Archive for September, 2018

Gembiranya Bangsal Menggawe

Pertama kali berkenalan dengan komunitas Pasirputih 2013 lalu. Waktu itu saya mampir setelah turun dari Rinjani. Dikenalkan oleh salah seorang teman nun jauh di sana, mumpung di Pulau Lombok diminta mampir.

Pertama saya merasa kasihan karena waktu mau ngopi imereka pada kebingungan tidak punya kopi dan gulanya. Pun ketika mau beli pada bingung merogoh saku karena kelihatannya sedang tidak punya uang. Maafkan kami merepotkan πŸ™πŸΏπŸ˜¬.

Sekian tahun tidak bertemu lagi. Dapat kembali bertemu ketika gempa Lombok ini. Lima tahun berselang ternyata mengubah banyak hal. Terutama persepsi saya tentang Pasirputih. Dari yang dulu terlihat memprihatinkan menjadi komunitas yang keren banget. Sekali lagi itu hanya persepsi saya πŸ™πŸΏ.

Mengapa saya bilang keren bahkan banget?

Dengan aktivitas mereka di media sosial kemudian bertemu dan berbagi cerita, kekaguman saya pada komunitas ini semakin menjadi. Komunitas Pasirputih, komunitas yang terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dengan metode yang luar biasa. Salah satunya ketika mereka ingin menulis tentang Rumah Adat Segenter. Demi kedalaman tulisan mereka sampai tinggal di desa tersebut selama 1 bulan penuh. Terlibat dengan segala aktivitasnya, mengobrol dengan masyarakatnya, juga merasakan atmosfer bersosial dengan para tetangga. Tentu akan dapat mengungkap hal-hal yang tidak akan ditemui jika kita sekadar berkunjung, wawancara, mengambil video/foto, kemudian pulang. Itu hanya salah satu contoh mengapa saya bilang komunitas ini keren sekali.

Kegiatan lain yang juga tak kalah keren adalah Bangsal Menggawe. Bangsal adalah nama daerah di mana komunitas ini bermarkas. Kemudian menggawe artinya pesta. Jadi Bangsal Menggawe adalah pestanya warga Bangsal.

Penyebab munculnya kegiatan itu diawali oleh kegelisahan Komunitas Pasirputih terhadap pola kehidupan warga Bangsal yang sudah melupakan akar budayanya. Baik budaya keseharian tentang norma sosial seperti tepo seliro, rendah hati, tidak meremehkan orang lain, tidak memandang orang berdasar kekayaan materinya, maupun budaya yang berupa ritual-ritual yang sifatnya sebagai pengingat kearifan lokal. Hal itu dipicu salah satunya karena majunya pariwisata.

“Kemajuan pariwisata yang tidak dibarengi dengan kesiapan masyarakat akan menggerus budaya asli masyarakat setempat. Warga semakin materialistis dan budaya individualis semakin menguat. Gotong royong semakin sulit dilakukan karena masyarakat sibuk mencari uang sendiri-sendiri.” (Ghazali, 2018)

Hal yang disayangkan, kemajuan pariwisata ini tidak membuat budaya warga semakin kaya. Namun mereka hanya menjadi penonton dan figuran. Seperti menjadi kusir cidomo, pedagang cindera mata, dan staf pegawai hotel/resort. Harapan teman-teman Pasirputih masyarakat dapat menjadi salah satu pelaku utama pariwisata. Seperti misalnya dengan adanya festival rutin tahunan yang dilakukan oleh warga sendiri. Tentu akan menjadi tontonan yang menarik. Untuk itulah Bangsal Menggawe diadakan.

Festival yang benar-benar dari warga, oleh warga, dan untuk warga dapat sedikit mengalihkan masyarakat dari dunia materilaistik industri pariwisata. Warga yg biasanya sebagai sopir perahu penyeberangan sejenak istirahat, mengikuti Bangsal Menggawe sebagai peserta. Pun kusir cidomo, pedagang cindera mata, dan para staf hotel dan resort. Menggembirakan sekali bukan?

Advertisements

September 2018
M T W T F S S
« May   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Advertisements