Archive for March, 2010

PLN Penentu Sholat Jumat

Sudah 2 hari berada di Pulau Ende memberikan banyak pengalaman baru bagi saya. Mulai dari bahasa, pergaulan, sampai tentang kebiasaan masyarakatnya. Awalnya sih susah sekali mendengarkan dengan jelas pembicaraan mereka. Tapi sedikit demi sedikit saya mulai memahami, bahkan mulai tahu beberapa kata dalam bahasa Ende.

Hari ini bersyukur dapat kesempatan untuk berkeliling di wilayah kecamatan Pulau Ende. Memang Pulau Ende itu hanya ada 1 kecamatan yaitu Kecamatan Pulau Ende. Terdiri dari 7 desa yang berjajar di pesisir barat laut dan tenggara pulau. Konturnya berbukit-bukit bertanah pasir. Masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Sisanya petani dan pegawai pemerintahan.

Di beberapa rumah tampak batu nisan di halaman rumahnya. Itu adalah tempat pemakaman keluarga. Memang di sini tidak ada tempat pemakaman umum yang terpusat. Seperti menanam pohon, semua bebas memakamkan sanak saudaranya dimanapun asalkan masih tanahnya sendiri. Mencoba membayangkan kalau seperti itu ada di surabaya, pasti terlihat aneh di depan ruang tamu ada pemakaman.

Dengan posisi pemukiman penduduk yang mayoritas berjajar di pesisir barat laut memungkinkan seluruh desa bisa diakses hanya dengan satu ruas jalan. Sementara yang di pesisir tenggara juga dengan satu ruas jalan lagi. Bertemu di pertigaan kantor urusan agama seperti membentuk huruf T. Ruas jalan yang menuju pesisir timur ini melewati bukit yang puncaknya terdapat BTS salah satu operator telepon seluler.

Jika kita berada di puncak bukit itu kita akan disuguhi pemandangan yang indah Gunung Ia di sebelah timur. Salah satu gunung berapi yang masih aktif di Nusa Tenggara ini. Sementara di sebelah barat tampak membentang Pulau Flores dengan keindahannya sendiri.

Tidak sampai 30 menit saya sudah melewati seluruh desa yang ada di pulau ini. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik motor. Padahal di sini jalannya lebar lo, bahkan ada yang sudah beraspal dan rabat beton. Tapi karena memang tidak ada mobil, ya terang saja tidak bisa menempuh perjalanan menggunakan mobil.

Matahari mulai tinggi ketika saya menyempatkan mampir di satu-satunya madrasah tsanawiyah (setingkat smp). Tak berapa lama buru-buru pulang untuk menyiapkan diri mengikuti sholat jumat. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Motor yang saya naik bannya kempes. Terpaksa deh didorong, kemudian saya tanya seorang yang kebetulan lewat, “tambal ban terdekat dimana ya, pak?” Dengan santai dia menjawab, “dekat kecamatan, mas!”. Oops, bukannya kecamatan masih 2 kiloan dari sini?

Memang tidak ada pilihan lain sih sebenarnya. Padahal waktu sudah mendekati sholat jumat. Maka ojek lah alternatif terbaik saat itu.

Kaget juga ketika sama tukang ojeknya saya dikasih kunci motor. Ternyata kebiasaan di sini seperti itu. Ngojek itu harus nyetir agar tukang ojeknya tidak usah repot bertanya tujuannya. Mengenai tarif berlaku standar, maksudnya standar mereka. Jadi sangat berisiko tertipu bagi orang baru seperti saya. Asik juga cara mereka.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 tepat ketika saya sampai di rumah kembali. Tapi kok saya belum mendengar kumandang adzan ya! Apa memang belum masuk waktu dhuhur? Menurut pengalaman kemarin sih harusnya sudah masuk.

Saya lupa kalau di sini listrik hanya ada waktu malam hari. Siang hari harus rela beraktivitas tanpa aliran listrik. Tapi khusus untuk hari jumat listrik akan dialirkan menjelang pelaksanaan sholat jumat. Jadi adzan harus menunggu PLN mengalirkan listriknya. Hebat, bertambah satu lagi tugas PLN di pulau ende ini, sebagai penentu mulainya sholat jumat!

P.S. Semoga tulisan ini dibaca juga oleh direktur pln yang baru


March 2010
M T W T F S S
« Feb   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031