Menghargai / Menyayangi Sahabat

Saya menyadari, saya bukanlah orang yang peka terhadap perasaan orang lain. Hal itulah yang sering kali sebagai penyebab saya melakukan kebodohan dalam berinteraksi dengan sahabat. Akhirnya dia merasa terlukai hatinya. Parahnya, saya tidak tahu kalau dia terlukai. Tentunya saya pun jadi tidak tahu juga apa penyebab luka hatinya. Meskipun hal itu sering terulang tapi tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

Menceritakan semua hal, sering kali saya lakukan. Walaupun kadang saya merasa membebani dia dengan cerita-cerita yang tidak bermutu. Tanpa saya bertanya apa dia sedang ada masalah atau tidak. Atau balik bertanya dia ada cerita apa. Tapi tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

Bertukar kabar tentu hal yang sangat biasa dilakukan. Meski sekedar say good morning atau sampai bertukar info. Tapi sering kali hal-hal sederhana seperti itu terlewatkan. Entah karena apa. Saya pun tidak tahu pasti kenapa saya sering melewatkan itu. Mungkin memang saya tidak becus dalam bersahabat. Atau mungkin inilah yang dia namakan tidak menghargai. Hal-hal yang sederhana saja saya tidak bisa apalagi hal yang lebih rumit -kalu mungkin ada-. Tapi tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

Huft, banyak sekali kebodohan dan ketidakbecusan saya. Menghargai memang sangat relatif. Tapi saya tidak mau berlindung dibalik kerelatifan itu. Tetap saya merasa berdosa ketika dia tidak mau cerita bagaimana itu, pokoknya sakit hati titik. Berarti memang saya harus lebih banyak lagi belajar tentang bagaimana menghargai sahabat itu. Karena tetap, dia sahabat yang saya sayangi.

4 Responses to “Menghargai / Menyayangi Sahabat”


  1. 1 Alex© January 27, 2012 at 5:38 pm

    Ada ujar-ujar: mencari teman gampang, mencari kawan susah. Mencari kawan mudah, mencari sahabat lebih susah.

    Dulu aku tak faham apa maksud seniorku bilang begitu. Rupanya memang ada tingkatan tersendiri dalam hal keakraban pergaulan itu. Teman, bisa siapa saja. Kita bahkan bisa berteman dengan orang yang baru kita kenal karena kita atau dia meminjam korek api untuk menyalakan rokok misalnya, namun itu tidak selalu akan menjadi seseorang yang lebih dekat dalam bentuk kawan. Berikutnya juga sama, kita bisa berkawan tapi belum tentu dia akan menjadi sahabat sehingga bahkan rumahnya menjadi seperti rumah kita, dan demikian pula sebaliknya. Ada proses dalam hal itu.

    Namun tetap yang paling penting di atas setiap hubungan pertemanan, persahabatan, memang kepekaan. Tidak selalu mudah untuk peka, apalagi untuk kemudian menyuarakannya, tapi setidaknya kita tahu apa yang dirasakan sahabat.😀

  2. 3 Alex© January 30, 2012 at 5:34 am

    Mempelajari bedanya itu? Ya feeling dan pengalaman juga sih. Begini loh: teman itu orang yang kita anggap tidak bermusuhan dengan kita. Kita tak ada masalah dengan dia. Jadi bisalah kita sapa, “teman”. Kawan, cenderung lebih dekat. Dia tahu beberapa hal personal tentangmu. Sahabat, lebih dekat lagi.
    Cuma untuk membedakan mana sahabat mana bukan, kita bisa mengukur diri kita dan dirinya: apakah dia/kita membutuhkan sahabat itu cuma macam keset kasih, untuk dipakai kalau berguna, kalau tidak ditinggalkan, atau memang kita nganggap dia kepingan mosaic dalam hidup kita, sesuatu yang kalau dia nggak ada, kita mungkin tak akan sama seperti hari ini.
    Ini yang membuatku jadi tak enak sama sahabatku dulu, sampai bikin postingan nyesal karena mengumpatnya. Ya subjektif sih ini😕


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: