Escudo Jalan Rejeki

Membicarakan pagi memang selalu menyenangkan buatku. Seperti pagi kemarin, gegoleran di kasur depan televisi. Belum mandi dan belum sarapan. Hanya dua butir mangga sudah gak sengaja masuk ke perut:mrgreen:. Ngopi juga belum apalagi aktivitas berat yang lain.

Pagi yang santai itu berubah seketika saat kanjeng mami minta dianter ke btpn. Tidak mandi sekadar gosok gigi. Cuci muka juga tak pake busa. Cus brangkat.

Lima belas menit sampai juga du btpn. Sepertinya kanjeng mami bakal lama di dalam. Sambil nunggu saya sempetin ke warkop di depan. “Kopi buk satu, item”, kataku pada ibu penjual. Tak sampai semenit sudah jadi aja itu kopi. Wuih fast service. Rupanya suaminya yang menghidangkan dan selalu merebus air. Jadi sewaktu-waktu ada yang pesan kopi tinggal seduh saja. Pantas saja pelayanannya cepat.

Warung itu cukup nyaman. Tepat berada di bawah pohon mangga yang sudah tua. Saking tuanya terlihat dahannya sudah banyak yg lapuk. Juga benalu sudah tampak mendominasi. Suasana teduh itu semakin nyaman dengan adanya bale-bale yang cukup besar yang biasa dipake pembeli untuk bersantai. Sebenarnya warung itu awalnya hanyalah sebuah kios rokok. Gerobak hibah dari salah satu brand roko dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa digabung dengan dapur dan tempat nongkrong.

Awal saya datang sudah ada beberapa orang berpakaian formal. Celana hitam, sepatu pantofel, dan hem berjaket hitam. Sibuk dengan telepon masing-masing. Melihat gayanya biasanya ini teman-teman dari finance. Satu orang membaca koran, korannya tidak terbalik jadi benar sia sedang membaca koran, bukan bersembunyi dari sesuatu hehe.

Saya memilih duduk di ujung warung. Satu kursi tanpa sandaran di ujung meja. Kursi itu sudah ditumpuk, jadi 2 kursi rapuh dijadikan satu agar saling menguatkan.

Bapak yang tadi membaca koran tampak agak mendekat ke saya. Sudah sepuh, rambutnya sudah banyak beruban. Jam g-shock di tangannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa bapak ini sudah purna tugas dari pekerjaannya. Membuka percakapan basa basi,
“Sama ibunya mas?”
“Iya, Pak. Sudah dari tadi di dalam kok belum selesai”
“La ngurus apa to, Mas?”
“Kurang tau, Pak. Tadi sih sepertinya menyerahkan berkas saja”.
“Ooo..”

Sepertinya kehabisan obrolan. Dan saya tidak balas balik tanya. Tapi ternyata tidak.

“Rumahnya mana, Mas?
“Nganu (menyebut nama tempat)”
“Owh sama rumahnya Bu Sri?”
“Saya dari pasar ke utara, Pak. Bukan ke Selatan”.
“Kerja di mana, Mas?”
….

Kemudian hening…

Bukan sekali saya dapat pertanyaan seperti itu. Sayangnya saya selalu belum punya jawaban yang tepat😀 .

Kembali menyesap kopi. Seseorang datang lagi. Mengendarai megapro terbaru. Di jok belakang tertumpang 2 ember kosong. Sepertinya tempat tahu. Iya, bapak itu pedagang tahu. Masih pagi tapi dagangannya sudah habis. Pastinya semenjak subuh tadi beliau sudah berkeliling. Menyusul di belakangnya seorang kakek-kakek bersepeda tua, celana jeans pendek selutut, topi, dan sandal gunung. Gaya yang asik, Kek.

Sesapan terakhir, escudo merah hati masih parkir di depan warung. Ternyata dagangan. Tahun 95, bodi mulus, ban 5 baru semua. Ditawarkan ke saya 70 juta. Kalau ada teman yang berminat bisa hubungi saya. Trimakasih semoga bermanfaat:mrgreen:

image

3 Responses to “Escudo Jalan Rejeki”


  1. 1 mukri August 7, 2015 at 12:44 am

    Escudone oka iku pak?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: