Archive for February, 2009

Senangnya Hidup di Desa

Kira-kira sudah 7 bulan ini saya meninggalkan dunia perkuliahan. Mencoba cari penghidupan di desa ceritanya. Bukan karena terpaksa tapi memang berkeinginan seperti itu.
Berbekal ilmu yang sudah didapat selama lebih dari lima tahun di kota besar, saya mencoba menerapkan di kampung halaman saya tercinta, desa ngale, kecamatan paron, kabupaten ngawi, jawa timur.
Tentunya dengan penuh kepercayaan diri saya menjalani hari-hari saya di desa. Minggu-minggu awal cukup menikmati hari di rumah saja sambil melakukan pengamatan. Mencoba mempelajari harus saya mulai dari mana saya bergerak untuk desa ini.
Yak, ketemu! Dari temen cangkruk. Teman sebaya yang sering saya ajak ngobrol tentang kondisi desa tercinta ini. Awalnya sih memang berat banget mau ngajak ngobrol yang sedikit “berat”. Tapi sedikit demi sedikit keluar juga apa yang sebenarnya ada di benak mereka.
Semakin sering ngumpul akhirnya terbentuklah organisasinya. Muncullah yang namanya karang taruna, organisasi yang sudah lebih dari 5 tahun gak ada actionnya. Dan jadilah saya sebagai ketuanya.
Bagaimanakah selanjutnya..? Ikuti episode selanjutnya
(semoga bisa menyempatkan diri)

Advertisements

Bosan Cari Kerja

Dulu, sewaktu saya masih kuliah, saya nekaaaat cuti satu semester buat membikin suatu usaha. Pada awal mau cuti belum kebayang sebenarnya mau usaha apa. Pokoknya bikin usaha yang menghasilkan duit.

Berhubung waktunya cuti sudah dijalanin, mau gak mau harus ada kegiatan konkret nih. Berpikir sejenak akhirnya teringat impian saya waktu masih semester 4. Bikin laundry. Ya, laundry. Usaha yang gak bakal ada matinya, menurut saya.

Semakin lama manusia akan semakin mencari kepraktisan. Apalagi masyarakat perkotaan. Semakin sempitnya rumah tinggal, besar kemungkinan mereka tidak punya jemuran. Kalaupun punya, belum tentu mereka sempat untuk mencuci baju yang memakan waktu kurang lebih 2 jam. Ditambah lagi waktu pengeringan yang lama juga. Padahal jika mereka pegawai kantoran, waktunya sudah banyak habis untuk bekerja dan di jalan.

Maka, pilihan yang tepat untuk baju kotor jelas, laundry. Tinggal siapkan beberapa ribu, anter ke tempat laundry-an ato cukup sms, ambil pas pulang kerja sudah bersih, rapi, dan wangi.

Sebenarnya bisa juga dengan mempunyai mesin cuci dan mesin pengering sendiri. Tapi jelas dibutuhkan biaya yang terlalu besar untuk kapasitas cucian rumah tangga. Belum lagi harus ditungguin prosesnya, berarti butuh operatornya. Hem.. repot kan?

Hal seperti itu sedikit banyak mirip juga dengan dunia perkuliahan. Cuma bedanya, anak kost lebih disebabkan karena kemalasan.

Ok, kembali lagi ke topik. Dengan ide saya yang seperti itu, banyak yang menghalang-halangi niat saya. Atau paling tidak menyayangkan langkah yang saya ambil waktu itu.

Berbagai saran dan nasihat saya dapatkan. Tapi tidak sedikitpun mengubah niatku.

Waktu itu banyak yang bilang kalau pengorbanan saya terlau besar. Mengorbankan kuliah untuk membuat usaha. Berhubung waktu cuti sudah berjalan, mau tidak mau saya harus segera memulai usaha itu.

Dari mana saya mendapatkan modal? Mungkin waktu itu uang 100 ribu saja saya tidak punya. Padahal untuk memulai usaha laundry tentu butuh jutaan bahkan mungkin puluhan juta.

Saya putuskan untuk minta tolong sama teman-teman saya, barangkali ada yang mau minjemin dulu. Hasilnya nihil. Hampir satu bulan menganggur, akhirnya ada titik terang. Kakak perempuan saya menawari pinjaman. Tapi dari bank, dengan bunga sekian dan cicilan perbulan sekian. Langsung saja saya sanggupi. Walaupun belum tahu harus seperti apa ntar. Kalo kebanyakan orang memulai usahah dari nol, saya memulai dari minus. Hutang bank 15 juta plus bunganya, dicicil perbulan selama 2 tahun.

Oleh kakak saya ditanyain tentang prospeknya gimana? Kujawab dengan singkat dan meyakinkan. Selalu ada pasar untuk apa saja. Seperti kata Mikael Beckmen bintang film porno amerika serikat.

Continue reading ‘Bosan Cari Kerja’


February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728