Ngesti Wihayuningtyas Vs Rusdi Blablabla

Menghadiri pesta perkawinan keluarga besar kampoengsmuda aku lakukan untuk kedua kalinya. Pertama kali dulu pas nikahnya mas Tri Marhendra di bojonegoro.

Seperti biasanya sebagai keluarga besar tentu aku gak berangkat sendirian. Sesuai janjian pertama ngumpul dulu di sbp jam 08.57 tet. Yang telat ditinggal.

mempelai ber2 dan setan..!

Eh baru jam 08.15 sudah di sms sama kemal. “Dok aku wis ning sekolahan”. Hah, padahal aku masih tiduran nonton tv. Secepat kilat langsung kusambar handuk yang sejak kemaren nglumpruk di pojok kamarku. Tak sampai 10 menit aku sudah siap berangkat. Tapi kok rasanya ada yang aneh. Hm… setelah mematut diri di depan cermin aku menangkap keganjilan. Belum sempat aku berkata, di belakangku mbakku sudah nyeletuk “Mosok ning nikahan klambine ngono?”. Tak pikir bener juga kalo kubandingkan dengan kebiasaan teman-temanku. Mereka biasanya pakai celana kain plus hem batik lengan panjang. Ditambah lagi dengan sepatu fantofel. Atau paling minim sendal kulit lah. Berbeda sekali dengan pakaianku saat itu. Celana jeans biru terang cukup menarik perhatian kalo ntar ada di kerumunan undangan. Masih ditambah lagi dengan hem kotak-kotak lengan pendek. Jarang sekali orang di tempatku datang nikahan dengan kostum beginian. “Trus we nganggo sandale sopo?” tanya mbakku lagi. Karena tadi melihatku datang dari surabaya cuma pake sendal jepit. “Yo nganggo sepatu to mbak!” jawabku tenang. “Sepatune sopo? Bapak? Gak mecing yo!” pertanyaan tanpa solusi dari mbakku. Masih dengan tenang aku mengeluarkan sepatu andalanku dari dalam tas. Teng..teng.. sepatu gunung keluaran terbaru! Mbakku memandang cuma tersenyum saja.Sebenarnya penampilanku saat itu sangat mecing lo. Mulai dari bawah, sepatu gunung yang menutup mata kaki dengan sol super tebal dan bergerigi. Celana jeans biru. Ikat pinggang dari webbing warna hijau tentara. Kunci, flashdisk, dan meteran mini menggantung di carabiner acessoris di pinggang kanan. Trus hem kotak-kotak. Apa gak keren tuh? Hehe narcis dikit boleh lah..

Kembali lagi ke topik

Sampai di sma 2 ngawi (aku gak menyebutnya sekolah karena memang sekarang bukan sekolahku lagi) cuma kemal yang kudapati. Mana yang lain? ” Mal, wis ning sanggar?” tanyaku. Jawaban yang kudapat seperti apa yang telah kuprediksi “Wis tapi gak enek sing tak kenal, cah-cah yo gak kenal aku”. Demi keamanan maka berangkatlah kami berdua ke sbp. Di sana ada banak sekali manusianya. Semuanya masih sekolah (belum alumni ;red). Pantas saja kemal gak kenal. Lawong aku saja yang lumayan sering ke sbp cuma kenal beberapa. Bahasa-basi sedikit dengan mereka sambil menunggu yang lain datang. Tpi sampe waktu yang disepakati belum ada warga kampoeng yang datang. Jadi kuputuskan ke rumah tyas & microt saja.

Es teh yang disuguhkan cukp mengisi perutku yang memang belum sarapan. Lumayan pikirku. Masak mau minta makan? he..he.. Tak lama mukri datang. Disusul mbah madh, warga kehormatan kampoeng. Pas mau berangkat ada sms dari dhona, katanya masih di 55 mbungkus kado. Maka tak jadilah kami berangkat. Sekitar 10 menit baru dhona datang.

Suasana perjalanan yang aneh. Mukri sama mbah madh, dhona sendirian, tyas sama microt, kemal paling belakang boncengan sama aku. Anehnya… rahasia…

Sampai di kediaman bapak Jarkasi(h?) suasana sudah rame. Bahkan tidak sedikit undangan yang pada pulang. Wah datang di waktu yang tepat pikirku. Kenapa? Gak perlu lama-lama menunggu buat ngisi perut.🙂. langsung kami menyerbu ruang prasmanan tapi tak lupa kami sempatkan bersalaman sebentar dengan mempelai berdua. Setelah berdesak-desakan dengan undangan lain kami mendapatkan makanan dan posisi yang nikmat. Lorong diantara dua rumah dengan angin yang semilir. Pas banget. Ditambah lagi posisi kami tidak begitu terpantau oleh undangn lain. Tapi cukup strategis dan pas menghdap ke mempelai berdua. Saat itulah pembahasan tentang pengantin dan menikah terjadi. Mulai dari siapa nama mempelai prianya, asli mana, dst. Sampai ada sedikit pemandangan yang kami tangkap agak aneh dilakukan mempelai berdua, -off the record-.

Acara makan kami cukup meriah dengan iringan lagu ketahuan-nya matta versi koplo. Hm.. keren bisa menghadirkan suasana yang mengakomodasi semua kepentingan. Pertama, pengantin yang berjilbab besar dan keren. kedua tidak meninggalkan kemerihan pernikahan di desa -elekton dengan penyanyi-penyanyi bersuara perak (bukan emas, masih kalah sama kd)-. Smoga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Di akhir acara seperti biasa kami melakukan prosesi khas kampoengsmuda. Bla..bla..bla.. dst. Suasana cuku khidmat walaupun backsoundnya bukan karya sang maestro kitaro atau kang bethoven. Bang roma cukup lah memberikan suasana yang meriah dan bersemangat. Produk dalam negeri yang selalu ditunggu karya-karya barunya.

Selesai prosesi kami pulang dengan sedikit menyisakan ganjalan di hati. Kok gak sip prosesine??

8 Responses to “Ngesti Wihayuningtyas Vs Rusdi Blablabla”


  1. 1 achoy March 25, 2008 at 10:44 am

    wah…gak berubah,,,,datang pas acara makan…prosesi trus pulang…em…gak ada fotonya dod? pengin tahu wajah mempelainya…

  2. 2 dodo March 25, 2008 at 11:05 am

    masih di hape. belum ketemu device yang cocok.

    *nyoba ngenet pake hape baru*

  3. 3 nuha April 1, 2008 at 6:07 am

    kayaknya aku pernah ketemu sama ‘setan’nya, ^_^

  4. 4 dodo April 3, 2008 at 3:43 am

    ya jelas pernah lah..:mrgreen:

  5. 5 dhian satria May 7, 2008 at 5:03 pm

    menyapa mas dodi

    selamat sore kak dodiiiiiiiiiii

    piye kabare ?

  6. 6 lusia hariyanto September 21, 2010 at 7:54 pm

    nimbrung ya


  1. 1 Berita Nikah(an) « BloG - Ahh Trackback on March 25, 2008 at 11:15 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: