin, gegoleran di kasur depan televisi. Belum mandi dan belum sarapan. Hanya dua butir mangga sudah gak sengaja masuk ke perut :mrgreen:. Ngopi juga belum apalagi aktivitas berat yang lain.

Pagi yang santai itu berubah seketika saat kanjeng mami minta dianter ke btpn. Tidak mandi sekadar gosok gigi. Cuci muka juga tak pake busa. Cus brangkat.

Lima belas menit sampai juga du btpn. Sepertinya kanjeng mami bakal lama di dalam. Sambil nunggu saya sempetin ke warkop di depan. “Kopi buk satu, item”, kataku pada ibu penjual. Tak sampai semenit sudah jadi aja itu kopi. Wuih fast service. Rupanya suaminya yang menghidangkan dan selalu merebus air. Jadi sewaktu-waktu ada yang pesan kopi tinggal seduh saja. Pantas saja pelayanannya cepat.

Warung itu cukup nyaman. Tepat berada di bawah pohon mangga yang sudah tua. Saking tuanya terlihat dahannya sudah banyak yg lapuk. Juga benalu sudah tampak mendominasi. Suasana teduh itu semakin nyaman dengan adanya bale-bale yang cukup besar yang biasa dipake pembeli untuk bersantai. Sebenarnya warung itu awalnya hanyalah sebuah kios rokok. Gerobak hibah dari salah satu brand roko dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa digabung dengan dapur dan tempat nongkrong.

Awal saya datang sudah ada beberapa orang berpakaian formal. Celana hitam, sepatu pantofel, dan hem berjaket hitam. Sibuk dengan telepon masing-masing. Melihat gayanya biasanya ini teman-teman dari finance. Satu orang membaca koran, korannya tidak terbalik jadi benar sia sedang membaca koran, bukan bersembunyi dari sesuatu hehe.

Saya memilih duduk di ujung warung. Satu kursi tanpa sandaran di ujung meja. Kursi itu sudah ditumpuk, jadi 2 kursi rapuh dijadikan satu agar saling menguatkan.

Bapak yang tadi membaca koran tampak agak mendekat ke saya. Sudah sepuh, rambutnya sudah banyak beruban. Jam g-shock di tangannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa bapak ini sudah purna tugas dari pekerjaannya. Membuka percakapan basa basi,
“Sama ibunya mas?”
“Iya, Pak. Sudah dari tadi di dalam kok belum selesai”
“La ngurus apa to, Mas?”
“Kurang tau, Pak. Tadi sih sepertinya menyerahkan berkas saja”.
“Ooo..”

Sepertinya kehabisan obrolan. Dan saya tidak balas balik tanya. Tapi ternyata tidak.

“Rumahnya mana, Mas?
“Nganu (menyebut nama tempat)”
“Owh sama rumahnya Bu Sri?”
“Saya dari pasar ke utara, Pak. Bukan ke Selatan”.
“Kerja di mana, Mas?”
….

Kemudian hening…

Bukan sekali saya dapat pertanyaan seperti itu. Sayangnya saya selalu belum punya jawaban yang tepat 😀 .

Kembali menyesap kopi. Seseorang datang lagi. Mengendarai megapro terbaru. Di jok belakang tertumpang 2 ember kosong. Sepertinya tempat tahu. Iya, bapak itu pedagang tahu. Masih pagi tapi dagangannya sudah habis. Pastinya semenjak subuh tadi beliau sudah berkeliling. Menyusul di belakangnya seorang kakek-kakek bersepeda tua, celana jeans pendek selutut, topi, dan sandal gunung. Gaya yang asik, Kek.

Sesapan terakhir, escudo merah hati masih parkir di depan warung. Ternyata dagangan. Tahun 95, bodi mulus, ban 5 baru semua. Ditawarkan ke saya 70 juta. Kalau ada teman yang berminat bisa hubungi saya. Trimakasih semoga bermanfaat :mrgreen:

image

Advertisements

Teh, Kopi, Pecel, dan Mandi

Jumat minggu lalu saya pergi ke Jogja. Niatnya mau naik ke Merapi skalian pengen ketemu teman-teman lama. Berangkat dari Surabaya Kamis dinakhir hari sampai di Jogja Jumat pagi-pagi. Turun di Janti dan langsung menyebrang ke angkringan yang sudah buka untuk sekadar ngeteh. Kenapa ngeteh, tidak ngopi saja? Karena teh sesembarangannya di Jogja itu tetep lebih enak dibanding kopi terenaknya di angkringan.

Angkringan itu sudah agak ramai. Seorang bapak berseragam, 2 anak pesepeda bmx, sepasang suami istri mau berangkat kerja, dan seorang ibu penjual jamu sudah duduk di bangku pembeli. Saya memilih di pojok. Sedikit berdesakan dengan mas-mas pesepeda bmx. Rupanya mereka dari surabaya juga. Bawa sepeda di bagasi bus ke Jogja demi obsesi bermain bmx di Jogja. Obrolan yang random dan absurd pada pagi hari itu. Mungkin memang begitu, basa-basi, dan obrolan ringan penyemangat pagi.

Tak berapa lama setelah saya habiskan teh enak itu, Si Achoy sudah datang menjemputku. Mengajak sarapan pecel di depan markas brimob. Kebetulan hari itu ultahnya brimob jadi agak ramai suasana. Sedikit introgasi dari achoy tentang maksud kedatanganku menemaniku menghabiskan pecel yg agak kebanyakan.

image

Obrolan terhenti karena Achoy musti segera ke kantor. Saya pinjam motornya di rumah untuk operasional di Jogja. Alhamdulillah boleh. Senangnya punya teman begini :mrgreen:

Jogja terasa jadi sepi hari itu. Semua teman saya ke kantor. Saya ke rumah adik sepupu. Tidur pagi..zzz….

Bangun bedug duhur. Masih sepi, berdasar pantauan dari grup whatsapp masih belum ada yg bisa diculik buat teman nongkrong n ngopi-ngopi ngeteh. Yaudah tidur lagi aja.

Tiba-tiba sudah di puncak Merapi. Kedinginan, basah kuyup, tanpa ponco atau jas hujan. Hufft bangun, ternyata saya mimpi. Di luar hujan deras. Begini setiap hari kata adikku. Daripada bengong mending nyiapin bahan-bahan untuk naik gunung. Etapi ternyata sudah disiapin sama adek. Yaudin nganggur lagi deh. Ngapain? Mandi jadi pilihan terbaik sore itu. Alhamdulillah akhirnya saya mandi.


November 2014
M T W T F S S
« Oct   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930