Archive for April, 2013

Menyusun Omnibook

Gegara akhir-akhir ini saya sering menulis status di facebook panjang-panjang banyak yang mengira saya jago menulis. Padahal baru-baru saja belajar menulis agak panjang dan bercerita. Memang sih ingin pintar menulis. Syukur-syukur beneran jadi penulis. Jadi hampir setiap kejadian yang saya alami saya coba abadikan dengan tulisan pendek serupa satu adegan cerpen. Harapan saya ketika beneran ingin menulis cerpen jadi mudah saja.

Sampai akhirnya ada teman yang punya ide membuat omnibook. Buku keroyokan gitu nulisnya. Saya diberi kesempatan untuk menyumbangkan satu cerpen. Diminta mengirimkan dua yang nantinya dipilih satu yang ditampilkan. Sebuah tantangan bagi saya yang selama ini belum pernah menulis satu cerpen pun. Kalaupun sering menulis ya di blog ini. Menulis tanpa terikat aturan-aturan.

Dari situ saya mulai belajar apa itu cerpen dan perbedaannya dengan karya sastra yang lain. Lumayan sih jadi tambah pengetahuan. Hanya belum pernah menerapkannya langsung ke tulisan. Baru tahu teorinya saja.

Tentang omnibook tadi dikasih waktu 2 minggu untuk menyelesaikan satu tulisan. Saya kira itu waktu yang lama tapi ternyata tinggal tersisa beberapa hari saja. Padahal harus menyelesaikan 10 halaman folio, setengahnya saja belum :mrgreen: .

Mahalnya Wisata di Indonesia

Niat hati ingin melatih otak membagi kerja antara melihat film dan menyusun tulisan apa daya jadinya tidak bisa memahami film dan tulisan amburadul. Itulah yang terjadi terhadap posting saya sebelum ini. Ingin menceritakan apa jadinya apa. Sampai-sampai disindir oleh Pendekar Syair Berdarah Madura lewat kolom komentar.

Mending saya ulang lagi saja pembahasan tentang wisata di Indonesia ini secara lebih runtut dan nyaman dibaca, semoga.

Sebelum dibahas lebih lanjut perlu kita sepakati hala bagaimana dan apa saja yang kita sebut wisata itu. Seperti kita tahu banyak tempat wisata di negeri ini. Mulai dari wisata alam dengan keanekaragaman keasliannya sampai wisata yang completly buatan dengan wahana-wahananya. Saya tidak akan membahas wisata buatan. Saya batasi tentang wisata alam saja. Misalnya tentang gunung, pantai, dan sekitarnya.

Seperti kita tahu negeri kita kaya akan tempat wisata. Mulai dari ujung sabang sampai pulau di ujung timur negeri berderet pilihan tempat wisata. Mau pilih gunung,pantai, atau kedalaman laut, negeri kita sangat bisa diandalakn keindahannya. Bahkan tidak mungkin kalah dengan negeri lain. Hanya kalah populer. Diantara banyak pilihan itu sebagian besar masih jarang dikunjungi. Baik oleh wisatawan lokal maupun yang dari luar negeri. Saya yakin bukan karena kalah indah. Sekali lagi hanya kalah populer.

Salah satu hal yang membuat tempat-tempat itu jarang dikunjungi adalah karena letak yang jauh. Memang jauh atau dekat itu relatif. Jauh di sini saya memakai sudut pandang saya sebagai orang yang tinggal di Jawa. Misalnya saya ambil contoh ke Raja Ampat. Tempatnya nun jauh di ujung timur negeri, di Provinsi Papua Barat sana. Transportasi yang paling memungkinkan adalah dengan pesawat terbang turun di Sorong. Tiketnya kisaran 3 juta untuk sekali jalan Surabaya-Sorong. Tentu belum bisa dikatakan harga yang murah oleh mayoritas wisatawan Indonesia. Sekalilagi hal ini memakai sudut pandang saya. Belum lagi masih harus menyeberang dengan perahu yang sewanya perhari 8 juta. Memang sih bisa diisi 20 orang yang jatuhnya 400 ribu per orang. Belum bisa dikatakan murah juga kan? Dari sisi transportasi seperti itu derajat kemahalannya. Belum ditambah penginapan.

Tidak terlalu jauh berbeda dengan di Jawa kisaran harga sewa kamar 300 ribu per malam. Hanya kelas kamar berbeda. Kamar harga segitu sama kualitasnya dengan kamar 100 ribu di Jawa.

Jika ditambah biaya makan dan lain-lain, berwisata ke Raja Ampat belum bisa dijadikan tujuan yang masuk akal bagi masyarakat Indonesia.

Sengaja saya ambil contoh yang ekstrim agar kentara perbedaannya nanti.

Bandingkan dengan tujuan wisata ke Halong Bay Vietnam. Untuk 4 hari 3 malam cukup 4-5 juta. Sudah termasuk tiket pergi-pulang dan akomodasi lengkap selama di sana. Lebih menarik yang manakah? Bergantung kantong masing-masing tentunya.

Itu lah salah satu sebab mengapa tujuan wisata di Indonesia jarang dikunjungi oleh penduduknya sendiri. Lebih banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung. Bukan karena kalah indah, belum tentu kalah populer (dalam contoh ini), hanya kalah murah. 🙂

Selain itu wisata di Indonesia jadi berkurang daya tariknya adalah karena biaya makan yang mahal. Sudah jamak kita ketahui bahwa harga makanan di tempat wisata itu pasti lebih mahal dibandingkan harga umum. Berdasar cerita teman saya yang pernah wisata ke Malaysia, di sana harga makanan tidak berbeda dengan umum. Entah sama-sama murah atau sama-sama mahalnya :mrgreen:

Disadari atau tidak hal seperti itu membuat kita enggan membeli makanan. Efek berantainya, tidak perlu saya jelaskan, tentu membuat daya tarik tempat wisata berkurang.

Hingga akhirnya saya simpulkan sendiri bahwa teman-teman yang sering berwisata keliling negeri tentunya kaya.

Wisata untuk Si Kaya

Berwisata di Indonesia itu mahal.

Mulai dari perjalanan, penginapan hingga makan semua mahal jika dibandingkan dengan kebutuhan sehari-hari.

Lihat saja harga tiket pesawat ke tempat-tempat wisata di Indonesia, selalu lebih mahal daripada ke luar negeri. Sewa kendaraan dari bandara/stasiun/terminal ke tujuan wisata juga mahal. Belum lagi kalau masih harus menggunakan moda transportasi lain. Misal menyewa perahu.

Itu baru satu hal tentang perjalanan. Tentang makanan pun seperti itu. Makanan di tempat wisata selalu lebih mahal juga. Mengapa harus seperti itu?

Sedikit banyak itu mempengaruhi minat bepergian ke tempat wisata. Itu jika diterapkan ke saya pribadi. Bisa jadi berbeda untuk orang lain.

Yang jelas, saya memimpikan tempat wisata yang murah atau bahkan gratis. Pantai sudah banyak yang dikelola swasta dengan resort-resortnya. Lereng-lereng gunung pun begitu dengan menjamurnya vila. Sulit saya bayangkan suatu saat Gunung Semeru dikuasai swasta juga. Wuih mengerikan.

Dengan makanan murah tentu pengunjung tidak akan kaget lagi dengan harga makanan di tempat wisata. Semakin nyaman lah tempat itu. Akhirnya semakin banyak juga yang datang.

Sakit rasanya ketika tempat wisata hanya untuk orang kaya.

Membukukan Buku Cangkruk

Di salah satu tempat nongkrong saya, di sanggar pramuka, ada satu buku yang unik, buku cangkruk namanya. Buku ini memuat hampir semua aktivitas di situ. Penulisnya adalah orang-orang yang nongkrong (cangkruk) di sanggar.

Isinya bisa bermacam-macam tema. Mulai dari hal-hal yang serius seperti strategi organisasi sampai curhatan bahkan sekadar penanda bahwa sudah cangkruk di sanggar. Tentu saja semua ditulis dengan sudut pandang masing-masing penulis dan bahasa ringan. Namanya juga cangkruk apa saja bisa terjadi dan tertulis.

Kebiasaan menulis di buku cangkruk itu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Tulisan pertama yang terdokumenkan adalah sejak tahun 1998. Entah sebelumnya sudah ada atau belum. Kebiasaan itu terpelihara sampai sekarang. Hanya intensitasnya saja yang berbeda. Menurun drastis dan semakin berkurang semenjak semakin populernya media sosial di internet.

Agaknya internet memang mengubah banyak hal. Termasuk kebiasaan menulis di buku cangkruk itu. Menulis di buku cangkruk yang offline tidak semenarik menulis di media online.

Ketika saya baca-baca lagi tulisan di buku cangkruk sepertinya asik juga kalau dibukukan. Dengan katagori-katagori tertentu kemudian dibagi dalam tahun-tahun penulisan agaknya menarik. Mengungkit kembali kenangan lama. Menyimpan sejarah dalam bentuk buku.

Semoga saja bisa terwujud dan banyak yang berminat. Ada pendapat?


April 2013
M T W T F S S
« Jan   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930