Mendaki Argopuro

Ada satu gunung di pulau Jawa yang terkenal medan pendakiannya paling sulit. Bukan Semeru, yang menyandang predikat tertinggi di Pulau Jawa. Tapi Argopuro, meski tidak setinggi Semeru tapi jalurnya panjang sekali.

Sekitar dua tahun yang lalu saya diajak teman naik ke Argopuro.

Entah kenapa setiap naik gunung itu saya tidak pernah bikin acara sendiri, selalu saja diajak teman. Jadi tiap liburan tidak perlu bikin acara tinggal nunggu siapa yang mengajak jalan kemana. Trus tinggal dipilih mana yang paling menarik. Memang harus dipilih karena biasanya lebih dari satu acara yang ditawarkan ke saya.

Balik lagi tentang Argopuro.

Ceritanya adalah acara buat ngisi liburan pemilu 2009. Waktu itu bulan April.

Berangkat dari Surabaya gabung sama rombongan anak-anak despro its menuju probolinggo.

Pendakian ke Argopuro berat -meski puncaknya cuma 3088 dpl- karena pos pemberangkatan, desa bremi, baru berada di ketinggian 500 dpl. Sementara gunung-gunung lain rata-rata pos pemberangkatannya sudah berada di ketinggian 1000 dpl.

Sangat disarankan membawa pemandu untuk mencapai puncaknya. Selain karena jalurnya banyak dan membingungkan juga karena puncanya ada tiga, argopuro 1, argopuri 2, dan rengganis. Ditambah lagi gunung tidak terlalu sering didaki dibandingkan gunung lain yang ada di jawa.

Berjalan sekitar satu jam melewati jalan kampung tak terasa mulai mememasuki hutan pinus. Jalan yang awalnya berupa makadam berganti jalan satepak dengan kanan kiri hutan pinus dan kadang ada ladang milik penduduk.

Jalan terus menanjak sampai harus berpegangan tangah di atasnya.

Enam jam berjalan kaki sambil sesekali berhenti untuk membasahi tenggorokan sampai juga di sebuah danau. Taman hidup namanya.

Masih pagi buta ketika sampai di situ. Kabut menguap dari permukaan danau. Suasana pagi agak terasa mistis karena tak ada suara selain bunyi binatang hutan.

Lumayan lama kami berhenti di situ. Waktunya mengisi botol air, skalian memasak untuk sarapan.

perjalanan dilanjutkan lagi. Hutan lumut yang basah langsung kami temui begitu meninggalkan Taman Hidup.

Beberapa jam berjalan mulai agak terasa aneh. Mulai dari taman Hidup tadi hampir tidak kami temui tanjakan. Datar-datar saja. kesimpulan saya, berarti in sedang menyusuri punggungan bukit. Agak susah melakukan orientasi lapangan di sini karena hutannya masih cukup rapat. Ditambah lagi banyak sekali bertebaran bukit di kanan kiri.

Bertambah aneh lagi ketika ternyata jalurnya menurun. Tidak tanggung-tanggung, setengah hari lebih menuruni bukit.

Ternyata inilah yang orang bilang bukit penyesalan. Tidak hanya sekali seperti ini, tiga kali mungkin.

Di jalur ini ada tumbuhan perdu penambah asik perjalanan. Mirip dengan terung-terungan tapi daunnya berduri. Warga lokal menamai tumbuhan ini jancuk-an. Dinamai seperti itu karena duri di daunnya itu menyengat. Kalo kulit terkena itu langsung bikin mengumpat, jancuk!.

Berkali-kali salah ambil jalur. Senja pun datang. JAlan yang gelap semakin menyulitkan perjalanan.

Ada hal yang agak lucu terjadi malam itu. Salah satu teman saya itu anak negeri tetangga. Baru sekali naik gunung. Di tengah bingung nyari jalan yang benar tiba-tiba dia nyeletuk, “Nanti ada gak ya tempat buat buang air besar?”. Gubrak, di hutan mah dari tadi juga sah-sah aja nyaru tempat buat pup. Asal digali dan dikubur lagi. Ternyata dari siang tadi dia nahan keinginan itu. Itulah kenapa dia tidak bisa berjalan dengan normal karena ternyata ada yang mengganjal di ujung usus besarnya.

Dengan sedikit paksaan akhirnya dia mau buang air besar di rerimbunan semak. Alhasil tisu satu gulung habis buat cebok. Padahal normalnya dua atau tiga helai tisu saja cukup kalau tahu tekniknya.

Capek mencari jalan yang benar akhirnya kami putuskan untuk istirahat dulu. Nyari tempat untuk mendirikan tenda.

Malam itu cadangan air tinggal sedikit. Jelas tidak cukup untuk dipakai memasak. Padahal besok pagi masih butuh sarapan.

Harapan dapat ngumpulin embun dengan ponco yang dibentang ternyata tidak terwujud.

Pagi itu perut cuma terisi selembar roti tawar berlapis keju dan saus pedas tanpa minum.

Semak-semak yang berembun coba kami kumpulkan untuk membasahi tenggorokan. Beruntung di perjalanan kami menemukan batang pohon pinus yang tumbang. BAtang pinus yang lapuk biasanya menyimpan air. Maka kami coba peras batang-batang yang lunak itu. Lumayan datap terkumpul setengah botol air mineral yang kecil.

Sayangnya rasanya tidak tawar, pahit banget. Untuk mengaburkan warna dan rasanya saya kasih nutris*ri dua sachet.

Tenggorokan sembilan orang cukup terbasahi dengan air itu.

Baru sore hari sekitar jam 4 kami baru menemukan sumber air. Waktu itu lah menemukan air serasa menemukan emas. Luar biasa…

Sumber air itu berupa sungai yang dinamakan daerah cisentor. Sekaligus pos terakhir menuju puncak. Di sotu kami puas-puasin mandi berbasah-basah.

Puncak bisa dicapai dengan perjalana sekitar 3 jam dari cisentor. Biasanya perbekalan ditinggal di cisentor. Jadi menuju puncak cukup membawa aur minum saja.

Biar bisa mendapat sunrise di puncak paling tidak jam 1 malam harus sudah berjalan meninggalkan cisentor.

Perjalanan ternyata tidak seperti perkiraan, masih jauh. Masih melewati rawa embik juga.

Begitu sampai puncak tidak banyak yang kami lakukan, hanya foto-foto. Beberapa pose sudah diambil langsung turun balik ke cisentor.

Sarapan sebentar masih dengan roti dan beberapa camilan kami langsung meninggalkan cisentor, turun.

Target kami hari itu juga harus sudah sampai lagi di bremi, karena salah satu anak despro harus ujian gambar besoknya. Perjalanan yang berangkatnya saja sampai 3 hari 2 malam harus kami selesaikan kurang dari 24 jam!

Logikanya sih bisa saja kalo berangkat itu naik terus dan tentu pulangnya turun terus. Tapi argopuro kan lain!

Jadinya mulai dari puncak jam 7 pagi berjalan terus ke bawah. Berhenti sejenak jam setengah lima sore buat makan siang rapel makan malam. Cukup setengah jam saja memasak mi pakai api unggun. Lanjut jalan lagi.

Jam sepuluh malam, sudah 15 jam kami berjalan tanpa berhenti kaki mulai sulit diajak berjalan.

Kami sepakat tidur sejenak untuk memulihkan tenaga. Lagi-lagi hanya setengah jam. Lanjut jalan lagi…

Tanpa berhenti dan akhirnya sanpai lagi di Bremi jam 7 pagi!

Jadi dari puncak jam 7 pagi dan sampai di bawah jam 7 pagi juga esok harinya. 24 jam berjalan non-stop! Gila…

2 Responses to “Mendaki Argopuro”


  1. 1 nocturnov June 1, 2011 at 5:16 am

    Argopuro emg keren, bgitu juga dengan Tim. tp Selesai baca, agak merindukan cerita detik2 mencapai puncak..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: