Archive Page 2

Permasalahan Petani: Pengeringan Gabah?

Sistem ijon terjadi karena petani butuh modal segera untuk memulai musim tanam. Sistem ini membuat harga gabah yg dijual tidak bisa tinggi dan dikendalikan oleh tengkulak. Petani tidak mempunyai posisi tawar. Jadi harga berapapun dari tengkulak akan diterima karena -kembali seperi di atas- petani butuh uang segera untuk mengolah tanah musim tanam.

Sementara jika gabah disimpan dulu akan muncul beberapa masalah. Selain tidak ada modal untuk musim tanam baru juga pengeringan gabah butuh modal dan tenaga lagi padahal belum ada uang.

Idealnya memang petani mempunyai modal paling tidak untuk dua kali musim. Modal mulai pengolahan tanah sampai pengeringan. Bahkan jika perlu sampai pengolahan menjadi beras baru kemudian dijual ke pasaran.

Namun hal itu bukan perkara mudah. Sangat sedikit petani yang kondisinya ideal. Bahkan tidak sedikit yang modal tanamnya didapat dari utang. Jadi ketika panen sesegera mungkin dijual untuk membayar utang dan berharap ada sisa untuk modal tanam berikutnya. Jika tidak, berarti harus utang lagi. Begitu seterusnya.

Lalu bagaimana caranya agar permasalahan modal petani dapat teratasi?

Ada dua hal yang menurut saya bisa dilakukan oleh desa dalam hal ini BUMDes selain memberi pinjaman modal.

1. Membeli mesin pengering gabah dengan kapasitas besar. Diharapkan dengan mesin tersebut gabah hasil panen bisa kering dengan hanya memakan waktu sehari/dua hari. Hasilnya petani hanya perlu menunda sehari/dua hari untuk mendapatkan uang jika berkeinginan menjual sendiri gabah keringnya. Mesin pengering disewakan dengan pembayaran bisa berupa gabah kering/uang cash. Konsekuensi yang harus diterima oleh BUMDes: investasi pembelian mesin pengering gabah, workshop pengeringan, gudang penyimpanan, pekerja, dan biaya operasional lainnya.

2. Membeli gabah basah petani dengan harga tinggi sesuai kemampuan keuangan BUMDes/Desa. Dengan begitu petani segera dapat modal untuk musim tanam berikutnya juga tidak dipermainkan tengkulak. BUMDes berani membeli dengan harga lebih tinggi dari pasaran karena produk akhirnya adalah beras kemasan bermerk. Jadi harga jual produk tersebut bisa jauh lebih tinggi dibandingkan hanya menjual gabah kering. Konsekuensi yang diterima BUMDes: investasi pembelian mesin pengering, mesin slip dan rangkaiannya, mesin pemutih beras, mesin pengemasan, workshop pengeringan, gudang penyimpanan, pekerja, mengurus perijinan penjualan beras bermerk ke pasar, dan sistem operasional lainnya.

Permodalan bisa didapatkan dari penyertaan modal desa atau investasi dengan skema yang menguntungkan kedua belah pihak. Saya yakin banyak yang sudah tahu bahwa sistem ijon itu tidak baik dan merugikan petani tapi hanya sedikit yang mempunyai akses, wewenang, dan ide bagaimana untuk menghentikannya.

Nah, dengan adanya keleluasaan sistem BUMDes sekarang ini diharapkan bisa menjadi salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk memperbaiki sistem pertanian di desa. Minimal untuk penanganan pasca panen.

Ada pendapat lain? Mari kita diskusikan.


August 2020
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31