Archive for the 'Bingung' Category

Menghargai / Menyayangi Sahabat

Saya menyadari, saya bukanlah orang yang peka terhadap perasaan orang lain. Hal itulah yang sering kali sebagai penyebab saya melakukan kebodohan dalam berinteraksi dengan sahabat. Akhirnya dia merasa terlukai hatinya. Parahnya, saya tidak tahu kalau dia terlukai. Tentunya saya pun jadi tidak tahu juga apa penyebab luka hatinya. Meskipun hal itu sering terulang tapi tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

Menceritakan semua hal, sering kali saya lakukan. Walaupun kadang saya merasa membebani dia dengan cerita-cerita yang tidak bermutu. Tanpa saya bertanya apa dia sedang ada masalah atau tidak. Atau balik bertanya dia ada cerita apa. Tapi tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

Bertukar kabar tentu hal yang sangat biasa dilakukan. Meski sekedar say good morning atau sampai bertukar info. Tapi sering kali hal-hal sederhana seperti itu terlewatkan. Entah karena apa. Saya pun tidak tahu pasti kenapa saya sering melewatkan itu. Mungkin memang saya tidak becus dalam bersahabat. Atau mungkin inilah yang dia namakan tidak menghargai. Hal-hal yang sederhana saja saya tidak bisa apalagi hal yang lebih rumit -kalu mungkin ada-. Tapi tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

Huft, banyak sekali kebodohan dan ketidakbecusan saya. Menghargai memang sangat relatif. Tapi saya tidak mau berlindung dibalik kerelatifan itu. Tetap saya merasa berdosa ketika dia tidak mau cerita bagaimana itu, pokoknya sakit hati titik. Berarti memang saya harus lebih banyak lagi belajar tentang bagaimana menghargai sahabat itu. Karena tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

Advertisements

Iseng Nulis Marketing in Venus

Tidak tahu kenapa saya susah sekali untuk membuat tulisan di blog ini. Padahal setiap hari menjelang tidur banyak sekali ide melintas di otak. Yang  setiap malam itu juga selalu saya tetapkan sebagai bahan untuk posting di sini. Tapi ternyata begitu sampai di depan monitor hilang semua, menguap entah kemana.

Jadi daripada bingung saya menulis sekenanya saja. Yang penting semua kata-katanya nyambung.

Ah…akhirnya ada ide nih.

Sudah empat hari ini saya menulis status di facebook tentang Marketing in Venus.

Marketing in Venus, istilah yang digunakan Hermawan Kartajaya (HK) untuk menjelaskan konsep marketing di bumi yang sudah menajdi venus. Seperti telah kita ketahui venus itu diidentikkan dengan perempuan. Dimana perempuan itu lebih mengutamakan “feel” dalam bersikap dibandingkan “ratio”.

Jadi buku itu menjelaskan bagaimana konsep marketing yang pas bagi “perempuan”. Kenapa saya beri tanda petik pada kata permpuan? Karena tidak hanya perempuan yang asli saja tapi juga laki-laki yang lebih perempuan. Bukan berarti mereka banci atau gay tapi lebih berarti laki-laki di venus itu lebih emosional, lebih perhatian terhadap “feel” itu tadi.

Oke, kembali lagi ke topik.

Kenapa saya menulis tentang itu? Karena eh karena saya baru saja menyelesaikan membaca buku itu, karangannya HK. Buku terbitan tahun 2003 itu sudah lama di tangan tapi tak kunjung selesai terbaca. Entah karena memang saya malas membaca atau karena ada yang lain yang lebih menarik.

Yang jelas akhirnya buku itu selesai saya baca minggu lalu.

Biarpun sudah selesai saya baca jangan dikira saya mengerti dan paham semua isinya. Disamping karena isinya banyak juga karena HK ini sering banget memakai istilah asing. Jadinya ya gitu deh, nggak paham. Mohon maklum saya memang payah dengan bahasa asing..

Lalu kenapa saya tuliskan di status facebook saya?

Pertanyaan seperti itu juga ditanyakan oleh bang bonjol (salah satu teman saya di fb). “Kenapa sih kok sampai segitunya?” begitu tanya dia.

Saya jawab agak serius waktu itu (biar kliatan keren, he..he..). Padahal aslinya ya iseng aja. Mungkin dengan menuliskan itu semua saya jadi paham apa yang sebelumnya tidak saya ketahui. Berharap dapat komen-komen yang banyak dan “menjelaskan” apa yang saya tulis (sok seleb banget).

Nah, karena saya bukan seleb fb jadinya ya…sampai sekarang saya belum terlalu paham tentang apa yang saya tulis.

-semoga dengan ini akhirnya lebih banyak yang akan memberi masukan-

PLN Penentu Sholat Jumat

Sudah 2 hari berada di Pulau Ende memberikan banyak pengalaman baru bagi saya. Mulai dari bahasa, pergaulan, sampai tentang kebiasaan masyarakatnya. Awalnya sih susah sekali mendengarkan dengan jelas pembicaraan mereka. Tapi sedikit demi sedikit saya mulai memahami, bahkan mulai tahu beberapa kata dalam bahasa Ende.

Hari ini bersyukur dapat kesempatan untuk berkeliling di wilayah kecamatan Pulau Ende. Memang Pulau Ende itu hanya ada 1 kecamatan yaitu Kecamatan Pulau Ende. Terdiri dari 7 desa yang berjajar di pesisir barat laut dan tenggara pulau. Konturnya berbukit-bukit bertanah pasir. Masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Sisanya petani dan pegawai pemerintahan.

Di beberapa rumah tampak batu nisan di halaman rumahnya. Itu adalah tempat pemakaman keluarga. Memang di sini tidak ada tempat pemakaman umum yang terpusat. Seperti menanam pohon, semua bebas memakamkan sanak saudaranya dimanapun asalkan masih tanahnya sendiri. Mencoba membayangkan kalau seperti itu ada di surabaya, pasti terlihat aneh di depan ruang tamu ada pemakaman.

Dengan posisi pemukiman penduduk yang mayoritas berjajar di pesisir barat laut memungkinkan seluruh desa bisa diakses hanya dengan satu ruas jalan. Sementara yang di pesisir tenggara juga dengan satu ruas jalan lagi. Bertemu di pertigaan kantor urusan agama seperti membentuk huruf T. Ruas jalan yang menuju pesisir timur ini melewati bukit yang puncaknya terdapat BTS salah satu operator telepon seluler.

Jika kita berada di puncak bukit itu kita akan disuguhi pemandangan yang indah Gunung Ia di sebelah timur. Salah satu gunung berapi yang masih aktif di Nusa Tenggara ini. Sementara di sebelah barat tampak membentang Pulau Flores dengan keindahannya sendiri.

Tidak sampai 30 menit saya sudah melewati seluruh desa yang ada di pulau ini. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik motor. Padahal di sini jalannya lebar lo, bahkan ada yang sudah beraspal dan rabat beton. Tapi karena memang tidak ada mobil, ya terang saja tidak bisa menempuh perjalanan menggunakan mobil.

Matahari mulai tinggi ketika saya menyempatkan mampir di satu-satunya madrasah tsanawiyah (setingkat smp). Tak berapa lama buru-buru pulang untuk menyiapkan diri mengikuti sholat jumat. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Motor yang saya naik bannya kempes. Terpaksa deh didorong, kemudian saya tanya seorang yang kebetulan lewat, “tambal ban terdekat dimana ya, pak?” Dengan santai dia menjawab, “dekat kecamatan, mas!”. Oops, bukannya kecamatan masih 2 kiloan dari sini?

Memang tidak ada pilihan lain sih sebenarnya. Padahal waktu sudah mendekati sholat jumat. Maka ojek lah alternatif terbaik saat itu.

Kaget juga ketika sama tukang ojeknya saya dikasih kunci motor. Ternyata kebiasaan di sini seperti itu. Ngojek itu harus nyetir agar tukang ojeknya tidak usah repot bertanya tujuannya. Mengenai tarif berlaku standar, maksudnya standar mereka. Jadi sangat berisiko tertipu bagi orang baru seperti saya. Asik juga cara mereka.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 tepat ketika saya sampai di rumah kembali. Tapi kok saya belum mendengar kumandang adzan ya! Apa memang belum masuk waktu dhuhur? Menurut pengalaman kemarin sih harusnya sudah masuk.

Saya lupa kalau di sini listrik hanya ada waktu malam hari. Siang hari harus rela beraktivitas tanpa aliran listrik. Tapi khusus untuk hari jumat listrik akan dialirkan menjelang pelaksanaan sholat jumat. Jadi adzan harus menunggu PLN mengalirkan listriknya. Hebat, bertambah satu lagi tugas PLN di pulau ende ini, sebagai penentu mulainya sholat jumat!

P.S. Semoga tulisan ini dibaca juga oleh direktur pln yang baru

Mau Makan Apa? Terserah!

Sejak meninggalkan dunia perkuliahan beberapa tahun yang lalu nggak tau kenapa saya jadi seneng dolan (adventuring). Mulai dari daerah-daerah yang dekat. Seperti, mengenal beberapa kota besar di jawa dan gunung-gunungnya.

Pengalaman pertama keluar dari pulau jawa sih sebenarnya sudah lama. Tepatnya ketika SMA saya mengadakan wisata ke pulau bali. Baru tau ternyata naik kapal itu asyik sekali. Lebih asyik lagi ketika tahu tentang daerah baru. Pengalaman kedua ketika semester satu perkuliahan. Ketika diajak senior jalan-jalan ke bangkalan di pulau madura. Walaupun kata orang madura itu pemandanganya nggak bagus tapi tetep saja saya seneng. Tidak lain karena madura adalah tempat baru, suasana baru bagi saya.

Mungkin itulah awal dari kebiasaan dolan saya. Selalu menemukan suasana baru ternyata hal yang menakjubkan. Rasanya sama seperti ketika seorang ayah melihat bayinya bisa jalan untuk pertama kali (mungkin) :mrgreen:

Setelah dunia kuliah benar-benar saya tinggalkan samakin menjadi lah kesukaan dolan saya. Nggak jauh-jauh sih, cuma di nusantara kok.

Maka dari itu, suatu anugrah yang tak terkira, ketika kali ini saya dipercaya untuk mengemban misi ke pulau ende, cieeh…sok keren. Salah satu lembaga sosial di surabaya yang memberangkatkan saya. Makasih ya…

Nambah satu daerah dan suasana baru lagi deh yang akan saya dapatkan. Apapun itu pasti ada pelajaran di baliknya.

Pemberangkatan saya kali ini tidak lepas dari permintaan salah satu sekolah yang ada di pulau ende. Sekolah itu memohon bantuan lembaga amil zakat yang ada di surabaya untuk merahabilitasi bangunannya yang hancur. Otomatis salah satu tugas saya adalah memastikan bantuan itu benar-benar tepat. Tugas lainnya adalah mendapatkan data primer (data langsung dari yang bersangkutan) tentang keadaan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat setempat. Untuk mempermudah pelaksanaan program itu saya dibekali dengan 2 bundel quesioner. Masing-masing 5 halaman.

Tapi ternyata ada beberapa hal yang agak mengganjal di hati saya, terkait dengan pemberangkatan ini.

Pertama, ternyata saya diberangkatkan sendirian. Oops, keren juga sih berangkat sendirian. Tapi tetep ada sisi khawatir yang muncul.

Ketika mencoba membayangkan aktivitas apa saja yang akan saya lakukan di sana nanti. Mulai datang pertama kali saya harus mencari penghubung saya di sana. harapan saya sih penghubung ini sudah siap segala hal yang akan saya butuhkan. Bukan sekedar orang yang lebih tahu lokasi daripada saya. Tapi memang benar-benar orang yang dipersiapkan untuk mencukupi kebutuhan awal saya selama di pulau ende.

Kemudian tentu saya tidak bekerja sendirian di sana. Saya harus mencari orang-orang tambahan. Bukan hal yang mudah mencari tenaga baru bermodalkan pandangan sekilas. Risikonya mulai dari kompetensi yang tidak mencukupi sampai dengan kemungkinan saya “diakali”.

Ada lagi yaitu tentang rutinitas harian. Malam hari saya harus menyiapkan bahan briefing besok hari. Agar pelaksanaan kegiatan berjalan efektif dan efisien. Trus briefingnya, mengoordinasikan beberapa orang yang baru saja saya kenal. Tentunya mereka tidak mau bekerja tanpa arahan yang jelas. Padahal saya sendiri juga belum mendapatkan arahan yang jelas tentang program ini.¬† Jadi pasti saya harus membuat “guide line” dulu untuk mereka.Dan juga menyediakan peralatan bagi mereka, motor, alat tulis, kamera, dan pulsa handphone.

Jika dikerjakan sendirian, wow…superman….

Saya harus ngecek secara berkala aktivitas mereka, siang hari, dan sorenya mereka membuat laporan harian. Entry data, trus saya membuat laporan ke pusat untuk diolah.

Untuk melakukan semua kegiatan di atas muncul beberapa piranti yang harus saya operasikan. Diantaranya laptop, handphone, kamera, dan motor untuk mobilisasi.

Jika dikerjakan sendirian, wow…superman….

Belum lagi kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sakit mungkin, saya bisa curhat ke siapa kira-kira kalau sedang gak enak badan?(sok mellow nih…). Kecelakaan mungkin, gangguan keamanan baik diri maupun barang-barang saya, keselamatan kerja, dan masih banyak hal lain yang tidak diprediksi dan dibicarakan sebelumnya. Karena di lapangan impossible is nothing and anything is possible!.

Alangkah menyenangkannya jika saya mempunyai partner yang berangkat dari surabaya.

Kita nanti bisa membagi tanggung jawab jadi tidak terlalu berat tugas yang diemban masing-masing. Bisa saling mengingatkan kalau ada hal-hal yang mungkin menyimpang. Bisa saling menjaga baik diri maupun barang-barang. Dan yang paling menyenangkan adalah ada teman untuk berbagi segala hal (curhat; red).:mrgreen:

Kedua, kembali lagi tentang quesioner. Dari hasil saya membaca sekilas, rupanya lengkap sekali ya data yang diambil! Memang sih idealnya seperti itu, lengkap dan mencakup segala hal. Tapi bagi saya kok malah seperti mengadakan sensus lagi, menyaingi pemerintah?

Bukan maksud saya malas mengerjakan itu. Tapi apa sih salahnya menantisipasi risiko yang mungkin akan terjadi?

Bagi kita mungkin mereka sangat butuh bantuan karena berada di bawah standar sejahtera dan lain-lain. Masalahnya apakah mereka juga merasa seperti itu. Sekali lagi, merasa! Bukan faktanya.

Bayangkan saja ketika nanti dilakukan wawancara terkait quesionar yang saya bawa. Kira-kira apa yang akan mereka pikirkan? Kekhawatiran saya sih jangan-jangan mereka sudah sering banget ditanyain hal-hal seperti itu, tapi belum pernah ada realisasinya. Atau mungkin antara data dan realisasi perbandingannya terlalu jauh.

Belum lagi kalau pertanyaan-pertanyaan kita nanti terasa terlalu privasi bagi mereka.

Tentu hal itu dapat menimbulkan rasa kurang simpatik dari masyarakat setempat.

Jadi menurut saya perlu ada penyerderhanaan . Mungkin cukup data-data yang memang akan kita eksekusi saja. Agar pekerjaan tetep efektif dan efisien. Apalagi ini bukan di jawa yang kebiasaan dan kultur masyarakatnya sedikit banyak telah kita ketahui. Ini di nusa tenggara timur man! Kecamatan ende, satu pulau satu kecamatan. Sangat berbeda dengan sumatera barat yang beberapa waktu lalu kita kunjungi. Baik itu dari kemajuan kebudayaan maupun kebiasaan masyarakatnya.

Di sumbar saja yang sebenarnya masih mirip dengan jawa dapat dikatakan kita kurang berhasil (kalau menilik dari target yang pernah saya dengar). Padahal di situ adalah lokasi bencana, yang masyarakatnya jelas-jelas merasa butuh bantuan. Tapi apa yang kita hadapi di sana sungguh di luar perkiraan kan? Mulai dari -mohon maaf- agak apatisnya masyarakat setempat dengan kehadiran kita sampai sulitnya mencari relawan lokal yang dapat kita berdayakan.

Tidak bisa dipungkiri ini salah satunya karena kita tidak paham bagaimana kultur masyarakat setempat, pada awalnya. Kemudian diperparah dengan ketidaksiapan kita tentang program yang akan kita eksekusi. Jadinya pada minggu-minggu awal, kami yang di lapangan merasa kesulitan ketika diminta data, data, dan data. Yang dibutuhkan itu data apa? Padahal, kami yang di lapangan belum mendapat kepastian program apa yang akan dieksekusi.

Sebagai kaum yang berfikir tentu kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lakukan. Jangan sampai hal-hal seperti itu terjadi lagi.

Ketiga, saya tidak ingin lembaga kita mendapatkan kesan bahwa memberangkatkan saya itu ribet. Saya hanya berusaha memberikan masukan terbaik. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya terjun di lapangan. Dengan harapan lembaga kita ini semakin maju, amanah, dan profesional.

Nah, kata terakhir paragraf di atas lah yang sedikit ingin saya ungkapkan. Mohon maaf jika agak vulgar. Ada 3 kata kunci yang perlu dicermati dalam definisi versi wikipedia itu, protokol/peraturan, gaji, dan ahli.

Protokol, dalam hal ini harus sesuai. Harus ada prosedur operasi standarnya dalam setiap hal aktivitas kita. Agar parameter profesional di sini jelas. Jangan sampai aktivitas kita itu “asal jalan” tanpa target yang jelas. Nah, nentukan target itu sepengetahuan saya harus SMART.

S, yaitu specific. Jadi bukan target umum dan bias.

M, yaitu maesurable atau terukur. Jadi targetnya itu dapat diukur, berhasil atau tidak. Keberhasilannya berapa persen dan seterusnya.

A, yaitu achievable atau dapat dicapai. Jadi targetnya realistis. Disesuaikan dengan resource yang ada baik itu dari segi dana maupun smber daya manusianya. Jangan sampai kita menetukan target selangit – dengan harapan pelaksana di lapangan lebih semangat dengan target tinggi- tapi ternyata sebenarnya sudah menyadari bahwa tidak akan tercapai.

R, yaitu reasonable atau beralasan. Jadi target itu memang benar-benar pantas dan layak kita lakukan. Jangan sampai pas di lapangan nanti ternyata sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan. Mungkin karena sudah ada lembaga lain yang melakukan atau malah sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi.

T, yaitu time line atau ada batasan waktunya. Hubungannya adalah dengan perencanaan. Kalau batasan waktunya tidak ada tentu akan susah membuat perencanaan. Padahal kata pepatah gagal merencanakan adalah merencanakan kegagalan. Setuju kan?

Saya yakin rekan-rekan sudah tahu tentang hal ini. Saya hanya mencoba mengingatkan kembali. Barangkali ada yang terlupa…..

Selanjutnya adalah gaji. Mungkin agak vulgar kalau dibicarakan di lembaga sosial. Tapi tidak dapat dipungkiri kepastian gaji itu berhubungan langsung dengan keikhlasan lo. Gak percaya? Coba saja kalau kita disuruh bekerja tapi tidak dikasih kepastian mendapat gaji berapa. Atau yang lebih ekstrim, digaji atau tidak. Tentu saat bekerja kita akan kepikiran hal itu. Terlepas dari status kita itu pekerja sosial atau bukan. Kalau sudah kepikiran tentu kerja tidak maksimal da bahasa kerennya tidak ikhlas. Nah, bahaya kan?

Dalam menentukan besaran gaji masing-masing lembaga punya standar sendiri-sendiri tentunya. Standar manajer berapa, standar runner berapa, dan seterusnya. Tapi ada standar baku yaitu harus seimbang dengan tanggung jawab yang diembankan kepada pekerja. Juga seimbang dengan risiko yang akan dihadapi. Baik risiko keselamatan jiwa saat perjalanan, di lokasi, maupun risiko kenyamanan bekerja.

Hal-hal yang saya ungkapkan di atas mungkin sianggap lebay bagi beberapa orang. Tapi sekali lagi impossible is nothing and anything is possible!.

Ribet ya saya ternyata! Maaf…maaf….:)

Kalo gak salah dulu waktu musa diutus Tuhan, beliau merasa keberatan kalau sendirian. Beliau minta teman, kalau gak salah harun temannya itu. Begitupun muhammad, beliau diutus dilengkapi dengan sahabat-sahabat yang luar biasa. Dari dua hal di atas secara serampangan saya simpulkan bahwa Tuhan itu menyukai kerja tim. Bener gak?

Kemudian apa hubungannya denga judul di atas? Critanya sore tadi saya ngajak teman saya buat makan. Naek motor berboncengan, saya yang di depan. Sampai di pertigaan sakinah, keputih, saya tanya teman. Mau makan apa? Trus dijawab dengan tegas, terserah! Maka serta merta langsung saya injak pedal rem. Berhenti bingung mau memilih jalan mana yang harus saya ambil. Sambil mengira-ngira makanan apa yang sesuai dengan lidah, perut, dan kantong teman saya.

Coba bayangkan, kalau saya berangkat ke pulau ende itu sambil mengira-ngira program apa yang sesuai dengan lidah, perut, dan kantong lembaga yang mengirim saya. Berhenti, mungkin saja….

(jangan-jangan setelah ini saya bisa kena pasal pencemaran nama baik nih)

Yawudah….

Tiap jam cuma kepikiran satu hal….

Hm… ternyata ada susahnya juga ya

Nggak semua yang dibayangkan bisa diwujudkan

Aneh,

Cuma beberapa menit kok

Tapi kok seratus delapan puluh derajat bedanya

Segampang itukah?

Beberapa menit lagi berubah lagi

Hm… dasar..!!!

Biarlah, terserah, Ya udah.

Masjid Ngawi

Ada sedikit harapan ketika aku melewati jalan depan tribun alun-alun ngawi. Kulihat ada crane yang sedang diparkir di depannya. Setelah clingak-clinguk sebentar baru ngeh kalo mau dipake buat nanem paku yang gedenya sepaha para pemain bola itu. Nanemnya dimana? Tidak lain dan tidak bukan ya tentu saja di bekas masjid baiturrohman.

besoknya aku datang lagi… ehm.. cranenya sudah dipake. sudah beberapa paku yang tertancap. Suasana sekitarnya jadi agak bising oleh dentuman pemukulnya. Beberapa pekerja tampak lalu lalang gak ngerti aku lagi ngerjakan apa. Tampak pengawas proyeknya berteduh di bawah poho sebelah tribun alun-alun. Aku merasa sedang diawasi saja ketika ngambil foto dari berbagai sudut. Maklumlah, kan proyek bermasalah.

Kalo di plangnya sih bilang kalo cuman renovasi. Tapi masak renovasi kayak gitu. Kayak mbangun baru aja lawong bangunan lamanya gak berbekas sama sekali. Bahkan pagernya pun sudah ilang. Yang ngerjakan PT Satwiga Mustika Naga yang ada di geneng itu. Ya semoga amanah dan bisa sampai kelar. Sudah makan apbd segitu gede (12 miliar man) masak gak kelar juga.

Setiabudi Jakarta Pusat

Dari kostnya achoy aku ngucapin selamat hari lahir buat hasna. Tadi sebenarnya mau posting pas jam 00.00 tapi laptopnya masih ngantri. Jadinya baru sekarang bisa. Semoga bisa membawa berkah yang melimpah. Amin


October 2019
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Advertisements