Archive Page 2

Seminggu Jadi Babu

Terhitung selasa kemarin saya sudah dua minggu berada di sini. Kok judulnya seminggu? Iya, kalau dua minggu jadi kurang asik irama kata-katanya hehe. Menjadi babu sebelumnya tidak pernah terlintas sedikitpun dalam otak. Ternyata keadaan berkata lain. Dari sejak lulus selesai kuliah tak seharipun ada kewajiban mengisi presensi ke “kantor”. Sampai akhirnya sekarang ada seorang teman yang bilang saya dikatain sudah menjual kemerdakaan diri haha. Iya kayaknya ya?

Terserah lah mau dibilang apa. Tidak merdeka atau terbelenggu ya nggak apa-apa. Toh kenyataannya saya memang harus bangun pagi-pagi, mandi, kemudian buru-buru ke kantor untuk kemudian duduk di depan layar komputer. Banyak ya orang yang seperti itu? Iya, saya memang jadi kayak kebanyakan orang sekarang. Tidak outstanding lagi. :mrgreen:

Hari-hari awal saya banyak belajar tentang bagaimana itu melakukan pengecoran. Mulai dari rigid pavement memakai mesin paver canggih sampai rigid manual untuk bahu jalan.

Mesin paver itu canggih banget ya ternyata. Meratakan concrete, kemudian diberi getaran agar kerapatannya seragam, lalu menghaluskan permukaannya bisa dilakukan oleh satu mesin dengan ukuran lebar dan ketebalan yang presisi. Masih ditambah denga pemasangan T-bar yang juga otomatis. Tapi tetap saja untuk sentuhan akhir hanya bisa dilakukan oleh tangan manusia. Tangan-tangan terampil itu menghaluskan permukaan rigid dengan alat bernama “ondrong”. 😀

Biasanya dimulai sore hari setelah solat maghrib dan selesai tengah malam menjelang dini hari. Sengaja memang pengecoran selalu dilakukan saat matahari sudah terbenam atau paling tidak sudah tidak terlalu panas. Karena proses pengeringan yang terlalu cepat, akibat terpapar matahari siang, tidak baik untuk beton. Beton akan patah dan terjadi retakan di sana-sini.

Begitu itu setiap hari sampai akhirnya nanti suatu saat saya sudah tidak bisa menangkap detail dari pekerjaan itu. Jadi ini mumpung masih segar di otak saya tulis saja. Tidak apa-apa tidak dibaca orang tapi kata orang bijak ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Perkara saya tidak merdeka lagi karena sudah jadi babu, dua minggu, biarkan itu saya selesaikan dengan batin saya. Pusing 😐

Advertisements

Selamat Datang di WordPress (kembali)

Wirtgen SP 84i Concrete Paver

Wirtgen SP 84i Concrete Paver

Lama nian tidak menyentuh blog ini. Mumpung sekarang ada aktivitas baru barangkali bisa selalu jadi bahan tulisan. Kemarin pernah bertekat menulis setiap hari di blog ini. Bertepatan dengan International Blog Day waktu itu. Ternyata niat tinggallah niat tanpa pernah terwujud. Satu dua hari muncul tulisan. Selebihnya hanya sempat muncul diangan akan ide tulisan.

Nah, ceritanya ini sekarang saya “bekerja”. Iya BEKERJA haha. Setelah sekian tahun hanya berkegiatan memenuhi nafsu sendiri. Sekarang bekerja seperti orang-orang pada umumnya itu. Berangkat pagi pulang sore kadang malam hari. Saat akhir pekan libur kadang juga lembur. Saat akhir bulan cemas menunggu tanggal gajian kadang juga gaji sudah habis duluan. hehe

Tapi itu semua baru bayangan saya. Kenapa? karena hari ini saya baru hari kedua di pekerjaan. Hari pertama langsung dihajar sampai malam. Ada pekerjaan rigid beton sepanjang 200m dan harus nungguin sampai selesai. Total menghabiskan 172 meter kubik beton dan membutuhkan waktu lebih kurang 7 jam untuk menghampar dan meratakannya.

Tugas saya ngapain? Ngeliat aja sih. Apa saja yang terjadi di situ kemudian dicatat. Itu saja? Iya, itu saja. Tidak lebih. Ceritanya saya memang dalam fase belajar (lagi) tentang pengecoran.

:mrgreen: Have a nice day everybody :mrgreen:

Jadi Kalau Ditodong Mending Melawan atau Gak?

Iya, tadi malem itu saya ditodong di dalam angkot D-01 jurusan Ciputat-Kebayoran. Entah kejadiannya pas dimana. Saya belum hafal Jakarta. Alhamdulillah saya tidak apa-apa meski handphone dan dompet dirampas. Ada sedikit perlawanan eh pisau udah nempel di perut. Yaudah, diam lebih baik. Kerah baju juga udah ditarik hahah

Seru juga sih jadi pengalaman pertama digituin. Semoga juga yang terakhir.

Escudo Jalan Rejeki

Membicarakan pagi memang selalu menyenangkan buatku. Seperti pagi kemarin, gegoleran di kasur depan televisi. Belum mandi dan belum sarapan. Hanya dua butir mangga sudah gak sengaja masuk ke perut :mrgreen:. Ngopi juga belum apalagi aktivitas berat yang lain.

Pagi yang santai itu berubah seketika saat kanjeng mami minta dianter ke btpn. Tidak mandi sekadar gosok gigi. Cuci muka juga tak pake busa. Cus brangkat.

Lima belas menit sampai juga du btpn. Sepertinya kanjeng mami bakal lama di dalam. Sambil nunggu saya sempetin ke warkop di depan. “Kopi buk satu, item”, kataku pada ibu penjual. Tak sampai semenit sudah jadi aja itu kopi. Wuih fast service. Rupanya suaminya yang menghidangkan dan selalu merebus air. Jadi sewaktu-waktu ada yang pesan kopi tinggal seduh saja. Pantas saja pelayanannya cepat.

Warung itu cukup nyaman. Tepat berada di bawah pohon mangga yang sudah tua. Saking tuanya terlihat dahannya sudah banyak yg lapuk. Juga benalu sudah tampak mendominasi. Suasana teduh itu semakin nyaman dengan adanya bale-bale yang cukup besar yang biasa dipake pembeli untuk bersantai. Sebenarnya warung itu awalnya hanyalah sebuah kios rokok. Gerobak hibah dari salah satu brand roko dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa digabung dengan dapur dan tempat nongkrong.

Awal saya datang sudah ada beberapa orang berpakaian formal. Celana hitam, sepatu pantofel, dan hem berjaket hitam. Sibuk dengan telepon masing-masing. Melihat gayanya biasanya ini teman-teman dari finance. Satu orang membaca koran, korannya tidak terbalik jadi benar sia sedang membaca koran, bukan bersembunyi dari sesuatu hehe.

Saya memilih duduk di ujung warung. Satu kursi tanpa sandaran di ujung meja. Kursi itu sudah ditumpuk, jadi 2 kursi rapuh dijadikan satu agar saling menguatkan.

Bapak yang tadi membaca koran tampak agak mendekat ke saya. Sudah sepuh, rambutnya sudah banyak beruban. Jam g-shock di tangannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa bapak ini sudah purna tugas dari pekerjaannya. Membuka percakapan basa basi,
“Sama ibunya mas?”
“Iya, Pak. Sudah dari tadi di dalam kok belum selesai”
“La ngurus apa to, Mas?”
“Kurang tau, Pak. Tadi sih sepertinya menyerahkan berkas saja”.
“Ooo..”

Sepertinya kehabisan obrolan. Dan saya tidak balas balik tanya. Tapi ternyata tidak.

“Rumahnya mana, Mas?
“Nganu (menyebut nama tempat)”
“Owh sama rumahnya Bu Sri?”
“Saya dari pasar ke utara, Pak. Bukan ke Selatan”.
“Kerja di mana, Mas?”
….

Kemudian hening…

Bukan sekali saya dapat pertanyaan seperti itu. Sayangnya saya selalu belum punya jawaban yang tepat 😀 .

Kembali menyesap kopi. Seseorang datang lagi. Mengendarai megapro terbaru. Di jok belakang tertumpang 2 ember kosong. Sepertinya tempat tahu. Iya, bapak itu pedagang tahu. Masih pagi tapi dagangannya sudah habis. Pastinya semenjak subuh tadi beliau sudah berkeliling. Menyusul di belakangnya seorang kakek-kakek bersepeda tua, celana jeans pendek selutut, topi, dan sandal gunung. Gaya yang asik, Kek.

Sesapan terakhir, escudo merah hati masih parkir di depan warung. Ternyata dagangan. Tahun 95, bodi mulus, ban 5 baru semua. Ditawarkan ke saya 70 juta. Kalau ada teman yang berminat bisa hubungi saya. Trimakasih semoga bermanfaat :mrgreen:

image

Teh, Kopi, Pecel, dan Mandi

Jumat minggu lalu saya pergi ke Jogja. Niatnya mau naik ke Merapi skalian pengen ketemu teman-teman lama. Berangkat dari Surabaya Kamis dinakhir hari sampai di Jogja Jumat pagi-pagi. Turun di Janti dan langsung menyebrang ke angkringan yang sudah buka untuk sekadar ngeteh. Kenapa ngeteh, tidak ngopi saja? Karena teh sesembarangannya di Jogja itu tetep lebih enak dibanding kopi terenaknya di angkringan.

Angkringan itu sudah agak ramai. Seorang bapak berseragam, 2 anak pesepeda bmx, sepasang suami istri mau berangkat kerja, dan seorang ibu penjual jamu sudah duduk di bangku pembeli. Saya memilih di pojok. Sedikit berdesakan dengan mas-mas pesepeda bmx. Rupanya mereka dari surabaya juga. Bawa sepeda di bagasi bus ke Jogja demi obsesi bermain bmx di Jogja. Obrolan yang random dan absurd pada pagi hari itu. Mungkin memang begitu, basa-basi, dan obrolan ringan penyemangat pagi.

Tak berapa lama setelah saya habiskan teh enak itu, Si Achoy sudah datang menjemputku. Mengajak sarapan pecel di depan markas brimob. Kebetulan hari itu ultahnya brimob jadi agak ramai suasana. Sedikit introgasi dari achoy tentang maksud kedatanganku menemaniku menghabiskan pecel yg agak kebanyakan.

image

Obrolan terhenti karena Achoy musti segera ke kantor. Saya pinjam motornya di rumah untuk operasional di Jogja. Alhamdulillah boleh. Senangnya punya teman begini :mrgreen:

Jogja terasa jadi sepi hari itu. Semua teman saya ke kantor. Saya ke rumah adik sepupu. Tidur pagi..zzz….

Bangun bedug duhur. Masih sepi, berdasar pantauan dari grup whatsapp masih belum ada yg bisa diculik buat teman nongkrong n ngopi-ngopi ngeteh. Yaudah tidur lagi aja.

Tiba-tiba sudah di puncak Merapi. Kedinginan, basah kuyup, tanpa ponco atau jas hujan. Hufft bangun, ternyata saya mimpi. Di luar hujan deras. Begini setiap hari kata adikku. Daripada bengong mending nyiapin bahan-bahan untuk naik gunung. Etapi ternyata sudah disiapin sama adek. Yaudin nganggur lagi deh. Ngapain? Mandi jadi pilihan terbaik sore itu. Alhamdulillah akhirnya saya mandi.

Menyusur Nikmat Elok Rinjani (bagian 2)

Pagi-pagi saya sudah bangun. Panggilan alam terhadap perut tidak bisa ditahan. Tengak-tengok di sekitar kamar mandi berusaha mencari wc. Tapi sepertinya memang tidak ada. Berlari ke tetangga, tak kutemukan juga. Huuufft..

Sayapun bertanya ke Paman, “Paman, wc-nya dimana ya?”.
“Tidak ada, Mas. Kami kalau buang hajat di sawah di sana”, sambil menunjuk ke belakang rumah.

Baiklah…

Ritual pagi selesai. Desa Sukarara tampak menarik dari tempat nongkrong buang hajat pagi ini

(semoga bersambung)

Peringatan Hari Blogger Bertualang dengan Motor

Malam Jumat saya berangkat meninggalkan Surabaya. Memakai kostum pengembara bermotor. Jaket kulit, kaos tangan, dan helm teropong melengkapi kostum. Tidak seperti biasanya dengan carrier di punggung, kali ini cukup tas kecil yang tertempel ketat di tanki motor. Iya, saya mau touring. Tidak seperti biasanya bertualang dengan jalan kaki.

Jalur pantura menjadi rute kali ini. Meningglakan Surabaya menuju Gresik, Lamongan, Tuban, dan seterusnya berakhir di Jepara. Demi sebuah pengalaman.

Rupanya perjalanan tidak semulus yang saya perkirakan. Belum juga meninggalkan Surabaya terjadi kecelakaan di perempatan daerah Pesapen, Surabaya Barat. Ketika hendak mampir House of Sampoerna. Membuat shock depan yang kanan motor bengkok. Masih untung motor masih mau jalan meskidengan stir bengkok ke kiri dan tanpa peredam kejut.

Perjalanan harus tetap dilanjutkan karena ada janji dengan banyak orang di Jepara. Meski malam hari saya coba mencari bengkel yang buka untuk memperbaiki motor. Syukur ketemu di daerah jalan Demak. Dengan sedikit pemaksaan keadaan shock mendekati normal tapi masih bengkok. Jadi masih belum bisa nyekok.

Sudah menjelang tengah malam ketika motor selesai diperbaiki. Dengan keadaan seperti itu perjalanan dilanjutkan. Target Lamongan.

Sudah pukul 2 dini hari tiba di rest area Lamongan kota. Bersama para sopir truk istirahatkan badan menunggu pagi. Berharap paginya ada toko spare part yang buka dan bisa beli tabung shock absorber yang baru. Hari Jumat, menurut informasi di warkop pagi itu, hampir semua bengkel tutup.

Benar adanya. Suram.

Setelah sarapan dan pencarian yang tidak membuahkan hasil perjalanan lanjut ke Babat. Di daerah ini ada bengkel AHASS yang lumayan besar. Semoga ada suku cadangnya. Yak dapat, meski dengan harga tinggi karena memang original.

Alhasil shock sudah normal dan perjalanan berlanjut.

Sholat Jumat di daerah Bancar, Tuban. Masjid yang cukup bersih dan nyaman untuk mandi sebelum ibadah. Berlanjut berburu makan siang, lontong kikil.

Menjelang ashar sudah sampai alun-alun Rembang. Teringat ada teman yang rumahnya sekitar situ. Saya sempatkan mampir. Rejeki, bisa ketemu dan cowoknya juga. Seorang pemandu wisata -seperti saya- untuk daerah Rembang dan Lasem yang terkenal dengan kota tua bangunan Tiongkok dan batiknya. Perjalanan berubah menyenangkan karena ada kesepakatan-kesepakatan dengan dia tentang wisata. Artinya bisa bekerjasama dengan dia kalau ada tamu yang meminta dipandu berwisata di daerah Lasem.

Cukup lama berbincang dan dikenalkan dengan makanan khas Rembang, yaitu Lontong Tuyuhan dan Sate Serepeh. Lontong dengan kare ayam yang mayoritas penjualnya dari daerah Tuyuhan. Mungkin juga awalnya yang menjual adalah orang Tuyuhan. Jadi dinamakan Lontong Tuyuhan. Sayang sekali penjual Sate Serepeh tutup jadi belum tahu penampakannya seperti apa.

Selesai maghrib baru meninggalkan Rembang lanjut ke Pati, Kudus, dan langsung ke Jepara.

Sampai di Jepara saya hubungi teman yang ada di sana. Berharap dapat tempat menginap gratis. Alhamdulillah dapat. Jadi besoknya bisa dengan segar menyambut tamu dari Jakarta yang ingin berwisata di Karimunjawa.

Selamat malam dan selamat beristirahat saya ucapkan ke dinding kamar itu. Sampai bertemu lagi di edisi selanjutnya, tentang wisata di Karimunjawa.


September 2017
M T W T F S S
« May    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930