Gondrong adalah Idealisme

Nongkrong di warkop sendirian. Walaupun banyakorang di sini tapi tak satupun yang kukenal.
Melihat pemuda gondrong lewat di depanku, hebat. dia bisa mempertahankan kegondrongannya itu. Berdasarkan pengalaman, bukan hal yang mudah untuk mempertahankan itu. Orangtua, kakek, nenek, teman, dan masih banyak orang lagi orang di sekitar kita yang yang tidak setuju. Bahkan ada salah seorang teman saya yang rela tidak ikut UAS demi rambutnya. Keren kan?

Memang, menjadi gondrong itu harus keras kepala dan tebal telinga. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain.

Mungkin boleh lah gondrong itu dikatakan aalah idealisme…

Mau Makan Apa? Terserah!

Sejak meninggalkan dunia perkuliahan beberapa tahun yang lalu nggak tau kenapa saya jadi seneng dolan (adventuring). Mulai dari daerah-daerah yang dekat. Seperti, mengenal beberapa kota besar di jawa dan gunung-gunungnya.

Pengalaman pertama keluar dari pulau jawa sih sebenarnya sudah lama. Tepatnya ketika SMA saya mengadakan wisata ke pulau bali. Baru tau ternyata naik kapal itu asyik sekali. Lebih asyik lagi ketika tahu tentang daerah baru. Pengalaman kedua ketika semester satu perkuliahan. Ketika diajak senior jalan-jalan ke bangkalan di pulau madura. Walaupun kata orang madura itu pemandanganya nggak bagus tapi tetep saja saya seneng. Tidak lain karena madura adalah tempat baru, suasana baru bagi saya.

Mungkin itulah awal dari kebiasaan dolan saya. Selalu menemukan suasana baru ternyata hal yang menakjubkan. Rasanya sama seperti ketika seorang ayah melihat bayinya bisa jalan untuk pertama kali (mungkin) :mrgreen:

Setelah dunia kuliah benar-benar saya tinggalkan samakin menjadi lah kesukaan dolan saya. Nggak jauh-jauh sih, cuma di nusantara kok.

Maka dari itu, suatu anugrah yang tak terkira, ketika kali ini saya dipercaya untuk mengemban misi ke pulau ende, cieeh…sok keren. Salah satu lembaga sosial di surabaya yang memberangkatkan saya. Makasih ya…

Nambah satu daerah dan suasana baru lagi deh yang akan saya dapatkan. Apapun itu pasti ada pelajaran di baliknya.

Pemberangkatan saya kali ini tidak lepas dari permintaan salah satu sekolah yang ada di pulau ende. Sekolah itu memohon bantuan lembaga amil zakat yang ada di surabaya untuk merahabilitasi bangunannya yang hancur. Otomatis salah satu tugas saya adalah memastikan bantuan itu benar-benar tepat. Tugas lainnya adalah mendapatkan data primer (data langsung dari yang bersangkutan) tentang keadaan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat setempat. Untuk mempermudah pelaksanaan program itu saya dibekali dengan 2 bundel quesioner. Masing-masing 5 halaman.

Tapi ternyata ada beberapa hal yang agak mengganjal di hati saya, terkait dengan pemberangkatan ini.

Pertama, ternyata saya diberangkatkan sendirian. Oops, keren juga sih berangkat sendirian. Tapi tetep ada sisi khawatir yang muncul.

Ketika mencoba membayangkan aktivitas apa saja yang akan saya lakukan di sana nanti. Mulai datang pertama kali saya harus mencari penghubung saya di sana. harapan saya sih penghubung ini sudah siap segala hal yang akan saya butuhkan. Bukan sekedar orang yang lebih tahu lokasi daripada saya. Tapi memang benar-benar orang yang dipersiapkan untuk mencukupi kebutuhan awal saya selama di pulau ende.

Kemudian tentu saya tidak bekerja sendirian di sana. Saya harus mencari orang-orang tambahan. Bukan hal yang mudah mencari tenaga baru bermodalkan pandangan sekilas. Risikonya mulai dari kompetensi yang tidak mencukupi sampai dengan kemungkinan saya “diakali”.

Ada lagi yaitu tentang rutinitas harian. Malam hari saya harus menyiapkan bahan briefing besok hari. Agar pelaksanaan kegiatan berjalan efektif dan efisien. Trus briefingnya, mengoordinasikan beberapa orang yang baru saja saya kenal. Tentunya mereka tidak mau bekerja tanpa arahan yang jelas. Padahal saya sendiri juga belum mendapatkan arahan yang jelas tentang program ini.  Jadi pasti saya harus membuat “guide line” dulu untuk mereka.Dan juga menyediakan peralatan bagi mereka, motor, alat tulis, kamera, dan pulsa handphone.

Jika dikerjakan sendirian, wow…superman….

Saya harus ngecek secara berkala aktivitas mereka, siang hari, dan sorenya mereka membuat laporan harian. Entry data, trus saya membuat laporan ke pusat untuk diolah.

Untuk melakukan semua kegiatan di atas muncul beberapa piranti yang harus saya operasikan. Diantaranya laptop, handphone, kamera, dan motor untuk mobilisasi.

Jika dikerjakan sendirian, wow…superman….

Belum lagi kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sakit mungkin, saya bisa curhat ke siapa kira-kira kalau sedang gak enak badan?(sok mellow nih…). Kecelakaan mungkin, gangguan keamanan baik diri maupun barang-barang saya, keselamatan kerja, dan masih banyak hal lain yang tidak diprediksi dan dibicarakan sebelumnya. Karena di lapangan impossible is nothing and anything is possible!.

Alangkah menyenangkannya jika saya mempunyai partner yang berangkat dari surabaya.

Kita nanti bisa membagi tanggung jawab jadi tidak terlalu berat tugas yang diemban masing-masing. Bisa saling mengingatkan kalau ada hal-hal yang mungkin menyimpang. Bisa saling menjaga baik diri maupun barang-barang. Dan yang paling menyenangkan adalah ada teman untuk berbagi segala hal (curhat; red).:mrgreen:

Kedua, kembali lagi tentang quesioner. Dari hasil saya membaca sekilas, rupanya lengkap sekali ya data yang diambil! Memang sih idealnya seperti itu, lengkap dan mencakup segala hal. Tapi bagi saya kok malah seperti mengadakan sensus lagi, menyaingi pemerintah?

Bukan maksud saya malas mengerjakan itu. Tapi apa sih salahnya menantisipasi risiko yang mungkin akan terjadi?

Bagi kita mungkin mereka sangat butuh bantuan karena berada di bawah standar sejahtera dan lain-lain. Masalahnya apakah mereka juga merasa seperti itu. Sekali lagi, merasa! Bukan faktanya.

Bayangkan saja ketika nanti dilakukan wawancara terkait quesionar yang saya bawa. Kira-kira apa yang akan mereka pikirkan? Kekhawatiran saya sih jangan-jangan mereka sudah sering banget ditanyain hal-hal seperti itu, tapi belum pernah ada realisasinya. Atau mungkin antara data dan realisasi perbandingannya terlalu jauh.

Belum lagi kalau pertanyaan-pertanyaan kita nanti terasa terlalu privasi bagi mereka.

Tentu hal itu dapat menimbulkan rasa kurang simpatik dari masyarakat setempat.

Jadi menurut saya perlu ada penyerderhanaan . Mungkin cukup data-data yang memang akan kita eksekusi saja. Agar pekerjaan tetep efektif dan efisien. Apalagi ini bukan di jawa yang kebiasaan dan kultur masyarakatnya sedikit banyak telah kita ketahui. Ini di nusa tenggara timur man! Kecamatan ende, satu pulau satu kecamatan. Sangat berbeda dengan sumatera barat yang beberapa waktu lalu kita kunjungi. Baik itu dari kemajuan kebudayaan maupun kebiasaan masyarakatnya.

Di sumbar saja yang sebenarnya masih mirip dengan jawa dapat dikatakan kita kurang berhasil (kalau menilik dari target yang pernah saya dengar). Padahal di situ adalah lokasi bencana, yang masyarakatnya jelas-jelas merasa butuh bantuan. Tapi apa yang kita hadapi di sana sungguh di luar perkiraan kan? Mulai dari -mohon maaf- agak apatisnya masyarakat setempat dengan kehadiran kita sampai sulitnya mencari relawan lokal yang dapat kita berdayakan.

Tidak bisa dipungkiri ini salah satunya karena kita tidak paham bagaimana kultur masyarakat setempat, pada awalnya. Kemudian diperparah dengan ketidaksiapan kita tentang program yang akan kita eksekusi. Jadinya pada minggu-minggu awal, kami yang di lapangan merasa kesulitan ketika diminta data, data, dan data. Yang dibutuhkan itu data apa? Padahal, kami yang di lapangan belum mendapat kepastian program apa yang akan dieksekusi.

Sebagai kaum yang berfikir tentu kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lakukan. Jangan sampai hal-hal seperti itu terjadi lagi.

Ketiga, saya tidak ingin lembaga kita mendapatkan kesan bahwa memberangkatkan saya itu ribet. Saya hanya berusaha memberikan masukan terbaik. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya terjun di lapangan. Dengan harapan lembaga kita ini semakin maju, amanah, dan profesional.

Nah, kata terakhir paragraf di atas lah yang sedikit ingin saya ungkapkan. Mohon maaf jika agak vulgar. Ada 3 kata kunci yang perlu dicermati dalam definisi versi wikipedia itu, protokol/peraturan, gaji, dan ahli.

Protokol, dalam hal ini harus sesuai. Harus ada prosedur operasi standarnya dalam setiap hal aktivitas kita. Agar parameter profesional di sini jelas. Jangan sampai aktivitas kita itu “asal jalan” tanpa target yang jelas. Nah, nentukan target itu sepengetahuan saya harus SMART.

S, yaitu specific. Jadi bukan target umum dan bias.

M, yaitu maesurable atau terukur. Jadi targetnya itu dapat diukur, berhasil atau tidak. Keberhasilannya berapa persen dan seterusnya.

A, yaitu achievable atau dapat dicapai. Jadi targetnya realistis. Disesuaikan dengan resource yang ada baik itu dari segi dana maupun smber daya manusianya. Jangan sampai kita menetukan target selangit – dengan harapan pelaksana di lapangan lebih semangat dengan target tinggi- tapi ternyata sebenarnya sudah menyadari bahwa tidak akan tercapai.

R, yaitu reasonable atau beralasan. Jadi target itu memang benar-benar pantas dan layak kita lakukan. Jangan sampai pas di lapangan nanti ternyata sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan. Mungkin karena sudah ada lembaga lain yang melakukan atau malah sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi.

T, yaitu time line atau ada batasan waktunya. Hubungannya adalah dengan perencanaan. Kalau batasan waktunya tidak ada tentu akan susah membuat perencanaan. Padahal kata pepatah gagal merencanakan adalah merencanakan kegagalan. Setuju kan?

Saya yakin rekan-rekan sudah tahu tentang hal ini. Saya hanya mencoba mengingatkan kembali. Barangkali ada yang terlupa…..

Selanjutnya adalah gaji. Mungkin agak vulgar kalau dibicarakan di lembaga sosial. Tapi tidak dapat dipungkiri kepastian gaji itu berhubungan langsung dengan keikhlasan lo. Gak percaya? Coba saja kalau kita disuruh bekerja tapi tidak dikasih kepastian mendapat gaji berapa. Atau yang lebih ekstrim, digaji atau tidak. Tentu saat bekerja kita akan kepikiran hal itu. Terlepas dari status kita itu pekerja sosial atau bukan. Kalau sudah kepikiran tentu kerja tidak maksimal da bahasa kerennya tidak ikhlas. Nah, bahaya kan?

Dalam menentukan besaran gaji masing-masing lembaga punya standar sendiri-sendiri tentunya. Standar manajer berapa, standar runner berapa, dan seterusnya. Tapi ada standar baku yaitu harus seimbang dengan tanggung jawab yang diembankan kepada pekerja. Juga seimbang dengan risiko yang akan dihadapi. Baik risiko keselamatan jiwa saat perjalanan, di lokasi, maupun risiko kenyamanan bekerja.

Hal-hal yang saya ungkapkan di atas mungkin sianggap lebay bagi beberapa orang. Tapi sekali lagi impossible is nothing and anything is possible!.

Ribet ya saya ternyata! Maaf…maaf….:)

Kalo gak salah dulu waktu musa diutus Tuhan, beliau merasa keberatan kalau sendirian. Beliau minta teman, kalau gak salah harun temannya itu. Begitupun muhammad, beliau diutus dilengkapi dengan sahabat-sahabat yang luar biasa. Dari dua hal di atas secara serampangan saya simpulkan bahwa Tuhan itu menyukai kerja tim. Bener gak?

Kemudian apa hubungannya denga judul di atas? Critanya sore tadi saya ngajak teman saya buat makan. Naek motor berboncengan, saya yang di depan. Sampai di pertigaan sakinah, keputih, saya tanya teman. Mau makan apa? Trus dijawab dengan tegas, terserah! Maka serta merta langsung saya injak pedal rem. Berhenti bingung mau memilih jalan mana yang harus saya ambil. Sambil mengira-ngira makanan apa yang sesuai dengan lidah, perut, dan kantong teman saya.

Coba bayangkan, kalau saya berangkat ke pulau ende itu sambil mengira-ngira program apa yang sesuai dengan lidah, perut, dan kantong lembaga yang mengirim saya. Berhenti, mungkin saja….

(jangan-jangan setelah ini saya bisa kena pasal pencemaran nama baik nih)

G 30 S

Beberapa hal unik yang aku temui setelah berkunjung ke Padang
- ndengerin orang2nya ngomong kayak nonton suami2 takut istri, lucu.
- 30 menit pertama jalan2 keliling kota padang kayak gak ada bencana
- lyn (mikrolet) disini kayak jualan cutting sticker
- satu2nya kota yang gak ada rumah makan padangnya di indonesia (mungkin)
- nam daerahnya lucu2, ex: VII (tuju) koto, 2 x 11 (dua kali sebelas) enam lingkung sicincin.

sementara itu dule deh. Maaf gak bisa posting banyak2. kemampuan dan kemauan menulis sudah hampir hilang (padahal dulu juga gak pernah tinggi) he..he…

Habis Minum Martini 3 Gelas

Setelah setahun lebih tidak bersentuhan dengan peralatan selem-menyelam, kemarin tanggal 22 akhirnya terjadi juga. He..he.. maklum lah, saya hidup di desa. Jauh dari peradaban gituan. Jadi kalo pengen nyelam ya harus melakukan perjuangan berat… banget. Mulai dari nabung jauh-jauh hari, nyiapin waktu luang yang panjang trus tentu harus siap mengorbankan banyak acara yang lain. Bukan karena saya sibuk tapi karena ya itu tadi, rumah saya pelosok. Kalo mau nyelam, perjalanannya aja bisa sampai 10 jam. Nah lo, apa gak puyeng pas pulangnya tuh. Jadi sesampai dirumah masih harus nambah istirahat lagi. Jadinya waktu yang diperlukan bisa lebih lama 2 hari dari orang lain.. he.he..

Yang jelas saya tidak akan bercerita bagaimana persiapan saya. Bukan apa-apa, cuma saya juga bingung emang persiapan saya itu apa. Jadi saya cerita saja tentang hal lain. Walaupun sekarang masih terasa pusing kepala ini.

Jadi ceritanya jumat kemaren tanggal 22 saya berangkat ke pantai pasir putih di bagian timur pulau jawa itu. Sebelumnya transit dulu di kota para buaya buat ngecharge perut dan kantong :D .

Nggak sempat istirahat lama setelah kena bus lag langsung deh nyebur ke laut sambil masangin berbagai perkakas kehidupan di bawah air. Ribet juga ternyata setelah setahun gak berhubungan. Agak kikuk tapi alhamdulillah tetep lancar. First dive 18 meter, fuih keren…sampai dengkul lecet semua gara-gara nggak bisa ngimbangin badan ni. Sampai di perahu lagi 30 menit kemudian. Masih seger….

Sorenya lagi, second dive 22 meter. Sambil disuruh nglepasin tali-tali yang dipake jalur penyelaman. Keren juga sih, bulu babi, bintang laut, nemo, dan macem-macem lah. Sayang sekali saya gak sempat kenalan jadi ya nggak tahu siapa namanya yang lain. Juga cuma 40 menitan, cuma foto-foto yang banyak dilakukan di bawah.

Sampai di darat lagi baru terasa deh. Puyeng….badan limbung….mual…. Wah, susah dideskripsikan. Sampe sekarang masih terasa…. katanya sih kena NN alias Nitrogen Narcosis gitu, kayak habis minum martini 3 gelas…

Gamang

Hari-hari terakhir in banyak sekali kegiatanku. Tapi sayangnya juga banyak yang gak jelas. banyakan maennya. Tidak sesuai dengan target sama sekali
Gak tau lah, bingung. Untuk sementara yang penting berkegiatan yang positif aja lah.

Solusi Ngawur Soal Pramuka Smada Ngawi

kemarin habis ikut acara pelantikan bantaranya adek2 pramua smada. mmmm………sedikit ada kecewa ketika tahu
cuma 7 oarang yang jadi peserta pelantikan bantara (5pa, 2pi) tapi apalah arti
kecewa jika tanpa solusi.

ngobrol dengan beberapa adek ambalan sama sekali tidak tampak kegusaran di mata
mereka tentang sedikitnya anggota. malah enjoy mungkin, karena bisa lebih
intensif ngajarinnya (analisis ngawur dariku).

NGawur lagi….
dengan semakin banyaknya ekstrakurikuler yang ada di smada menjadikan semakin
banyak alasan untuk meninggalkan pramuka. Jadi sangat wajar kalo anggota semakin
sedikit. Otomatis persaingan semakin ketat untuk rebutan calon anggota,
khususnya kelas 10. Sayangnya persaingan ini tidak diikuti oleh adek2 kita di
ambalan. jadi sepertinya mereka cuma nunggu turahan, nunggu dapet hidayah
kale…baru masuk pramuka

Masih ngawur….
usaha konkrit untuk membuat pramuka (smada) menarik belum ada. Yang ada cuma
mengulang kebiasan2 kita sejak ratusan tahun lalu, salah satu contoh nyata
ketika ada penempuhan poin SKU. Kaget banget ternyata pertanyaan2nya masih sama
kayak saya dulu nempuh untuk poin yang sama. Luar biasa….. betapa hebatnya
yang njaga tradisi itu..

Uneg-unegnya sudah….

Sekarang solusi ngawur….
Permalaikatlah dengan semua yang telah dilakukan orang terdahulu. Sekarang hapus
semua arsip kalo perlu, stop cerita tentang masa lalu, hentikan nostalgia
kegiatan di smada. trus gimana..?

Biarkan adek2 mempersepsikan sendiri apa itu pramuka. hingga dengan pemahaman
mereka sendiri mereka bisa bertindak sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.
Lalu..?

Sambil terus kita pantau dan berikan bimbingan jika mereka meminta.

Brikan juga sedikit stimulus bahwa kegiatan itu haru menyenangkan. jadi jangan
lakukan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kalo nempuh SKU tidak menyenangkan ya
gak usah nempuh aja, so? Buat hal yang menyenangkan dong….

Yang menyenangkan itu gimana?

ya yang tahu ya yang nglakuin, bagi saya njailin orang itu menyenangkan tapi
belum tentu bagi mas achoy atau yang lain. maka jelas yang lebih tahu apa/gmn
yang menyengkan bagi adek2, yang tahu ya adek2 sendiri.

Apakah kita tidak boleh ngasih masukan?

ya boleh aja…. tapi kalo bisa mending gak usah daripada ntar mereka ngrasa
seperti diawasi. Efeknya ntar jadi takut melukakn sesuatu, takut salah, yang
akhirnya bakalan ditegur sama alumni, takut soalnya teguran itu dianggap sebagai
nyalahin.

Ruwet kan?

Jelas, ruwet banget kalo cuma diomongin… tapi akan lebih gampang kalo
dilakuin.

Nah sekarang sudah jelas, kapan semua yang kita omongkan disini itu kita
lakukan?

mohon doa temen2 smua, smoga jualan yang disanggar bisa tambah besar akhirnya
bisa nyangga kebutuhan dana di sanggar. Amin

Senangnya Hidup di Desa

Kira-kira sudah 7 bulan ini saya meninggalkan dunia perkuliahan. Mencoba cari penghidupan di desa ceritanya. Bukan karena terpaksa tapi memang berkeinginan seperti itu.
Berbekal ilmu yang sudah didapat selama lebih dari lima tahun di kota besar, saya mencoba menerapkan di kampung halaman saya tercinta, desa ngale, kecamatan paron, kabupaten ngawi, jawa timur.
Tentunya dengan penuh kepercayaan diri saya menjalani hari-hari saya di desa. Minggu-minggu awal cukup menikmati hari di rumah saja sambil melakukan pengamatan. Mencoba mempelajari harus saya mulai dari mana saya bergerak untuk desa ini.
Yak, ketemu! Dari temen cangkruk. Teman sebaya yang sering saya ajak ngobrol tentang kondisi desa tercinta ini. Awalnya sih memang berat banget mau ngajak ngobrol yang sedikit “berat”. Tapi sedikit demi sedikit keluar juga apa yang sebenarnya ada di benak mereka.
Semakin sering ngumpul akhirnya terbentuklah organisasinya. Muncullah yang namanya karang taruna, organisasi yang sudah lebih dari 5 tahun gak ada actionnya. Dan jadilah saya sebagai ketuanya.
Bagaimanakah selanjutnya..? Ikuti episode selanjutnya
(semoga bisa menyempatkan diri)

Bosan Cari Kerja

Dulu, sewaktu saya masih kuliah, saya nekaaaat cuti satu semester buat membikin suatu usaha. Pada awal mau cuti belum kebayang sebenarnya mau usaha apa. Pokoknya bikin usaha yang menghasilkan duit.

Berhubung waktunya cuti sudah dijalanin, mau gak mau harus ada kegiatan konkret nih. Berpikir sejenak akhirnya teringat impian saya waktu masih semester 4. Bikin laundry. Ya, laundry. Usaha yang gak bakal ada matinya, menurut saya.

Semakin lama manusia akan semakin mencari kepraktisan. Apalagi masyarakat perkotaan. Semakin sempitnya rumah tinggal, besar kemungkinan mereka tidak punya jemuran. Kalaupun punya, belum tentu mereka sempat untuk mencuci baju yang memakan waktu kurang lebih 2 jam. Ditambah lagi waktu pengeringan yang lama juga. Padahal jika mereka pegawai kantoran, waktunya sudah banyak habis untuk bekerja dan di jalan.

Maka, pilihan yang tepat untuk baju kotor jelas, laundry. Tinggal siapkan beberapa ribu, anter ke tempat laundry-an ato cukup sms, ambil pas pulang kerja sudah bersih, rapi, dan wangi.

Sebenarnya bisa juga dengan mempunyai mesin cuci dan mesin pengering sendiri. Tapi jelas dibutuhkan biaya yang terlalu besar untuk kapasitas cucian rumah tangga. Belum lagi harus ditungguin prosesnya, berarti butuh operatornya. Hem.. repot kan?

Hal seperti itu sedikit banyak mirip juga dengan dunia perkuliahan. Cuma bedanya, anak kost lebih disebabkan karena kemalasan.

Ok, kembali lagi ke topik. Dengan ide saya yang seperti itu, banyak yang menghalang-halangi niat saya. Atau paling tidak menyayangkan langkah yang saya ambil waktu itu.

Berbagai saran dan nasihat saya dapatkan. Tapi tidak sedikitpun mengubah niatku.

Waktu itu banyak yang bilang kalau pengorbanan saya terlau besar. Mengorbankan kuliah untuk membuat usaha. Berhubung waktu cuti sudah berjalan, mau tidak mau saya harus segera memulai usaha itu.

Dari mana saya mendapatkan modal? Mungkin waktu itu uang 100 ribu saja saya tidak punya. Padahal untuk memulai usaha laundry tentu butuh jutaan bahkan mungkin puluhan juta.

Saya putuskan untuk minta tolong sama teman-teman saya, barangkali ada yang mau minjemin dulu. Hasilnya nihil. Hampir satu bulan menganggur, akhirnya ada titik terang. Kakak perempuan saya menawari pinjaman. Tapi dari bank, dengan bunga sekian dan cicilan perbulan sekian. Langsung saja saya sanggupi. Walaupun belum tahu harus seperti apa ntar. Kalo kebanyakan orang memulai usahah dari nol, saya memulai dari minus. Hutang bank 15 juta plus bunganya, dicicil perbulan selama 2 tahun.

Oleh kakak saya ditanyain tentang prospeknya gimana? Kujawab dengan singkat dan meyakinkan. Selalu ada pasar untuk apa saja. Seperti kata Mikael Beckmen bintang film porno amerika serikat.

Continue reading ‘Bosan Cari Kerja’

Yawudah….

Tiap jam cuma kepikiran satu hal….

Hm… ternyata ada susahnya juga ya

Nggak semua yang dibayangkan bisa diwujudkan

Aneh,

Cuma beberapa menit kok

Tapi kok seratus delapan puluh derajat bedanya

Segampang itukah?

Beberapa menit lagi berubah lagi

Hm… dasar..!!!

Biarlah, terserah, Ya udah.

Sumpah Pemuda Komunitas Merdeka

Mending telat lah daripada nggak sama sekali.

Ceritanya nih saya dapat tugas buat mubliksikan acara peringatan sumpah pemuda oleh komunitas merdeka. Acaranya pas tanggal 28 oktober kemaren di alun-alun ngawi. Cukup menarik dengan kemasan sederhana dan original. Dengan mengundang tonti (peleton inti) -pasukan pengibar bendera sma 2 ngawi- sebagai pasukan pembawa bendera keliling alun-alun. Diselingi dengan sedikit aksi teatrikal. Aksi tetrikal ini dilakukan di tiga titik sekitar alun-alun, yaitu di bunderan meriam, bunderan depan dprd, dan satu lagi di depan paseban kabupaten ngawi. Hujan yang turun ruintik-rintik menambah heroik suasana namun tidak mengurangi semangat para pelaku untuk meneruskan acara.

Cukup menggugah dikala banyak orang sudah melupakan arti sumpah pemuda. Kala hampir tidak ada lagi yang memperingatinya, komunitas merdeka hadir dengan keoriginalan ide untuk peringatan sumpah pemuda ini.

Ketika menonton acara itu saya sempat muncul pertanyaan. Kenapa yang memperingati sumpah pemuda hanya segelintir orang ini? Tidak adakah orang/pemuda/i lain? Selanjutnya, apakah dengan cara seperti ini memperingati sumpah pemuda? Adakah cara lain yang lebih “baik”?

Jawabannya ada di hati nurani kita masing-masing. Mari momen ini kita gunakan sebaik-baiknya untuk selalu berproses menjadi lebih baik.

Next Page »