Archive Page 2

Mengeluh, Bukan Tidak Mau, Hanya Tidak Sempat

image

Pulang kampung, rasanya berbeda antara yang rutin mingguan dan yang ketika lebaran alias mudik. Pulang kampung seminggu sekali serasa sebuah rutinitas yang menyenangkan sekaligus membosankan. Menyenangkan karena bisa sejenak beristirahat dari pekerjaan. Membosankan karena ya gitu-gitu saja. Jumat sore meninggalkan tempat kerja, dini hari sampai rumah, besok tidur, makan, tidur, futsal, makan, tidur, kemudian kembali ke tempat kerja. Sementara ketika lebaran ada sedikit selingan dengan menemui orang-orang yang biasanya sama-sama di rantau. Orang-orang yang biasanya hanya bisa disapa melalui media sosial. Kini dapat bertatap muka dan melihat ekspresi saat berbicara. Menyenangkan sekali bukan?

Lebih menyenangkan lagi jika bisa menemui orang yang biasanya hanya bisa kita kagumi lewat dunia maya. Seperti saat ini. Saya berada di rumah yang bagi saya begitu hidup. Rumah yang selalu memberi semangat menjalani hidup yang katanya perjuangan itu. Perjuangan tanpa keluhan. Bukan tidak mau hanya tidak sempat. Karena setiap detiknya berisi perjuangan.

Deretan motor tua, onggokan spare part motor di ruang tamu, dan tembok yang penuh coretan anak bercampur bekas-bekas tangan berlumur oli. Menjadi saksi dari pekerjaan tangan tentang kesempurnaan. Belum berhenti jika belum mencapai batas kemampuan. Sekali lagi tanpa keluhan, bukan tidak mau, hanya tidak sempat.

image

Advertisements

Kesedihan

Kalian ada yang pernah ditodong? Dicopet? Atau bahkan dirampok? Saya pernah, ditodong. Tragisnya itu terjadi saat saya berada di perantauan. Hampir semua yang saya punyai diminta. Bahkan untuk pulang ke kost pun kebingungan. Naik angkot takut ogkos kurang. Naik taksi di tempat tujuan pun belum tentu ada yg mau bayarin. Ojek pun begitu. Alhamdulillah banyak teman yang peduli. Sampai terharu saya disamperin ditengok bagaimana kondisiku. Bahkan pada saweran demi membantuku. Sampai saya tidak tahu harus berterima kasih dengan cara bagaimana. Ikatan pertemanan yang begitu kuat, sudah saya anggap saudara. Bersedia berkorban untuk saya. Bagaimana saya membalasnya? Hutang budi dibawa mati kata pepatah. Iya, saya pasti tidak bisa membalas kepedulian mereka. Tapi saya berusaha.

Berusaha tetap menjadi teman terbaik bagi mereka. Berkorban pun akan saya lakukan, seperti saat itu yang mereka lakukan kepada saya. Bagaimana lagi saya bisa membalas kebaikanmu teman-teman?

Mungkin nanti, suatu saat, atau mungkin sudah pernah, bahkan sering, saya membuat sesuatu hal yang kurang nyaman buat teman-teman saya mohon maaf. Ada hal-hal yang harus saya benahi. Terus belajar menjalani hidup dengan seimbang. Mungkin nanti, suatu saat, saya akan pergi meninggalkan teman-teman, saya mohon diikhlaskan. Meski tidak mungkin melupakan kebaikan dan pengorbanan teman-teman untuk saya.

Mungkin nanti, suatu saat, di antara teman-teman ada yang bilang saya lupa kacang akan kulit. Iya, tidak apa-apa mungkin saya memang pantas dianggap seperti itu. Tapi saya selalu berusaha. Saya tetap punya hutang kepada teman-teman. Ingatkan saya jika mulai lupa.

::catatan4ramadhan::

Menentang Kebebasan, Menantang Masa Depan

Sampah model baru yang cukup ngetrend belakangan ini.

Sampah model baru yang cukup ngetrend belakangan ini.

Biasanya saya membuat judul itu setelah tulisan selesai. Berbeda dengan ini tadi entah mengapa saya ingin membuat judul dulu. Padahal belum terbayang akan menulis tentang apa, yang penting bikin judul dulu saja, pikir saya. Biar nanti tulisan akan mengalir kemana biar jari yang mengarahkan. Kata orang kan judul itu ibarat wajah bagi manusia, cantik/ganteng baru kemudian diajak ngobrol (baca: stalking). Jadi judul adalah kesan pertama. baru kemudian membaca keseluruhan tulisan.

Lalu kesan apa yang hendak saya munculkan dengan judul itu? Tidak tahu, asal saja tadi bikinnya. Sekali lagi, asal. jadi tidak usah dipikirkan terlalu dalam tentang arti judul di atas :mrgreen: yang penting enak didengar dan nyaman di lidah aja.

Tadi sih kepikiran saya harus membuat tulisan sebagai penanda bahwa telah satu bulan (kurang beberapa hari sih) saya menjadi buruh. Di tulisan sebelumnya saya bilang babu 😀 yang terenggut kemerdekaan dan kebebasannya. Makanya judul pun sejalan tentang kebebasan. Kemudian setelah melalui perenungan yang tidak lama ternyata ini juga tentang masa depan. Jadilah judul itu. Ole!

Kemarin-kemarin saya merasakan stres yang cukup berat. Menjadi buruh itu ternyata berat banget. Tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya, yang tinggal menunggu perintah bos kemudian jalankan, terakhir laporkan. Tidak perlu berpikir banyak-banyak, tidak perlu berimprovisasi, tidak terlalu butuh inisiasi. Tidak, tidak seperti itu. Bukan, bukan hal-hal yang seperti itu yang membuat saya merasa berat. Bekerja dari pagi sampai dini hari pun tidak terlalu berat. Memasukkan data rekapitulasi dengan ratusan baris angkapun tidak berat. Siang-siang tengah hari bekerja di bawah terik matahari pun sudah biasa.

Lalu apa yang berat?

Saat masih pengen tidur harus sudah mandi dan pakai baju rapi. Saat gak pengen tidur malah disuruh budayakan tidur. Saat belum lapar sudah disodorin nasi di depan muka. Menunda makan sebentar agar makan saat lapar e ternyata nasi sudah habis. Makan tiga kali sehari tanpa buah sedikitpun.

Yeach, emang saya banyak komplain. Ada yang bilang “jangan ludahi sumur yang kamu minum airnya”. Tulisan ini bukan dalam rangka meludah. Hanya sarana mendeskripsikan apa sebenarnya yang membuat saya stres tidak nyaman hingga seminggu hanya bisa buang air besar dua kali ini.

Itulah tadi, sebulan ini saya berusaha mati-matian menyesuaikan diri. Sampai akhirnya tidak tahan dan mencari selingan. Sudah tahu kan selingannya apa? Iya, naik gunung. Menyelinap selama 4 hari buat ke Dieng dan naik ke Gunung Prau di Wonosobo. Memanfaatkan hari selasa yang tanggal merah serta sedikit muslihat biar bisa keluar dari kantor barang sejenak hehehe.

Singkat cerita saya bisa menyelinap buat packing di rumah Malang. Kemudian melipir negbus ke Surabaya buat nyari barengan jalan. Udah dapat barengan ternyata ditelepon Kanjeng Mami disuruh nganter-nganter. Oke, ke ngawi dulu berarti. Ternyata ngantarnya ke Surabaya. Alamaaak balik lagi ke Surabaya, nyopir. Skalian lah barengan yang dari Surabaya kubawa pulang ke Ngawi naik mobil. Kemudian oper naik bus ke arah Wonosobo. What a trip.. -____-

Jadi menuju Basecamp G. Prau Wonosobo akhirnya naik Bus Eka dari Rumah Makan Duta (yang barat) langsung tujuan Magelang. Subuh di terminal Magelang ternyata sepi sekali. Hanya terlihat satu bus yang dalam keadaan menyala stasioner. Kuhampiri, tepat, buas arah Wonosobo. Agak beberapa menit menunggu penumpang yang menyelesaikan salat subuh, kemudian berangkat. Bus ukuran 3/4 berjalan lambat. Sambil sesekali menyalakan lampu reting ke kiri dan memencet bel ketika terlihat calon penumpang di depan. Bus longgar, tas besar-besar yang kami bawa bisa ditaruh di cabin tanpa harus menambah ongkos bagasi. Jalan berliku, udara segar pagi, dan sedikit keriuhan ibu-ibu yang berangkat ke pasar menambah pelan laju bus ketika masuk wilayah Temanggung. Temanggung ini terkenal dengan tembakaunya. Dulu, ketika saya masih kecil pernah sekali lewat Temanggung, juga akan ke Wonosobo. Di kiri-kanan jalan dipenuhi kebun tembakau yang hijau segar. Kemana semua sekarang ini ya? Apa saya lewat jalan yang berbeda kah? Semoga begitu.

Penumpang naik-turun silih berganti.

“Monggo, Pak Budi” sapa penumpang saat turun. Sang sopir pun membalas, “Ngiih, ngatos-ngatos, Bu”. Tidak hanya itu. Penumpang yang naik pun tidak sedikit yang berbasa-basi sekadar sapaan pagi hari pada Sopir. Rupanya Pak Budi ini dikenal sebagai sopir yang ramah. hampir semua penumpang harian kenal dengan beliau. Armada kecil dengan trayek panjang agak aneh menurut saya. Karena terbiasa dengan bus-bus besar di daerah saya, mungkin. Sampai di Terminal Wonosobo pun tidak sempat penuh bus dengan tulisan “Simphony” di kaca depannya ini. Ongkos dua puluh lima ribu untuk perjalanan sekitar 2 jam memang terlalu mahal jika dibandingkan bus besar dengan trayek panjang seperti Selamat Group maupun Mira. Tapi cerita pagi itu membuatnya sepadan dan impas.

Dari Terminal Wonosobo disambung bus kecil ke arah Dieng. Dua puluh ribu, satu jam.

Rupanya teman-teman sudah ramai di base camp. saya langsung tidur. Capek setelah berkejaran dengan waktu dan hanya bisa tidur saat di bus. Sore harinya baru mendaki ke puncak. Jalur awal berupa anak tangga. Ada 115 anak tangga (koreksi jika saya salah) dan dilanjut dengan jalan makadam setelah sedikit jalan setapak di antara kebun kentang milik penduduk. Cukup curam, beberapa kali terlihat ada yang terpeleset karena memang jalur licin sehabis hujan. Jalur tanah basah semakin terjal dan sulit dilalui. Beberapa tanjakan dipasang tali untuk pegangan. Cukup membantu. Juga dibuatkan pijakan berbentuk anak tangga di tanah. 3 jam sampai puncak dan masih sempat mapir di warung-warung untuk menikmati gorengan dan minuman carica hangat.

Oiya, selain untuk keluar dari kesetresan saya sebenarnya di Gunung Prau itu pas ada cara bersih gunung. Pisau namanya, Peduli Sampah Prau. Jadi sekalian bersih-bersih di gunung. Seru, banyak teman baru. Sedih, area perkemahan terlihat bersih tapi di “belakangnya” daerah ring dua perkemahan sampah bertebaran. Paling banyak sampah tisu yang dipakai untuk cebok. Hmmm PR banget itu.

Beberapa sampah yang terkumpul.

Beberapa sampah yang terkumpul.

Memilah sampah antara sampah plastik, tisu/kertas, dan botol.

Memilah sampah antara sampah plastik, tisu/kertas, dan botol.

Pemilahan melibatkan pendaki di sekitar lokasi

Pemilahan melibatkan pendaki di sekitar lokasi

Sampah-sampah itu akhirnya bisa diturunkan semua

Sampah-sampah itu akhirnya bisa diturunkan semua

Suasana sarapan yang asik.

Suasana sarapan yang asik.

Salah satu peserta yang sampai menyisir seluruh puncak untuk membersihkan area perkemahan.

Salah satu peserta yang sampai menyisir seluruh puncak untuk membersihkan area perkemahan.

Beginilah cara kami membawa turun sampah dari gunung.

Beginilah cara kami membawa turun sampah dari gunung.

Dengan melibatkan seluruh pendaki yang turun, sampah kami titipkan ke semua yang bersedia.

Dengan melibatkan seluruh pendaki yang turun, sampah kami titipkan ke semua yang bersedia.

Sampah yang terkumpul dibagi dalam kantong yang lebih kecil agar lebih mudah dibawa turun.

Sampah yang terkumpul dibagi dalam kantong yang lebih kecil agar lebih mudah dibawa turun.

Seminggu Jadi Babu

Terhitung selasa kemarin saya sudah dua minggu berada di sini. Kok judulnya seminggu? Iya, kalau dua minggu jadi kurang asik irama kata-katanya hehe. Menjadi babu sebelumnya tidak pernah terlintas sedikitpun dalam otak. Ternyata keadaan berkata lain. Dari sejak lulus selesai kuliah tak seharipun ada kewajiban mengisi presensi ke “kantor”. Sampai akhirnya sekarang ada seorang teman yang bilang saya dikatain sudah menjual kemerdakaan diri haha. Iya kayaknya ya?

Terserah lah mau dibilang apa. Tidak merdeka atau terbelenggu ya nggak apa-apa. Toh kenyataannya saya memang harus bangun pagi-pagi, mandi, kemudian buru-buru ke kantor untuk kemudian duduk di depan layar komputer. Banyak ya orang yang seperti itu? Iya, saya memang jadi kayak kebanyakan orang sekarang. Tidak outstanding lagi. :mrgreen:

Hari-hari awal saya banyak belajar tentang bagaimana itu melakukan pengecoran. Mulai dari rigid pavement memakai mesin paver canggih sampai rigid manual untuk bahu jalan.

Mesin paver itu canggih banget ya ternyata. Meratakan concrete, kemudian diberi getaran agar kerapatannya seragam, lalu menghaluskan permukaannya bisa dilakukan oleh satu mesin dengan ukuran lebar dan ketebalan yang presisi. Masih ditambah denga pemasangan T-bar yang juga otomatis. Tapi tetap saja untuk sentuhan akhir hanya bisa dilakukan oleh tangan manusia. Tangan-tangan terampil itu menghaluskan permukaan rigid dengan alat bernama “ondrong”. 😀

Biasanya dimulai sore hari setelah solat maghrib dan selesai tengah malam menjelang dini hari. Sengaja memang pengecoran selalu dilakukan saat matahari sudah terbenam atau paling tidak sudah tidak terlalu panas. Karena proses pengeringan yang terlalu cepat, akibat terpapar matahari siang, tidak baik untuk beton. Beton akan patah dan terjadi retakan di sana-sini.

Begitu itu setiap hari sampai akhirnya nanti suatu saat saya sudah tidak bisa menangkap detail dari pekerjaan itu. Jadi ini mumpung masih segar di otak saya tulis saja. Tidak apa-apa tidak dibaca orang tapi kata orang bijak ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Perkara saya tidak merdeka lagi karena sudah jadi babu, dua minggu, biarkan itu saya selesaikan dengan batin saya. Pusing 😐

Selamat Datang di WordPress (kembali)

Wirtgen SP 84i Concrete Paver

Wirtgen SP 84i Concrete Paver

Lama nian tidak menyentuh blog ini. Mumpung sekarang ada aktivitas baru barangkali bisa selalu jadi bahan tulisan. Kemarin pernah bertekat menulis setiap hari di blog ini. Bertepatan dengan International Blog Day waktu itu. Ternyata niat tinggallah niat tanpa pernah terwujud. Satu dua hari muncul tulisan. Selebihnya hanya sempat muncul diangan akan ide tulisan.

Nah, ceritanya ini sekarang saya “bekerja”. Iya BEKERJA haha. Setelah sekian tahun hanya berkegiatan memenuhi nafsu sendiri. Sekarang bekerja seperti orang-orang pada umumnya itu. Berangkat pagi pulang sore kadang malam hari. Saat akhir pekan libur kadang juga lembur. Saat akhir bulan cemas menunggu tanggal gajian kadang juga gaji sudah habis duluan. hehe

Tapi itu semua baru bayangan saya. Kenapa? karena hari ini saya baru hari kedua di pekerjaan. Hari pertama langsung dihajar sampai malam. Ada pekerjaan rigid beton sepanjang 200m dan harus nungguin sampai selesai. Total menghabiskan 172 meter kubik beton dan membutuhkan waktu lebih kurang 7 jam untuk menghampar dan meratakannya.

Tugas saya ngapain? Ngeliat aja sih. Apa saja yang terjadi di situ kemudian dicatat. Itu saja? Iya, itu saja. Tidak lebih. Ceritanya saya memang dalam fase belajar (lagi) tentang pengecoran.

:mrgreen: Have a nice day everybody :mrgreen:

Jadi Kalau Ditodong Mending Melawan atau Gak?

Iya, tadi malem itu saya ditodong di dalam angkot D-01 jurusan Ciputat-Kebayoran. Entah kejadiannya pas dimana. Saya belum hafal Jakarta. Alhamdulillah saya tidak apa-apa meski handphone dan dompet dirampas. Ada sedikit perlawanan eh pisau udah nempel di perut. Yaudah, diam lebih baik. Kerah baju juga udah ditarik hahah

Seru juga sih jadi pengalaman pertama digituin. Semoga juga yang terakhir.

Escudo Jalan Rejeki

Membicarakan pagi memang selalu menyenangkan buatku. Seperti pagi kemarin, gegoleran di kasur depan televisi. Belum mandi dan belum sarapan. Hanya dua butir mangga sudah gak sengaja masuk ke perut :mrgreen:. Ngopi juga belum apalagi aktivitas berat yang lain.

Pagi yang santai itu berubah seketika saat kanjeng mami minta dianter ke btpn. Tidak mandi sekadar gosok gigi. Cuci muka juga tak pake busa. Cus brangkat.

Lima belas menit sampai juga du btpn. Sepertinya kanjeng mami bakal lama di dalam. Sambil nunggu saya sempetin ke warkop di depan. “Kopi buk satu, item”, kataku pada ibu penjual. Tak sampai semenit sudah jadi aja itu kopi. Wuih fast service. Rupanya suaminya yang menghidangkan dan selalu merebus air. Jadi sewaktu-waktu ada yang pesan kopi tinggal seduh saja. Pantas saja pelayanannya cepat.

Warung itu cukup nyaman. Tepat berada di bawah pohon mangga yang sudah tua. Saking tuanya terlihat dahannya sudah banyak yg lapuk. Juga benalu sudah tampak mendominasi. Suasana teduh itu semakin nyaman dengan adanya bale-bale yang cukup besar yang biasa dipake pembeli untuk bersantai. Sebenarnya warung itu awalnya hanyalah sebuah kios rokok. Gerobak hibah dari salah satu brand roko dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa digabung dengan dapur dan tempat nongkrong.

Awal saya datang sudah ada beberapa orang berpakaian formal. Celana hitam, sepatu pantofel, dan hem berjaket hitam. Sibuk dengan telepon masing-masing. Melihat gayanya biasanya ini teman-teman dari finance. Satu orang membaca koran, korannya tidak terbalik jadi benar sia sedang membaca koran, bukan bersembunyi dari sesuatu hehe.

Saya memilih duduk di ujung warung. Satu kursi tanpa sandaran di ujung meja. Kursi itu sudah ditumpuk, jadi 2 kursi rapuh dijadikan satu agar saling menguatkan.

Bapak yang tadi membaca koran tampak agak mendekat ke saya. Sudah sepuh, rambutnya sudah banyak beruban. Jam g-shock di tangannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa bapak ini sudah purna tugas dari pekerjaannya. Membuka percakapan basa basi,
“Sama ibunya mas?”
“Iya, Pak. Sudah dari tadi di dalam kok belum selesai”
“La ngurus apa to, Mas?”
“Kurang tau, Pak. Tadi sih sepertinya menyerahkan berkas saja”.
“Ooo..”

Sepertinya kehabisan obrolan. Dan saya tidak balas balik tanya. Tapi ternyata tidak.

“Rumahnya mana, Mas?
“Nganu (menyebut nama tempat)”
“Owh sama rumahnya Bu Sri?”
“Saya dari pasar ke utara, Pak. Bukan ke Selatan”.
“Kerja di mana, Mas?”
….

Kemudian hening…

Bukan sekali saya dapat pertanyaan seperti itu. Sayangnya saya selalu belum punya jawaban yang tepat 😀 .

Kembali menyesap kopi. Seseorang datang lagi. Mengendarai megapro terbaru. Di jok belakang tertumpang 2 ember kosong. Sepertinya tempat tahu. Iya, bapak itu pedagang tahu. Masih pagi tapi dagangannya sudah habis. Pastinya semenjak subuh tadi beliau sudah berkeliling. Menyusul di belakangnya seorang kakek-kakek bersepeda tua, celana jeans pendek selutut, topi, dan sandal gunung. Gaya yang asik, Kek.

Sesapan terakhir, escudo merah hati masih parkir di depan warung. Ternyata dagangan. Tahun 95, bodi mulus, ban 5 baru semua. Ditawarkan ke saya 70 juta. Kalau ada teman yang berminat bisa hubungi saya. Trimakasih semoga bermanfaat :mrgreen:

image


October 2019
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Advertisements