Archive for the 'Keringat Hidup' Category

Perjalanan ke Barat

Tempat ini tidak banyak berbeda dengan yang lain. Jalan aspal panjang dan lurus, tidak kurang dari 300 meter sepertinya, membujur dua ruas di sebelah gedung penuh kaca sebagai dindingnya. Di satu ruas berjajar pesawat-pesawat dari berbagai maskapai penerbangan. Di selanya seringkali berlalu lalang kendaraan seperti mobil golf, tapi dari suaranya, jelas punya tenaga yang lebih kuat. Entah apa nama mobil itu. Menelusup ke bawah bodi tiap pesawat, kemudian pergi dengan gandengan di belakangnya, seperti laron yang kehilangan sayapnya kemudian dibuntuti temannya, yang berisi penuh kardus dan koper. Memang begitu lah tugasnya.

Kemudian muncul pertanyaan, mengapa mobil itu tidak beratap? Bagaimana kalau hujan? Juga koper dan kardus-kardus itu. Mungkin ada knock-down roof yang saya tidak tahu. Dan barang itu tentu lebih mudah menutupnya, cukup dengan terpal bisa lah. Ah, abaikan saja.

Tanpa sempat mengambil gambar, yang terpikirkan hanya tentang isi perut yang mendesak usus besar menuju anus. Meronta seolah bersama berteriak “pring reketek gunung gamping jebol”. Biasanya teriakan itu menimbulkan semangat dan apa yang diusahakan menjadi berlipat-lipat tenaganya. Tentu hal itu bukan sesuatu yang bagus untuks saat ini.

Berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, dengan corak bunga-bunga kecil abu-abu. Berbelok ke kanan menuruni tangga berjalan. Di sebelah kiri terlihat gambar notasi laki-laki dan perempuan. Kecepatan langkahku membuat pintu itu seperti tertabrak ketika terbuka. Beberapa orang yang lebih dulu berda di dalam seperti terkaget mendengarnya. Tapi saya yakin semua memaklumi karena mungkin pernah juga mengalami keadaan yang seperti saya.

Puas bercumbu dengan benda berwarna putih bermerk seperti nama band terkenal itu, Toto menelan semua isi perut yang saya keluarkan. Usus besar sudah kosong, baru teringat kalau saya masih meninggalkan barang bawaan di bagasi. Begitu sampai di konveyor itu antrian sudah menutup seluruh sisinya. Padahal ada tiga konveyor di situ. Berada di barisan kedua, berdiri disamping seorang ibu-ibu yang kupirkirakan usianya tidak kurang dari enam puluh tahun.

“Nak, njaluk tulung urupno hapeku iki”.

Sedetik saya hanya terdiam memandang matanya, bagaimana bisa tahu kalau saya juga bisa Bahasa Jawa.

“Nggih, Mbah”, sambil mengambil hape dari tanganya.

“Arep nelpon anakku sing wes suwe ning kene, Nak”

“Sampun pinten tahun, Mbah?”

“Kira-kira yo wes anek limang tahun ning Batam kene, Nak”.

Belum sempat menimpali lagi, ujung mata kanan saya melihat barang saya ada di bagasi sebelah. Bergegas berlari menerobos barisan manusia itu dan lupa keberadaan nenek tadi. Untung sudah sempat saya nyalakan hapenya.

Menurut petunjuk yang saya dapatkan setelah keluar dari pintu Hang Nadim ini kekiri aja sampai mentok dan ketemu rumah makan padang. Bukan makanan yang saya cari, tapi counter penjualan tiket Bus Damri ada di terasnya. Lima belas ribu rupiah untuk semua jurusan. Juga untuk jurusan Jodoh yang saya ambil. Selain Jodoh juga ada Batuaji.

Busnya cukup nyaman dengan recleaning seat dan ac yang cukup dingin. Ukuran sedang yang tersedia, tidak tahu apakah ada yang bus besar atau tidak. Satu pintu ukuran satu orang di depan dan satu pintu besar di tengah bus itu. Semuanya membuka dan menutup dengan pengendali berupa tombol di dashboard pengemudi. Di sebelah pintu tengah ada tempat khusus untuk barang bawaan. Tidak besar tapi cukup dan berpagar warna hijau toska. Perjalana menuju kota pun dimulai..


August 2020
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31