Menyusur Nikmat Elok Rinjani (bagian 1)

Saya memiliki banyak sekali keinginan bertualang sejak mengenal gunung ketika SMA hingga hari ini. Dari deretan gunung yang ada di Indonesia saya memimpikan bisa mendaki ke semua puncaknya. Entah bagaimana caranya nanti yang jelas ingin mendaki sebanyak mungkin gunung. Berawal dari Gunung Lawu yang ada di daerah saya sendiri berlanjut ke Welirang, Arjuna, Semeru dan seterusnya.

Bersyukur sampai saat ini masih bisa melanjutkan mimpi itu, yang sejauh ini sudah jadi hobi bagi saya. Hobi yang semakin tersalurkan dengan semakin banyaknya maskapai penerbangan menjual tiket promo. Termasuk tiket ke Lombok 16 April 2013 kemarin. Tiket yang tidak sengaja saya ketahui. Tidak sengaja karena memang tidak berniat berburu tiket promo. Eh, tiba-tiba melintas di telinga suara orang bercakap-cakap,

“Eh Mbak, citilink promo lo sejak jam tuju tadi” kata mbak-mbak sebelah.

“Iya kah? Kemana aja?” samber mbak-mbak di sebelahnya lagi.

Saya yang duduk di sebelah bangku ruang tunggu itu bergegas mencari koneksi internet untuk mengecek kebenaran informasi skalian booking kalau bisa. Wow, benar ternyata.

Milih-milih kemana tujuan yang paling asyik dan terjangkau oleh kantong. Sambil mengingat-ingat berapa saldo tabungan terakhir. Singkat kata terpilihlah jurusan Lombok dengan niat naik ke Rinjani. Biar seru saya tawarkan juga ke teman-teman yang sehobi. Berkumpullah 6 orang yang bersedia berangkat.

Itu kejadian awal 2013 untuk tiket 4 bulan kemudian.

Dalam perjalanan menunggu waktu keberangkatan banyak yang akhirnya mengundurkan diri dan digantikan orang lain. Hasilnya tepat 16 April 2013 pukul 14.39 hanya 5 orang dari kami yang berhasil berada di ruang tunggu Juanda International Airport. Tidak apa-apa hanya 5 orang karena memang satu orang sakit pas mau berangkat. Daripada memaksakan diri lebih baik istirahat dulu.

Dengan carrier besar-besar di trolly kami check in. Ditanya oleh salah seorang petugas security check, “Mau kemana, Mas?” “Ke rinjani, Mbak Nita”. “Wah, saya juga pingin banget ke Rinjani, Mas, tapi kerja begini kapan sempatnya”, sedikit ekspresi terkejut tampak di wajahnya ketika saya langsung memanggil namanya. Padahal name tag nya begitu jelas menunjukkan namanya. Sudah kebiasaan saya manggil nama orangnya biar lebih cepat akrab dengan orang baru.:mrgreen:

Berlima 200 ribu kami bayarkan untuk airport tax. Cukup mahal jika dibandingkan bandara lain yang ada di Indonesia. Alhamdulillah jatah bagasi 20 kg per orang tidak terlewat. Jadi tidak perlu biaya tambahan. Check in selesai langsung boarding pass ke ruang tunggu agar cukup waktu luang untuk duduk di ruang tunggu gate 2. Tidak terlalu lama ternyata, pukul 15.40 kami sudah berada di cabin Airbus A320-200 yang terlihat bersih meski tampak sudah mengalami re-painting di atap-atapnya. Cabin yang dapat menampung 150 orang itu beberapa kursinya kosong. Meski hanya beberapa, memberi kesempatan Lutfi dan Totok untuk pindah seat dekat jendela agar bisa melihat ke luar.

Satu jam terbang saja sudah terdengar pengumuman dari pilot bahwa 10 menit lagi mendarat di Lombok International Airport. Setelah beberapa kali melewati awan tebal akhirnya kami mendarat pukul 17.51 WITA. Bandara Internasional Lombok (BIL) ini berada di Praya, kira-kira satu jam ke Mataram kota.

Seperti umumnya bandara yang lain, taksi yang tersedia juga hanya taksi bandara. Monopoli yang sangat merugikan konsumen. Tarifnya sangat mahal. Pilihan lain yaitu sewa mobil. Tarifnya pun tidak jauh dari taksi. Hanya pasti lebih murah. Apalagi kalo kita rombongan.

Dari BIL kami berencana menuju rumah teman yang ada di Kecamatan Jonggat. Para sopir menawarkan harga kisaran 100 ribu. Wuih mahal banget, padahal pakai Burung Biru ada yang pengalaman Jonggat-BIL hanya 35 ribu. Akhirnya terjadi tawar menawar dan sepakat di harga 50 ribu. Harga itu terbukti pantas karena memang waktu tempuh hanya 46 menit. Sudah termasuk mencari alamat dan pak sopir berkorban pulsa menelepon pemilik rumah.

Sudah menjelang isya’ kami sampai di rumah Jayadi, teman kami itu. Duduk di teras rumah dan langsung dihidangkan makan malam menu lengkap. Sayur cengeh, lindung goreng pedas, dan tak lupa sepiring kecil garam. Sayur cengeh kalau di Jawa biasa disebut lodeh. Hanya saja isi dari sayur cengeh ada pakem wajibnya yaitu kepala ikan/ikan asin, koro, keladi, dan terung. Jika ada yang kurang dari itu rasanya kurang pas kalau disebut cengeh, begitu pengakuan Paman pemilik rumah.

Malam yang tenang di Desa Sukarara (baca: sukerare) kami habiskan dengan terlentang di lantai rumah. Esok hari kami akan menempuh perjalanan berat. Kurang bijak jika dihabiskan dengan begadang. Rinjani kami menuju, bertemu saudara kami merindu. Sampai bertemu edisi selanjutnya di perjalanan mendaki Guung Rinjani.

1 Response to “Menyusur Nikmat Elok Rinjani (bagian 1)”


  1. 1 Webpage February 21, 2014 at 6:37 pm

    Thanks for a few other educational web-site. The place otherwise may I get that variety of info designed in such a best strategy? I’ve a project that we are just now concentrating on, and I’ve been on this look away for similarly info.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: