Archive for December, 2011

Tidak Bisa Ikut ke Ungaran, Masih ada Pilihan ke Lawu

Beberapa teman ada yang mengeluh tidak bisa ikut ke Ungaran karena liburnya gak panjang.

Kenapa tidak minggu depannya, pas libur natal itu?

Karena pas natal itu saya ada rencana nemenin rekan-rekan dari kimia ITS naik ke Lawu. Jalur wisata juga, hanya sekitar 6 jam perjalanan dari pos pemberangkatan sampe pos 5/hargo dalem, asal mau berjalan terus.

Hanya di Gunung Lawu lo ada sumber air di ketinggian di atas 3000m dpl. Yaitu sendang Drajat, sendang yang tidak pernah kering meski kemarau panjang. Banyak cerita mistis tentang gunung ini. Mulai dari perjalanan yang diikuti burung jalak sampai berbagai pantangan pakaian yang sampai perlu ditulis di pos pemberangkatan. Sampai Hargo Dalem pun kita masih disuguhi tempat yang mistis juga. Seperti Pasar Dieng misalnya, pasar yang tidak ada penjualnya. Hanya berupa tumpukan batu-batu yang konon adalah pasar setan.

Itulah Gunung Lawu

Rencana Perjalanan :::

Kalo teman-teman mau gabung, rombongan dari Surabaya berangkat tanggal 23 Desember pukul 14.00. Berangakat naik bus umum menuju Maospati. Perkiraan sampai di sana pukul 18.00. Jadi yang tidak berangkat dari Surabaya bisa janjian ketemuan di Terminal Maospati ini. Dari situ perjalanan dilanjutkan dengan carter mobil menuju Cemoro Sewu (pos pemberangkatan). InsyaAllah nanti saya sediakan mobilnya kalau jumlah pesertanya sudah cukup untuk memenuhi satu mobil (8/9 orang lah).

Kalau lebih dari itu mending kita carter L300 yang ada di sekitar situ. Memang sih lebih mahal dikit tapi memang habis maghrib kendaraan umum ke atas tidak ada.

Rencana Aktivitas :::

Sesampai di Cemoro Sewu kira-kira pukul 20.00, kita dirikan tenda di situ. Menikmati malam sambil bakar-bakar ikan/ayam skaligus makan malam. Tidak perlu lama-lama karena besok paginya harus memulai perjalanan jalan kaki pagi-pagi benar.

Harapan saya tidak sampai pukul 15.00 kita sudah sampai di Hargo Dalem. Jadi bisa menikmati sunset di puncak (Hargo Dumilah). Kalau beruntung kita akan menginap di warungnya mbok yem. Cukup hangat, banyak makanan, dan pastinya tanpa harus mendirikan tenda. Jika warungnya Mbok Yem ternyata sudah penuh berarti menginap di salah satu barak yang ada di Hargo Dalem. Barak ini pun jumlahnya terbatas. Alternatifnya adalah di goa-goa atau mendirikan tenda.

Sekitar pukul 03.00 kita bangun trus berjalan ke puncak, buat ngliat sunrise. Kalau terlalu berat, melihat dari sekitar tenda pun bisa kok baru setelah itu ke puncak (lagi).

Hari minggu pukul 10.00 kita turun, insyaAllah maksimal 4 jam kita sudah di pos pemberangkatan. Istirahat sebentar, mandi kalau perlu baru cabut naik kendaraan. Bisa cari carteran/kendaraan umum dari sini.

Yup, selesai deh

Pengen gabung?
Kontak saya ya
dodikw@gmail.com

Naik Gunung (lagi)

Pertama kali saya naik gunung adalah ketika masih di bangku SMA. Ceritanya diajak sama senior buat jalan-jalan ke gunung. Waktu itu yang dituju adalah Gunung Lawu. Gunung yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tepatnya di antara Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Karanganyar.

Namanya juga pertama kali tentunya tidak ada pengalaman sama sekali. Hanya berbekal informasi dari senior saya memberanikan diri berangkat naik gunung. Bekal seadanya saya bawa pakai tas yang biasa saya pakai sekolah. Pakaian hangat pun hanya jaket dan sarung. Belum mengenal apa itu sleeping bag, nasting, atau apa lah.

Lagi-lagi karena tidak tahu, kami memilih jalur pendakian terberat. Yaitu lewat Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Jalur ini terkenal panjang dan berat ketika masuk Alas Ondo Rante. Sayang keterkenalan itu tidak sampai di telinga saya (yang pemula) ini.

Musim penghujan menambah berat perjalanan itu. Badai juga sempat kami temui di perjalanan. Membawa hasil semua bawaan saya basah kuyup. Juga gara-gara pemula dan tidak diajari cara mengemas yang baik dan benar. Pundak semakin pegal dan perut mulai keroncongan. Ternyata mendaki gunung itu lama juga, lebih dari setengah hari. Perut mulai minta diisi. Tapi sayangnya saya cuma bawa mi instan dan beberapa sachet minuman instan. Wah, salah bekal nih batin saya.

Dari pengalaman itu saya tidak mau lagi naik gunung dengan bekal seadanya. Syukur diberi kesempatan untuk mendaki gunung-gunung yang lain.

Jangan sampai salah bekal lagi.

Kali ini saya berencana untuk naik Gunung Ungaran. Gunung yang ada di Jawa tengah yang juga disebut Gunung Karundungan/Karurungan/Karungrungan.

Rencananya sih pertengahan Desember nanti tanggal 17-18. Lebih detailnya tanggal 17 pagi sudah berkumpul di pertigaan arah Bandungan. Pertigaan ini dapat dijangkau dengan naik bus umum dari arah Solo turun Pertigaan Bandungan. Kira-kira satu setengah jam dari Solo. Kalau dari arah Semarang juga turun di tempat yang sama. Hanya saya kurang paham kalau dari arah Semarang.

Dari pertigaan itu oper naik angkot sampai pasar jimbaran, Bandungan. Dari sini ada dua pilihan pendakian. Bisa langsung berjalan atau oper naik ojek menuju Promasan (Pemukiman Pemetik Teh). Tentu pendakian mulai Promasan lebih ringan, hanya 2-3 jam, dibandingkan pendakian dari Jimbaran yang bisa memakan waktu 9 jam.

Menurut informasi dari teman saya yang sudah pernah ke sana, jalur lebih nyaman jika berjalan dari Promasan saja. Apalagi kalau tujuannya sekedar refreshing.

Namun perlu diingat, sekarang sedang musim hujan. Jangan lupa membawa jas hujan atau sejenisnya. Juga, kemaslah barang bawaan dengan baik dan benar. Jadi tidak akan basah meski direndam dalam kolam selama 1 jam, hehe

Perbekalan standar yang lain juga jangan dilupakan. Seperti tenda, penerangan, alat masak, bahan makanan, makanan siap santap (untuk perjalanan), pakaian hangat, pakaian ganti, dan alat ibadah.

Harapan saya tanggal 17 malam sudah menginap di sekitar Puncak Ungaran. Jadi bisa melihat matahari terbit dari puncak nantinya. Agenda malam hari bisa diisi dengan bakar-bakar. Membawa daging ayam sepertinya bukan pilihan yang buruk. Sambil menikmati indahnya malam dari dalam sleeping bag.

Tanggal 18 pagi tinggal beres-beres untuk turun kembali. Sore harinya sudah berada di kediaman masing-masing.

Sepertinya menyenangkan dan mudah.

Akan jadi benar-benar menyenangkan kalau kita memang mempersiapkan diri dengan matang. Perbekalan standar tadi jangan sampai ada yang terlewat. Juga yang memegang peranan penting adalah kondisi fisik.

Fisik yang prima akan menjamin kelancaran perjalanan. Jadi, mulai dari sekarang sempatkanlah barang 10 menit tiap hari untuk lari-lari. Waktu yang ada tinggal 2 minggu, manfaatkan sebaik mungkin untuk memperbaiki kondisi fisik. Terutama bagi kita-kita yang pekerjaan tiap harinya hanya duduk di depan komputer.

Baik, semoga rencana ini dapat bejalan dengan lancar. Saya tunggu partisipasi dari teman-teman semua.

P.S. Sering diceritakan bahwa orang suci mendapatkan ilham ketika berada di gunung


December 2011
M T W T F S S
« Jun   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031