Mau Makan Apa? Terserah!

Sejak meninggalkan dunia perkuliahan beberapa tahun yang lalu nggak tau kenapa saya jadi seneng dolan (adventuring). Mulai dari daerah-daerah yang dekat. Seperti, mengenal beberapa kota besar di jawa dan gunung-gunungnya.

Pengalaman pertama keluar dari pulau jawa sih sebenarnya sudah lama. Tepatnya ketika SMA saya mengadakan wisata ke pulau bali. Baru tau ternyata naik kapal itu asyik sekali. Lebih asyik lagi ketika tahu tentang daerah baru. Pengalaman kedua ketika semester satu perkuliahan. Ketika diajak senior jalan-jalan ke bangkalan di pulau madura. Walaupun kata orang madura itu pemandanganya nggak bagus tapi tetep saja saya seneng. Tidak lain karena madura adalah tempat baru, suasana baru bagi saya.

Mungkin itulah awal dari kebiasaan dolan saya. Selalu menemukan suasana baru ternyata hal yang menakjubkan. Rasanya sama seperti ketika seorang ayah melihat bayinya bisa jalan untuk pertama kali (mungkin):mrgreen:

Setelah dunia kuliah benar-benar saya tinggalkan samakin menjadi lah kesukaan dolan saya. Nggak jauh-jauh sih, cuma di nusantara kok.

Maka dari itu, suatu anugrah yang tak terkira, ketika kali ini saya dipercaya untuk mengemban misi ke pulau ende, cieeh…sok keren. Salah satu lembaga sosial di surabaya yang memberangkatkan saya. Makasih ya…

Nambah satu daerah dan suasana baru lagi deh yang akan saya dapatkan. Apapun itu pasti ada pelajaran di baliknya.

Pemberangkatan saya kali ini tidak lepas dari permintaan salah satu sekolah yang ada di pulau ende. Sekolah itu memohon bantuan lembaga amil zakat yang ada di surabaya untuk merahabilitasi bangunannya yang hancur. Otomatis salah satu tugas saya adalah memastikan bantuan itu benar-benar tepat. Tugas lainnya adalah mendapatkan data primer (data langsung dari yang bersangkutan) tentang keadaan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat setempat. Untuk mempermudah pelaksanaan program itu saya dibekali dengan 2 bundel quesioner. Masing-masing 5 halaman.

Tapi ternyata ada beberapa hal yang agak mengganjal di hati saya, terkait dengan pemberangkatan ini.

Pertama, ternyata saya diberangkatkan sendirian. Oops, keren juga sih berangkat sendirian. Tapi tetep ada sisi khawatir yang muncul.

Ketika mencoba membayangkan aktivitas apa saja yang akan saya lakukan di sana nanti. Mulai datang pertama kali saya harus mencari penghubung saya di sana. harapan saya sih penghubung ini sudah siap segala hal yang akan saya butuhkan. Bukan sekedar orang yang lebih tahu lokasi daripada saya. Tapi memang benar-benar orang yang dipersiapkan untuk mencukupi kebutuhan awal saya selama di pulau ende.

Kemudian tentu saya tidak bekerja sendirian di sana. Saya harus mencari orang-orang tambahan. Bukan hal yang mudah mencari tenaga baru bermodalkan pandangan sekilas. Risikonya mulai dari kompetensi yang tidak mencukupi sampai dengan kemungkinan saya “diakali”.

Ada lagi yaitu tentang rutinitas harian. Malam hari saya harus menyiapkan bahan briefing besok hari. Agar pelaksanaan kegiatan berjalan efektif dan efisien. Trus briefingnya, mengoordinasikan beberapa orang yang baru saja saya kenal. Tentunya mereka tidak mau bekerja tanpa arahan yang jelas. Padahal saya sendiri juga belum mendapatkan arahan yang jelas tentang program ini.  Jadi pasti saya harus membuat “guide line” dulu untuk mereka.Dan juga menyediakan peralatan bagi mereka, motor, alat tulis, kamera, dan pulsa handphone.

Jika dikerjakan sendirian, wow…superman….

Saya harus ngecek secara berkala aktivitas mereka, siang hari, dan sorenya mereka membuat laporan harian. Entry data, trus saya membuat laporan ke pusat untuk diolah.

Untuk melakukan semua kegiatan di atas muncul beberapa piranti yang harus saya operasikan. Diantaranya laptop, handphone, kamera, dan motor untuk mobilisasi.

Jika dikerjakan sendirian, wow…superman….

Belum lagi kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sakit mungkin, saya bisa curhat ke siapa kira-kira kalau sedang gak enak badan?(sok mellow nih…). Kecelakaan mungkin, gangguan keamanan baik diri maupun barang-barang saya, keselamatan kerja, dan masih banyak hal lain yang tidak diprediksi dan dibicarakan sebelumnya. Karena di lapangan impossible is nothing and anything is possible!.

Alangkah menyenangkannya jika saya mempunyai partner yang berangkat dari surabaya.

Kita nanti bisa membagi tanggung jawab jadi tidak terlalu berat tugas yang diemban masing-masing. Bisa saling mengingatkan kalau ada hal-hal yang mungkin menyimpang. Bisa saling menjaga baik diri maupun barang-barang. Dan yang paling menyenangkan adalah ada teman untuk berbagi segala hal (curhat; red).:mrgreen:

Kedua, kembali lagi tentang quesioner. Dari hasil saya membaca sekilas, rupanya lengkap sekali ya data yang diambil! Memang sih idealnya seperti itu, lengkap dan mencakup segala hal. Tapi bagi saya kok malah seperti mengadakan sensus lagi, menyaingi pemerintah?

Bukan maksud saya malas mengerjakan itu. Tapi apa sih salahnya menantisipasi risiko yang mungkin akan terjadi?

Bagi kita mungkin mereka sangat butuh bantuan karena berada di bawah standar sejahtera dan lain-lain. Masalahnya apakah mereka juga merasa seperti itu. Sekali lagi, merasa! Bukan faktanya.

Bayangkan saja ketika nanti dilakukan wawancara terkait quesionar yang saya bawa. Kira-kira apa yang akan mereka pikirkan? Kekhawatiran saya sih jangan-jangan mereka sudah sering banget ditanyain hal-hal seperti itu, tapi belum pernah ada realisasinya. Atau mungkin antara data dan realisasi perbandingannya terlalu jauh.

Belum lagi kalau pertanyaan-pertanyaan kita nanti terasa terlalu privasi bagi mereka.

Tentu hal itu dapat menimbulkan rasa kurang simpatik dari masyarakat setempat.

Jadi menurut saya perlu ada penyerderhanaan . Mungkin cukup data-data yang memang akan kita eksekusi saja. Agar pekerjaan tetep efektif dan efisien. Apalagi ini bukan di jawa yang kebiasaan dan kultur masyarakatnya sedikit banyak telah kita ketahui. Ini di nusa tenggara timur man! Kecamatan ende, satu pulau satu kecamatan. Sangat berbeda dengan sumatera barat yang beberapa waktu lalu kita kunjungi. Baik itu dari kemajuan kebudayaan maupun kebiasaan masyarakatnya.

Di sumbar saja yang sebenarnya masih mirip dengan jawa dapat dikatakan kita kurang berhasil (kalau menilik dari target yang pernah saya dengar). Padahal di situ adalah lokasi bencana, yang masyarakatnya jelas-jelas merasa butuh bantuan. Tapi apa yang kita hadapi di sana sungguh di luar perkiraan kan? Mulai dari -mohon maaf- agak apatisnya masyarakat setempat dengan kehadiran kita sampai sulitnya mencari relawan lokal yang dapat kita berdayakan.

Tidak bisa dipungkiri ini salah satunya karena kita tidak paham bagaimana kultur masyarakat setempat, pada awalnya. Kemudian diperparah dengan ketidaksiapan kita tentang program yang akan kita eksekusi. Jadinya pada minggu-minggu awal, kami yang di lapangan merasa kesulitan ketika diminta data, data, dan data. Yang dibutuhkan itu data apa? Padahal, kami yang di lapangan belum mendapat kepastian program apa yang akan dieksekusi.

Sebagai kaum yang berfikir tentu kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lakukan. Jangan sampai hal-hal seperti itu terjadi lagi.

Ketiga, saya tidak ingin lembaga kita mendapatkan kesan bahwa memberangkatkan saya itu ribet. Saya hanya berusaha memberikan masukan terbaik. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya terjun di lapangan. Dengan harapan lembaga kita ini semakin maju, amanah, dan profesional.

Nah, kata terakhir paragraf di atas lah yang sedikit ingin saya ungkapkan. Mohon maaf jika agak vulgar. Ada 3 kata kunci yang perlu dicermati dalam definisi versi wikipedia itu, protokol/peraturan, gaji, dan ahli.

Protokol, dalam hal ini harus sesuai. Harus ada prosedur operasi standarnya dalam setiap hal aktivitas kita. Agar parameter profesional di sini jelas. Jangan sampai aktivitas kita itu “asal jalan” tanpa target yang jelas. Nah, nentukan target itu sepengetahuan saya harus SMART.

S, yaitu specific. Jadi bukan target umum dan bias.

M, yaitu maesurable atau terukur. Jadi targetnya itu dapat diukur, berhasil atau tidak. Keberhasilannya berapa persen dan seterusnya.

A, yaitu achievable atau dapat dicapai. Jadi targetnya realistis. Disesuaikan dengan resource yang ada baik itu dari segi dana maupun smber daya manusianya. Jangan sampai kita menetukan target selangit – dengan harapan pelaksana di lapangan lebih semangat dengan target tinggi- tapi ternyata sebenarnya sudah menyadari bahwa tidak akan tercapai.

R, yaitu reasonable atau beralasan. Jadi target itu memang benar-benar pantas dan layak kita lakukan. Jangan sampai pas di lapangan nanti ternyata sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan. Mungkin karena sudah ada lembaga lain yang melakukan atau malah sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi.

T, yaitu time line atau ada batasan waktunya. Hubungannya adalah dengan perencanaan. Kalau batasan waktunya tidak ada tentu akan susah membuat perencanaan. Padahal kata pepatah gagal merencanakan adalah merencanakan kegagalan. Setuju kan?

Saya yakin rekan-rekan sudah tahu tentang hal ini. Saya hanya mencoba mengingatkan kembali. Barangkali ada yang terlupa…..

Selanjutnya adalah gaji. Mungkin agak vulgar kalau dibicarakan di lembaga sosial. Tapi tidak dapat dipungkiri kepastian gaji itu berhubungan langsung dengan keikhlasan lo. Gak percaya? Coba saja kalau kita disuruh bekerja tapi tidak dikasih kepastian mendapat gaji berapa. Atau yang lebih ekstrim, digaji atau tidak. Tentu saat bekerja kita akan kepikiran hal itu. Terlepas dari status kita itu pekerja sosial atau bukan. Kalau sudah kepikiran tentu kerja tidak maksimal da bahasa kerennya tidak ikhlas. Nah, bahaya kan?

Dalam menentukan besaran gaji masing-masing lembaga punya standar sendiri-sendiri tentunya. Standar manajer berapa, standar runner berapa, dan seterusnya. Tapi ada standar baku yaitu harus seimbang dengan tanggung jawab yang diembankan kepada pekerja. Juga seimbang dengan risiko yang akan dihadapi. Baik risiko keselamatan jiwa saat perjalanan, di lokasi, maupun risiko kenyamanan bekerja.

Hal-hal yang saya ungkapkan di atas mungkin sianggap lebay bagi beberapa orang. Tapi sekali lagi impossible is nothing and anything is possible!.

Ribet ya saya ternyata! Maaf…maaf….:)

Kalo gak salah dulu waktu musa diutus Tuhan, beliau merasa keberatan kalau sendirian. Beliau minta teman, kalau gak salah harun temannya itu. Begitupun muhammad, beliau diutus dilengkapi dengan sahabat-sahabat yang luar biasa. Dari dua hal di atas secara serampangan saya simpulkan bahwa Tuhan itu menyukai kerja tim. Bener gak?

Kemudian apa hubungannya denga judul di atas? Critanya sore tadi saya ngajak teman saya buat makan. Naek motor berboncengan, saya yang di depan. Sampai di pertigaan sakinah, keputih, saya tanya teman. Mau makan apa? Trus dijawab dengan tegas, terserah! Maka serta merta langsung saya injak pedal rem. Berhenti bingung mau memilih jalan mana yang harus saya ambil. Sambil mengira-ngira makanan apa yang sesuai dengan lidah, perut, dan kantong teman saya.

Coba bayangkan, kalau saya berangkat ke pulau ende itu sambil mengira-ngira program apa yang sesuai dengan lidah, perut, dan kantong lembaga yang mengirim saya. Berhenti, mungkin saja….

(jangan-jangan setelah ini saya bisa kena pasal pencemaran nama baik nih)

2 Responses to “Mau Makan Apa? Terserah!”


  1. 1 bangaip February 3, 2010 at 10:54 pm

    Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Kalau datang dengan project memang agak ribet. Lain halnya dengan project edukasi, biasanya warga lebih mudah ‘menerima’ kalau yang datang berlabel akademisi. Kalau pakai project, apalagi ornop yang punya nama besar. Biasanya label warga pada kita itu ‘subprojectnya mana?’, haha. Susah nginjek bumi kalau basisnya bukan tanah (tapi project).

    Trik saya dulu waktu melakukan project di salah satu kepulauan yang ada komodonya adalah berangkat awal sebagai turis. Temui kepala desanya. Dekati keluarganya. Waktu itu beliau menolak saya kasih uang sebagai imbalan menginap. Tapi ternyata, istrinya tidak menolak. Hahaha. Beberapa minggu kemudian saya datang lagi. Dengan rombongan project. Dan mereka girangnya bukan main waktu saya bawa oleh-oleh. Hehe, trik licik ala bangaip.

    Kalau dengan pengungsi dari Afghan, saya pakai trik belajar. Saya coba dekati mereka dengan kultur. Yaitu belajar bahasa pashtou dari mereka untuk mendapatkan kepercayaan (dan ilmu baru tentunya). Trik ini berhasil. Sampai saat ini masih sering kontak dengan mereka🙂

    • 2 dodo February 4, 2010 at 2:00 am

      bangaip

      Yang saya bingungin tu sampai saat ini saya masih mencari-cari langitnya seperti apa, he..he..

      hm….nice trick bang. akan saya coba ntar. Makasih banget…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: