Perang, Panglima Muda

Perlahan mataku mulai tertutup

Telingaku pun tak terasa mengikuti

Mulutku sudah tak mampu lagi mencegahnya

Hatikupun tak terasa mengikuti

Langkah kakiku mulai berat

Tangankupun tak bertuah lagi untuk mencegahnya

Begitu banyak hal yang tak dapat kuterima

Begitupun hal-hal itu tidak dapat menerimaku

Apakah harus kuhentikan langkahku?

Apakah harus berhenti peperangan ini?

Aku tak tahu lagi pistol mana yang bisa menembus badannya

Apalagi hanya sebuah belati kecil yang tak pernah diasah

Kulihat kudaku mulai terseok mengikutiku

Kaki depannya yang sebelah kanan tertembak musuh tepat di lututnya

Tapi aku tak boleh kasihan

Bagaimanapun dia adalah kendaraan utamaku

Yang akan mengantarkanku menuju kemenangan

Aku sudah bosan dengan peperangan ini

Setiap hari hanya mengayun pedang dan menarik  pelatuk

Hasilnya….?

Tak ada seorangpun musuh yang tumbang atau menyerah

Beruntung aku tidak pernah tertembak

Sobekan kecil yang dulu pernah kuterima di lengan kiri

Belum mampu untuk maenghentikan perjuanganku

Tiba-tiba kulihat musuh berkelebat dengan cepat di hadapanku

Seakan mereka bertambah banyak dengan serempak

Huh.. ini hanya ilusi, pikirku Oh, ternyata bukan …!

Musuhku memang bertambah banyak

Oh… tidak… ternyata mereka yang pedang dan pistolnya sudah kuhancurkan

Sekarang bangun lagi dengan pedang dan pistol yang sama sekali baru

Kelihatannya lebih berbahaya…..

Secepat kilat mereka menyambarku dengan ayunan pedang

Aku yang tak mampu memprediksi gerakannya

Terluka di bawah tulang igaku

Tepat mengenai organ yang kugunakan menawarkan racun dalam tubuhku

Apa boleh buat

Kelihatannya aku harus sedikit mundur dari medan laga

Memberikan sedikit waktu untuk kuda dan aku untuk menyembuhkan luka

Tidak perlulah aku harus berada di garis depan

Lagipula panglima-panglima muda itu mulai lihai mengayun pedang

Kelihatannya mereka juga menyimpan senjata rahasia di balik bajunya

Jadi aku tak perlu khawatir tentang kelanjutan peperangan

Aku yakin mereka lebih cerdik dariku

Aku yakin mereka lebih kuat dariku

Aku juga melihat mereka memakai baju lapis baja keluaran terbaru

Apalagi kalau melihat apa yang tergantung di perut kudanya

Kalu tidak salah, dari belakang sini aku melihat sebuah bazooka

Ataukah peluncur roket, ah.. per-malaikat lah

Yang penting itu menambah keyakinanku akan akhir dari peperangan ini

7 Responses to “Perang, Panglima Muda”


  1. 1 hasna September 17, 2007 at 5:18 am

    bikin puisi nih…tumben….???

  2. 2 Nyonya FArid September 17, 2007 at 1:34 pm

    kayaknya pengunjungnya orang itu itu aja ya?
    *lirik lirik*

    :mrgreen:

  3. 3 dodo September 18, 2007 at 7:01 pm

    Nyonya FArid >>
    dengan kamu komen di sana-sini sama aja dong. Tapi gpp soalnya ya cuman 1 orang itu yan kukasih tahu alamtku

  4. 4 Mrs. Neo Forty-Nine September 25, 2007 at 1:33 am

    beneran, cuma 1 orang yang dikasi tahu alamatnya?
    :mrgreen:

    trus, aku ini taunya dari mana donk?
    ilmu gaib?

  5. 5 dodo September 25, 2007 at 7:47 am

    Mrs. Neo Forty-Nine
    Kamu kan lihat sendiri pas aku OL di sanggar..!

  6. 6 scouteng October 6, 2007 at 3:10 pm

    yang bener nech cuma orang itu? ah masa?

  7. 7 dodo October 6, 2007 at 7:24 pm

    scouteng >>
    kalo sekarang ya udah banyak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: