Menentang Kebebasan, Menantang Masa Depan

Sampah model baru yang cukup ngetrend belakangan ini.

Sampah model baru yang cukup ngetrend belakangan ini.

Biasanya saya membuat judul itu setelah tulisan selesai. Berbeda dengan ini tadi entah mengapa saya ingin membuat judul dulu. Padahal belum terbayang akan menulis tentang apa, yang penting bikin judul dulu saja, pikir saya. Biar nanti tulisan akan mengalir kemana biar jari yang mengarahkan. Kata orang kan judul itu ibarat wajah bagi manusia, cantik/ganteng baru kemudian diajak ngobrol (baca: stalking). Jadi judul adalah kesan pertama. baru kemudian membaca keseluruhan tulisan.

Lalu kesan apa yang hendak saya munculkan dengan judul itu? Tidak tahu, asal saja tadi bikinnya. Sekali lagi, asal. jadi tidak usah dipikirkan terlalu dalam tentang arti judul di atas:mrgreen: yang penting enak didengar dan nyaman di lidah aja.

Tadi sih kepikiran saya harus membuat tulisan sebagai penanda bahwa telah satu bulan (kurang beberapa hari sih) saya menjadi buruh. Di tulisan sebelumnya saya bilang babu😀 yang terenggut kemerdekaan dan kebebasannya. Makanya judul pun sejalan tentang kebebasan. Kemudian setelah melalui perenungan yang tidak lama ternyata ini juga tentang masa depan. Jadilah judul itu. Ole!

Kemarin-kemarin saya merasakan stres yang cukup berat. Menjadi buruh itu ternyata berat banget. Tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya, yang tinggal menunggu perintah bos kemudian jalankan, terakhir laporkan. Tidak perlu berpikir banyak-banyak, tidak perlu berimprovisasi, tidak terlalu butuh inisiasi. Tidak, tidak seperti itu. Bukan, bukan hal-hal yang seperti itu yang membuat saya merasa berat. Bekerja dari pagi sampai dini hari pun tidak terlalu berat. Memasukkan data rekapitulasi dengan ratusan baris angkapun tidak berat. Siang-siang tengah hari bekerja di bawah terik matahari pun sudah biasa.

Lalu apa yang berat?

Saat masih pengen tidur harus sudah mandi dan pakai baju rapi. Saat gak pengen tidur malah disuruh budayakan tidur. Saat belum lapar sudah disodorin nasi di depan muka. Menunda makan sebentar agar makan saat lapar e ternyata nasi sudah habis. Makan tiga kali sehari tanpa buah sedikitpun.

Yeach, emang saya banyak komplain. Ada yang bilang “jangan ludahi sumur yang kamu minum airnya”. Tulisan ini bukan dalam rangka meludah. Hanya sarana mendeskripsikan apa sebenarnya yang membuat saya stres tidak nyaman hingga seminggu hanya bisa buang air besar dua kali ini.

Itulah tadi, sebulan ini saya berusaha mati-matian menyesuaikan diri. Sampai akhirnya tidak tahan dan mencari selingan. Sudah tahu kan selingannya apa? Iya, naik gunung. Menyelinap selama 4 hari buat ke Dieng dan naik ke Gunung Prau di Wonosobo. Memanfaatkan hari selasa yang tanggal merah serta sedikit muslihat biar bisa keluar dari kantor barang sejenak hehehe.

Singkat cerita saya bisa menyelinap buat packing di rumah Malang. Kemudian melipir negbus ke Surabaya buat nyari barengan jalan. Udah dapat barengan ternyata ditelepon Kanjeng Mami disuruh nganter-nganter. Oke, ke ngawi dulu berarti. Ternyata ngantarnya ke Surabaya. Alamaaak balik lagi ke Surabaya, nyopir. Skalian lah barengan yang dari Surabaya kubawa pulang ke Ngawi naik mobil. Kemudian oper naik bus ke arah Wonosobo. What a trip.. -____-

Jadi menuju Basecamp G. Prau Wonosobo akhirnya naik Bus Eka dari Rumah Makan Duta (yang barat) langsung tujuan Magelang. Subuh di terminal Magelang ternyata sepi sekali. Hanya terlihat satu bus yang dalam keadaan menyala stasioner. Kuhampiri, tepat, buas arah Wonosobo. Agak beberapa menit menunggu penumpang yang menyelesaikan salat subuh, kemudian berangkat. Bus ukuran 3/4 berjalan lambat. Sambil sesekali menyalakan lampu reting ke kiri dan memencet bel ketika terlihat calon penumpang di depan. Bus longgar, tas besar-besar yang kami bawa bisa ditaruh di cabin tanpa harus menambah ongkos bagasi. Jalan berliku, udara segar pagi, dan sedikit keriuhan ibu-ibu yang berangkat ke pasar menambah pelan laju bus ketika masuk wilayah Temanggung. Temanggung ini terkenal dengan tembakaunya. Dulu, ketika saya masih kecil pernah sekali lewat Temanggung, juga akan ke Wonosobo. Di kiri-kanan jalan dipenuhi kebun tembakau yang hijau segar. Kemana semua sekarang ini ya? Apa saya lewat jalan yang berbeda kah? Semoga begitu.

Penumpang naik-turun silih berganti.

“Monggo, Pak Budi” sapa penumpang saat turun. Sang sopir pun membalas, “Ngiih, ngatos-ngatos, Bu”. Tidak hanya itu. Penumpang yang naik pun tidak sedikit yang berbasa-basi sekadar sapaan pagi hari pada Sopir. Rupanya Pak Budi ini dikenal sebagai sopir yang ramah. hampir semua penumpang harian kenal dengan beliau. Armada kecil dengan trayek panjang agak aneh menurut saya. Karena terbiasa dengan bus-bus besar di daerah saya, mungkin. Sampai di Terminal Wonosobo pun tidak sempat penuh bus dengan tulisan “Simphony” di kaca depannya ini. Ongkos dua puluh lima ribu untuk perjalanan sekitar 2 jam memang terlalu mahal jika dibandingkan bus besar dengan trayek panjang seperti Selamat Group maupun Mira. Tapi cerita pagi itu membuatnya sepadan dan impas.

Dari Terminal Wonosobo disambung bus kecil ke arah Dieng. Dua puluh ribu, satu jam.

Rupanya teman-teman sudah ramai di base camp. saya langsung tidur. Capek setelah berkejaran dengan waktu dan hanya bisa tidur saat di bus. Sore harinya baru mendaki ke puncak. Jalur awal berupa anak tangga. Ada 115 anak tangga (koreksi jika saya salah) dan dilanjut dengan jalan makadam setelah sedikit jalan setapak di antara kebun kentang milik penduduk. Cukup curam, beberapa kali terlihat ada yang terpeleset karena memang jalur licin sehabis hujan. Jalur tanah basah semakin terjal dan sulit dilalui. Beberapa tanjakan dipasang tali untuk pegangan. Cukup membantu. Juga dibuatkan pijakan berbentuk anak tangga di tanah. 3 jam sampai puncak dan masih sempat mapir di warung-warung untuk menikmati gorengan dan minuman carica hangat.

Oiya, selain untuk keluar dari kesetresan saya sebenarnya di Gunung Prau itu pas ada cara bersih gunung. Pisau namanya, Peduli Sampah Prau. Jadi sekalian bersih-bersih di gunung. Seru, banyak teman baru. Sedih, area perkemahan terlihat bersih tapi di “belakangnya” daerah ring dua perkemahan sampah bertebaran. Paling banyak sampah tisu yang dipakai untuk cebok. Hmmm PR banget itu.

Beberapa sampah yang terkumpul.

Beberapa sampah yang terkumpul.

Memilah sampah antara sampah plastik, tisu/kertas, dan botol.

Memilah sampah antara sampah plastik, tisu/kertas, dan botol.

Pemilahan melibatkan pendaki di sekitar lokasi

Pemilahan melibatkan pendaki di sekitar lokasi

Sampah-sampah itu akhirnya bisa diturunkan semua

Sampah-sampah itu akhirnya bisa diturunkan semua

Suasana sarapan yang asik.

Suasana sarapan yang asik.

Salah satu peserta yang sampai menyisir seluruh puncak untuk membersihkan area perkemahan.

Salah satu peserta yang sampai menyisir seluruh puncak untuk membersihkan area perkemahan.

Beginilah cara kami membawa turun sampah dari gunung.

Beginilah cara kami membawa turun sampah dari gunung.

Dengan melibatkan seluruh pendaki yang turun, sampah kami titipkan ke semua yang bersedia.

Dengan melibatkan seluruh pendaki yang turun, sampah kami titipkan ke semua yang bersedia.

Sampah yang terkumpul dibagi dalam kantong yang lebih kecil agar lebih mudah dibawa turun.

Sampah yang terkumpul dibagi dalam kantong yang lebih kecil agar lebih mudah dibawa turun.

2 Responses to “Menentang Kebebasan, Menantang Masa Depan”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: