Posts Tagged 'korban pendaki semeru'

Revisi Jalur Menuju Puncak Mahameru

Gunung Semeru sudah selayaknya menjadi primadona pendaki gunung. Selain karena dia adalah gunung tertinggi di Jawa juga karena pemandangan alamnya yang super keren. Bukan hal yang aneh ketika menuju semeru harus antre di pendaftaran. Seperti yang saya alami awal Mei lalu.

Kebetulan ada beberapa teman yang minta tolong ditemani mendaki Semeru. Dari Jakarta sebagian. Saya bilang siapkan saja surat keterangan sehat dari dokter dan fotokopi KTP. Perlengkapan lainnya biar saya yang siapkan. Alhamdulillah selain pekerjaan saya adalah adventure guide, saya juga punya persewaan alat camping di Surabaya. Jadi semua sudah lengkap. Tinggal bawa saja.

Kami sepakat untuk bertemu di Perhutani Tumpang 11 Mei 2017 pagi. Di situ memang tempat jeep ngetem (pool) trayek Tumpang – Ranupani. Pukul 6:30 sudah berkumpul dan siap berangkat. Tinggal nunggu jeepnya penuh saja. Tak berapa lama kamipun berangkat. Perjalanan 2 jam tidak terlalu terasa ketika rombongan lain banyak mbak – mbak yang asik. Tahu lah mbak asik itu yang gimana hehe.

Pose Wagu di Tumpang

Proses pendaftaran di Pos Ranupani cukup oke. Cepat dan tidak ribet. Meskipun antrean di briefing cukup menyita waktu tapi tidak apa – apa. Cak Yo, cukup menghibur kok dengan stand up comedynya hehe. Juga kan penting banget untuk keselamatan pendakian.

Singkat cerita hari pertama sampai di Ranu Kumbolo (Gumbolo). Pemandangan yang indah. Sedikit berawan tapi masih cukup indah untuk melihat matahari terbit. Menginap semalam kemudian paginya lanjut ke Kalimati. Tidak terlalu jauh, 3 jam berjalan santai sudah sampai. Malamnya, pukul 23 kami bersiap melanjutkan perjalanan ke Puncak Mahameru. Semua barang ditinggal di Kalimati. Cukup membawa minum, makanan untuk sarapan di jalan, juga survival kit (korek, pisau, tali, ponco).

Ranu Kumbolo yang Tertutup Kabut dan Tanjakan Cinta yang Melegenda itu

Jalur dari Kalimati ini cukup berat. Menanjak curam hingga kemiringan 45 derajat. Jalur tanah berkerikil sekitar sejam setengah kemudian berganti dengan jalur pasir berbatu setelah Kelik (nama milestone di jalur Semeru). Semenjak memasuki jalur berpasir ini jalurnya lurus ke atas. Jalur yang urus seperti itu selain berat juga berbahaya.

Berat karena tidak memakai prinsip bidang miring. Memang ada himbauan dari volunteer bahwa ketika melintasi jalur pasir diminta untuk zig-zag. Agar menjadi lebih landai. Namun karena ramainya orang dan sempitnya jalur membuat himbauan itu sulit sekali dilakukan. Kemudian berbahaya, jalurnya banyak batu besar. Semakin hari pasir yang menjadi komponen utama di jalur tersebut semakin berkurang. Bukan berkurang sih, hanya saja turun semua karena terbawa ketika pendaki turun (longsor). Hal ini menyebabkan posisi batu yang berada di jalu semakin rapuh alias mudah sekali untuk menggelinding ke bawah. Nah, karena jalurnya lurus maka besar kemungkinan menggelindingnya batu itu akan mengenai pendaki. Semakin hari semakin sering saja pendaki Semeru yang tertimpa batu di jalur pendakian. Berbeda cerita seandainya jalur menuju puncak Mahameru itu direvisi. Dibuat zig-zag agak panjang. Otomatis jalur lebih panjang. Namun lebih landai dan berkurang sisi bahaya tertimpa batu.

Ada ide lain?

Jalur Menuju Puncak Mahameru Pasir dan Berbatu

Pas Dapat Letupan yang Keren di Puncak Mahameru

Teman – teman yang Minta Diantar

Advertisements

November 2017
M T W T F S S
« May    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930